Kita Tangkap Sebagai Peluang

Presdir PT Sugih Energy Tbk Andhika Anindyaguna:

Kita Tangkap Sebagai Peluang

Banyak pihak masih menyanksikan langkah pemerintah dalam mempersiapkan sektor usaha kita menuju dideklarasikannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC) 2015. Jika demikian, nantinya, masyarakat Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi negara dan produk asing.

Sebetulnya, benarkah kualitas produksi Indonesia selalu kalah bersaing dengan produk luar di pasar bebas? Pertanyaan itu dijawab dengan sikap optimistis oleh kalangan usahawan muda yang terhimpun di Hipmi. Menurut mereka, kehadiran AEC 2015 adalah peluang yang harus direbut, bukan disesali.

Berikut wawancara Neraca dengan Presiden Direktur PT Sugih Energy Tbk Andhika Anindyaguna yang juga ketua umum Badan Pengurus Daerah HImpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD Hipmi) DKI Jakarta.

Masih banyak yang menyatakan kita belum siap menyongsong AEC 2015 yang juga disepakati oleh pihak Indonesia. Anda yakin, kita siap menangkap peluang itu?

Ya kita harus siap menghadapinya apapun yang terjadi. Dan kita harus optimistis dan melihat bukan sebagai hambatan tapi peluang yang harus kita rebut. Jadi itu harus kita lihat sebagai opportunity.

Apa yang harus dipersiapkan?

Kita mempunyai komposisi untuk mendukung kesiapan itu, jadi sudah ada modal dasar. Penduduk kita paling besar, market kita bahkan terbesar, natural resources kita juga sangat besar, pertumbuhan ekonomi kita juga tertinggi. Tinggal sisa waktu ini kita jangan sampai lengah, terutama di kalangan UKM. Pelaku UKM harus benar-benar menyiapkan diri.

Pasar besar dan kekayaan sumber daya alam? Bukankah itu kita hanya jadi obyek pemasaran saja?

Ya memang, kalau hanya mengandalkan pasar yang besar dan natural resources saja, ya rapuh. Sebab, kekayaan alam lama-kelamaan akan habis. Karena itu harus kita imbangi dengan efisiensi yang tinggi. Kalau kita tak mau diambil pasar dan resources kita, ya kita harus melakukan efisiensi, baik di kalangan pelaku ekonomi maupun dari pihak pemerintah. Efisiensi itu dari aspek teknologi, infrastruktur, dan birokrasi.

Kalau efisiensi itu bisa kita berikan, ya kita bisa bertahan. Negara kita akan menjadi tujuan investasi yang menjanjikan.

Ngomong-ngomong, sebetulnya apakah produk kita dapat diunggulkan?

Kalau meliat kualitas produk kita, sudah cukup baik. Kita tidak kalah. Makanya kita juga kampanyekan kepada masyarakat kita sendiri untuk mencintai produk dalam negeri dari pada menggunakan produk asing. Pasar domestik kita masih sangat luas, karena kebutuhannya sangat besar. Itu sebabnya, kita harus optimalkan kualitas dan kuantitas produk dalam negeri agar kita tidak perlu impor barang dari luar.

Untuk itu kita harus melakukan sosialisasi hingga di tingkat bawah. Kita harus bangga dengan karya sendiri hingga pihak luar pun juga suka membeli produk kita.

Selain mempersiapkan kedatangan AEC, saat ini kita sedang gonjang-ganjing dengan rencana kenaikan harga BBM bersubsidi. Seberapa besar implikasinya bagi dunia usaha?

Pasti akan berdampak. Kenaikan harga BBM besubsidi itu jelas akan mengakibatkan kenaikan harga-harga, terutama di sektor distribusi dan transportasi, sebab BBM termasuk komponen utama di sektor itu. Yang penting bagi kita adalah kepastian atas kebijakan itu. Jika tidak pasti justru akan menimbulkan gejolak di kalangan pengusaha dan masyarakat.

Kalau naik ya naik agar kita bisa menghitung dampaknya. Ketidakpastian itu juga bisa menimbulkan aksi spekulasi yaitu menimbun barang atau menjual BBM bersubsidi ke sektor usaha. Akibatnya, kelangkaan BBM di mana-mana, dan itu sangat mengganggu pergerakan ekonomi secara luas. Yang juga sangat penting adalah alokasi subsidi itu harus tepat sasaran.

Untuk apa alokasi subsidi itu baiknya?

Ya misalnya menunjang pendidikan agar makin terjangkau dan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berdaya saing. Juga untuk menunjang kesehatan masyarakat.

Ada yang lebih penting lagi menerima alokasi subsidi tersebut?

Menurut saya, lebih baik untuk membangun infrastruktur. Itu sangat membantu menunjang jalannya ekonomi nasional. (saksono)

Related posts