Perajin Cor Non Logam Terancam Bangkrut

NERACA

Sukabumi - Sejumlah pelaku usaha industri cor non logam (Non Ferro) di Kabupaten Sukabumi, terancam bangkrut. Indikasi itu terlihat dari sekitar 120 industri yang ada, kini hanya bertahan sebanyak kurang lebih 20.

Menurut Kepala Bidang Industri pada Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Sukaumi, H Jajat, penyebab utama melempemnya usaha tersebut, diakibatkan rendahnya orderan yang diterima perajin dan akibat perdagangan bebas.

Dimana, kata Jajat, produk luar khususnya China selain memiliki kuantitas, dari segi harga tegolong murah, “ Semenjak perdagangan bebas diterapkan di Indonesia, kerajinan industry logam non ferro khusunya mulai melempem. Produk China misalnya, mereka bisa menyediakan harga murah dibandingkan harga perajin lokal” sebut Jajat, didampingi Kasi Industri Logam, Aep, kemarin.

Sebelumnya, imbuh Aep, perajin non ferro hanya mengandalkan pesanan dari PLN dan PT KA,dan PU. Kini ketiga lembaga pemerintah itu, sudah mulai melirik produk asing, dengan kualitas dan kuantitas serta harga murah. Sehingga pelaku industry khususnya yang berada dsi Kabupaten Sukabumi, kehilangan objek.

Para pelaku indsutri ini, untuk mempertahankan usahanya terpaksa menciptakan kreasi sendiri. Bagi yang masih memiliki modal, lebih dominan membuat aksesorir kendaraan roda dua dan roda empat. “ Kalau tidak, sudah lama mereka gulung tikar” tandasnya.

Sebagai Pembina pelaku industri, diharapkan pemerintah pusat melalui Kementerian Perindustrian membuat terobosan baru dengan melibatkan industry kecil local sebagai mitra perusahaan, khususnya yang bergerak dalam pembuatan produk non ferro.

Pelaku industri Kabupaten Sukabumi, terang Aep, memiliki kemampuan dalam pembuatan jenis kerajinan logam. Hanya saja, ungkap dia, para perajin ini belum memiliki sertifikat dan standar ISO,

“Semua produk otomotif, dan peralatan pertanian dan lainnya, mampu di kerjakan oleh perjin kita. Hanya saja mereka tidak bisa menjadi mitra bagi perusahaan kecil karena keterbatasan administrasi seperti sertifikat, dan kebutuhan standar yang ditentukan oleh regulasi internasional” terang dia.

BERITA TERKAIT

Gandeng Masjid, UUS Bank DKI Dorong Transaksi Non Tunai

    NERACA   Jakarta - Terus dorong penerapan transaksi non tunai di DKI Jakarta, Bank DKI melalui Unit Usaha…

Analis: Trakindo Harus Talangi Sewatama Bayar Utang - Cucu Usaha Terancam Gagal Bayar

Analis: Trakindo Harus Talangi Sewatama Bayar Utang Cucu Usaha Terancam Gagal Bayar NERACA Jakarta - Tiara Marga Trakindo Group dinilai…

Sawit Indonesia Terancam

Sinyal perundingan masalah ekspor sawit dan minyak sawit (crude palm oil—CPO) ke Uni Eropa (UE) sepertinya terancam deadlock. Bahkan UE…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Sambut Bulan Suci Ramadhan 1440 H, Wom Finance Berbagi Kebaikan

Sambut Bulan Suci Ramadhan 1440 H, Wom Finance Berbagi Kebaikan NERACA Jakarta – Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh hikmah.…

Menteri Siti: Sampah Plastik Berbahaya - KLHK Kampanye Puasa Bersih Sampah Plastik di Rest Area Cibubur

Menteri Siti: Sampah Plastik Berbahaya KLHK Kampanye Puasa Bersih Sampah Plastik di Rest Area Cibubur NERACA Jakarta - Dalam rangkaian…

Kemenkop Targetkan 25 Ribu IUMK Melalui OSS

Kemenkop Targetkan 25 Ribu IUMK Melalui OSS NERACA Denpasar - Kementerian Koperasi dan UKM pada 2019 menargetkan sebanyak 25.000 Izin…