LCGC Diharapkan Penuhi Permintaan Ekspor - Program Mobil Murah Ramah Lingkungan

NERACA

Jakarta - Tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap sektor otomotif membuat Pemerintah bekerja keras untuk mengembangkan program mobil nasional untuk segera terwujud. Salah satunya adalah mobil murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC).

Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (IUBTT Kemenperin) Budi Darmadi mengungkapkan untuk pengembangan mobil murah ramah lingkungan harus melalui riset tepat guna dan memakai teknologi yang digunakan di dalamnya tidak dibatasi. Karena dengan begitu, diharapkan LCGC produksi Indonesia diharapkan bisa memenuhi permintaan pasar ekspor.

Lebih jauh lagi Budi memaparkan dalam dunia otomotif, semakin aman dan modern teknologi yang digunakan, maka semakin mahal. Kenapa mercedes mahal? Karena airbagnya ada tujuh, sedangkan merek yang lainnya hanya menyediakan dua airbag. Filosofi itu berarti, teknologi ada ongkosnya. Makanya teknologi jangan dibatasi. Makanya, tidak membatasi, karena kalau dibatasi dan misalnya ada pesanan dari Thailand dengan permintaan teknologi tertentu, maka tidak bisa supply. LCGC tidak hanya untuk pasar dalam negeri tapi juga untuk ekspor, menyasar 70 negara,\" kata Budi saat dihubungi Neraca, Selasa.

Untuk itu, Budi menjelaskan konsep LCGC dimaksudkan agar biaya produksinya bisa lebih murah, dan selain itu, industri komponen otomotif dengan sendirinya juga akan berkembang, sehingga tidak perlu bergantung pada komponen impor. \"Tapi, jangan terbelenggu harga murah tapi kualitasnya jelek,\" ujar dia.

Budi mengatakan hingga saat ini, regulasi terkait LCGC ini masih dalam tahap harmonisasi dengan Kementerian-kementerian terkait. Ada pun, merek otomotif yang secara resmi sudah menyatakan kesiapan untuk mengembangkan LCGC ini antara lain Daihatsu dan Toyota dengan target produksi LCGC sekitar 55 ribu unit. Sedangkan merek lain yang menyatakan berminat antara lain Honda, Suzuki dan Nissan.

Kalau kelima produsen itu misalnya bisa menghasilkan 50 ribu unit LCGC, maka berarti produksi total kelimanya bisa mencapai 250 ribu unit. Tapi ini tergantung kapasitas produksi masing-masing produsen. Bahkan, jika permintaan LCGC nanti tinggi, bisa mencapai 300 ribu sampai 600 ribu unit.

\"Sayangnya pabriknya belum jadi, yang baru jadi pabriknya Daihatsu dan Toyota. Saya optimistis, kita bisa mengalahkan Thailand. Barang Indonesia bagus. Produsen Daihatsu dan Toyota sejak Februari sudah menyatakan kesiapannya,\" tandasnya.

Untungkan Produsen

Sebelumnya, sejumlah kalangan menilai dukungan pemerintah dalam pengembangan mobil murah dan ramah lingkungan hanya menguntungkan segelintir pelaku industri otomotif, sedangkan dampak negatifnya akan lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Dewa Yuniardi, Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi Asosiasi Industri Automotive Nusantara (Asia Nusa), menuturkan fasilitas diskon pajak atas kendaraan bermotor sangat bagus pengaruhnya terhadap sektor industri otomotif.

Insentif fiskal itu dinilai akan mampu menekan harga jual kendaraan sehingga mendongkrak penjualan dan merangsang produsen otomotif dunia semakin giat investasi di Tanah Air. “Tapi dari sisi kondisi dan situasi Indonesia perlu dikaji kembali, apakah cocok mobil dikategorikan bukan barang mewah? Selama ini hanya kendaraan transportasi umum yang dikecualikan sebagai barang mewah,” ujarnya.

Kritik Dewa itu diarahkan kepada pemerintah yang mendorong pengembangan mobil murah dan ramah lingkungan di Indonesia melalui fasilitas diskon pajak penjualan atas barang meweah (PPnBM).

Pemerintah dinilai kurang berpikir panjang akan dampak negative yang akan muncul kelak, seperti meningkatnya kemacetan, membengkaknya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, serta besarnya potensi penerimaan negara dari pajak yang akan hilang. “Selama ini tanpa insentif yang besar sekalipun, mobil dengan harga setinggi apapun relatif terserap oleh pasar. Kenapa harus dikasih insentif lagi,” tanya Dewa.

Sebaiknya, lanjut Dewa, pemerintah lebih fokus pada penyelesaian masalah subsidi energi yang terus membengkak setiap tahunnya ketimbang mencari solusi pengurangan emisi karbon dengan cara yang keliru.“Saat ini sekitar 75 juta kendaraan yang berkeliaran tanpa kontrol yang ketat. Dari sisi polusi, dengan adanya LCGC, maka akan bertambah. Sama saja dengan menabur garam di laut,” cetusnya.

Related posts