Saham Primadona Makin Terperosok - Dampak Indeks Tak Berkarakter

NERACA

Jakarta-Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tumbuh lebih cepat dari prediksi sebelumnya dinilai tidak memiliki karakter. Oleh karena itu, tidak heran jika pergerakan IHSG saat ini akan cenderung negatif. “Naik turun Indeks dalam satu hari perdagangan, di mana mengalami penurunan yang cukup signifikan tidak memiliki karakter. Sampai pekan ini akan cenderung negatif di kisaran 5.100-5.000.” kata analis saham dari PT Remax Capital di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia menyarankan, pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan berinvestasi di pasar saham. Pasalnya, saham-saham yang berkapitalisasi pasar besar pun yang menjadi primadona dimungkinkan rawan terkoreksi di tengah masifnya profit taking. Untuk sektor yang perlu dihindari saat ini, kata dia, yaitu sektor mining atau beberapa saham pertambangan, seperti PTBA, ITMG, dan MEDC.

Dalam kinerjanya, saham pertambangan masih dipengaruhi oleh harga komoditas yang hingga kini belum pulih, dan masih berada dalam tren negatif. Sedang untuk saham yang masih bergerak cukup positif dan dapat menjadi pertimbangan pelaku pasar antara lain sektor properti, seperti CTRA, CTRS, dan PWON.

Di tengah melemahnya IHSG, sektor properti menunjukkan kinerja positif dengan menguat sebesar 8,90%. Namun, dengan posisinya yang saat ini cukup tinggi dan bahkan memimpin pasar, pelaku pasar dapat memperhatikan sektor infrastruktur, “Kalau saat ini bisa dibilang sektor properti telah memimpin pasar dan dikhawatirkan koreksi, bisa perhatikan juga saham infrastruktur seperti WSKT dan ADHI,\" jelasnya.

Kinerja saham infrastruktur, menurut dia, masih akan mengalami penguatan terkait adanya program pemerintah untuk membangun dan meningkatkan infrastruktur. Oleh karena itu, agenda ini akan menjadi sentimen positif bagi saham-saham yang bergerak di sektor tersebut.

Dia menilai, sejauh ini pertumbuhan IHSG belum mampu menjadi sinyal cerahnya iklim investasi di Indonesia. Bahkan sampai dengan posisinya yang melewati level 5000 yang dinilai sebagai angka psikologis bagi pelaku pasar sebenarnya tidaklah riil. Artinya, tidak sesuai dengan iklim ekonomi dan investasi yang ada saat ini.

Persentase pertumbuhan ekonomi, lanjut dia, masih sebatas 6% dan investasi langsung asing (foreign direct investment) bertumbuh di kisaran 30%. Seharusnya, dengan kinerja IHSG yang cukup baik saat ini juga dapat mencerminkan kondisi perekonomian dan investasi yang lebih positif. Tidak stagnan, apalagi mengalami penurunan.\"Dengan angka tersebut seharusnya bisa bertumbuh lagi. Sistem pembangunan pun lebih maju dan agresif.\" imbuhnya.

Namun, kata dia, hingga kini sebagian besar perusahaan atau emiten yang ada di dalam bursa, seperti PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya yang masih lebih banyak melakukan pembangunan di kepulauan Jawa. Pemerintah pun belum dapat mendorong pembangunan secara merata ke daerah-daerah. Bahkan, saat ini Indonesia harus berada di tengah ketidakpastian terkait kebijakan bahan bakar minyak (BBM), plus nilai tukar rupiah yang bergerak liar. (lia)

Related posts