Tingkatkan Produksi, JAWA Akuisisi Lahan 30 Hektar - Investasi Sekitar Rp 50 Miliar

NERACA

Jakarta – Meskipun sektor komoditas belum menunjukkan pemulihan berarti, tidak membuat ekspansi bisnis PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) juga ikut tertunda. Sebaliknya, perseroan berencana memperluas lahan untuk meningkatkan produksi Crude Palm Oil (CPO).

Direktur Keuangan JAWA Bambang S. Ibrahim mengatakan, saat ini perseroan tengah mengincar lahan seluas 30 hektar di wilayah Sulawesi Tengah. Perseroan telah menyiapkan investasi sebesar Rp 50 miliar untuk mengakuisisi lahan tersebut, “katanya di Jakarta, Senin (3/6).

Dia menuturkan, nantinya luas lahan itu akan ditanam karet dan sawit yang menjadi fokus inti bisnis perseroan. Disampaikannya, akuisisi lahan yang di Kalimantan Selatan tidak jadi dan gantinya, perseroan tetap mencari lahan di Sulawesi. Kabarnya, tengah dalam proses dan memperhatikan mengenai izin atau pemilik lahan.

Lanjut Bambang, besaran investasi untuk akusisi lahan tersebut diambil dari dana belanja modal perseroan atau Capital Expenditure (Capex) tahun ini sebesar Rp 570 miliar. Capex itu berasal dari internal kas perseroan, hasil dana IPO, dan pinjaman perbankan.

Dia menjelaskan, awalnya perseroan telah mengincar lahan seluas 13 hektar di wilayah Kalimantan Selatan, dan 17 hektar di Sulawesi Tengah. Namun, karena kondisi lahan di Kalsel tidak sesuai dengan yang ditargetkan maka akuisisi dialihkan semuanya ke wilayah Sulteng seluas 30 hektar.\"Nilainya berapa pun sepanjang harganya feasible dan lokasinya baik akan kita ambil. Yang Kalsel itu setelah kita tinjau lokasinya ada beberapa lokasi yang tidak baik, curam dan ketinggian lebih dari 300 meter dan ada lahan gambutnya jadi kita nggak jadi akuisisi lahan tersebut,”ujarnya.

Saat ini, total lahan milik perseroan sebesar 75 ribu hektar dari besaran lahan itu, perseroan masih punya land bank sebesar 30 hektar. Disamping itu, perseroan juga menargetkan bisa punya lahan tertanam sebesar 80 ribu hektar hingga 8 tahun ke depan. Saat ini, perseroan baru punya 13 ribu hektar lahan karet dan 23 ribu hektar lahan sawit, “Kita akan tambah dengan akuisisi 30 hektar ini. Targetnya bisa selesai tahun ini,”tegasnya.

Bagikan Dividen

Kemudian hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) menyetujui untuk membagikan keuntungan atau dividen kepada para pemegang saham sebesar Rp 45.146.748.524 atau 30% dari laba bersih perseroan 2012 sebesar Rp 150 miliar. Jumlah saham tersebut setara dengan Rp 11,96 per lembar saham.

Sebesar Rp 7.524.458.087 atau 5% dari laba bersih akan disisihkan sebagai dana cadangan, sedangkan sisa laba bersih sejumlah Rp 97.817.955.136 akan dibukukan sebagai laba ditahan untuk memperkuat modal perseroan. Selain, RUPST juga menerima pengunduran diri Machfud Ashari selaku Direktur Produksi dan mengangkat Andi Hariyanto yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pengembangan sebagai penggantinya.

Selain itu, RUPST juga menyetujui pengangkatan Rohadi sebagai Direktur Legal & GA dan Marcellinus Hendro Restanto sebagai Direktur Pengembangan. Sebagai informasi, perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan sepanjang tahun 2012 sebesar Rp 682 miliar atau naik 5% dari pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp 647 miliar.

Laba bersih setelah pajak turun 17% dari Rp 181 miliar menjadi Rp 150 miliar di 2012. Penurunan laba disebabkan karena pelemahan harga komoditas dunia yang turut menekan harga jual komoditas perseroan.

Kenaikan pendapatan bersih dikontribusi dari kenaikan volume penjualan CPO sementara jika dilihat dari sisi harga jual komoditas CPO dan karet mengalami pelemahan jika dibandingkan dengan tahun 2011.

Komoditas karet, harga jual rata-rata lebih rendah 25% menjadi Rp 30.800/kg dibandingkan Rp 41.200/kg di tahun 2011 sementara vokume penjualan meningkat 8% menjadi 10.693 ton. Komoditas CPO harga jual rata-ratanya turun 4% dari Rp 7.400/kg menjadi Rp 7.100/kg di tahun 2012 namun volume penjualannya meningkat signifikan signifikan sebesar 25% menjadi 45.357 ton. (bani)

Related posts