Cuaca Buruk Menggerus Penjualan BISI Rp 133 Miliar - Bagikan Dividen Rp 10 Persaham

NERACA

Jakarta – Perusahaan benih jagung dan holtikultura, PT Bisi International Tbk (BISI) mengalami penurunan penjualan hingga sebesar Rp 133 miliar menjadi Rp 866 miliar. Meski demikian, BISI tetap bagikan dividen Rp 30 miliar atau Rp 10 per lembar saham atau setara 23,20% dari laba bersih.

Direktur Utama BISI International, Jemmy Eka Putra mengatakan, penurunan penjualan ini akibat cuaca buruk dan tidak menentu pada 2012 yang menyebabkan musim tanam dan panen berubah, “Dampak cuaca buruk mempengaruhi merosotnya penjualan perseroan tahun 2012 dan juga penjualan kuartal pertama tahun ini,”katanya di Jakarta, Selasa (28/5).

Kendatipun demikian, dirinya menyakini, penurunan penjualan tersebut akan terbayarkan pada tahun ini lantaran cuaca dinilai lebih baik. Selain itu, perseroan juga menganggarkan belanja modal sebesar Rp 21 miliar dengan sumber pendanaan dari kas internal untuk belanja peralatan baru serta pembukaan ladang di Bali. “Capex (Capital Expenditure/belanja modal) tahun ini Rp 21 miliar, belum termasuk carry over tahun lalu. Pasalnya, kalau dijumlah menjadi Rp 26 miliar totalnya,”ungkapnya.

Dia menambahkan, rencananya belanja modal akan ditambahkan karena masih diperhitungkan untuk pembangunan pabrik pestisida. Sebagai informasi, sepanjang kuartal pertama tahun 2013, perseroan membukukan laba bersih turun menjadi Rp 110 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 135 miliar. Sedangkan untuk pertahunnya, laba juga turun dari Rp 416 miliar pada 2011 menjadi Rp 389 miliar. Kondisi yang sama juga pada pendapatan perseroan yang juga turun menjadi Rp 55 miliar pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan periode tahun sebelumnya justru tumbuh menjadi sebesar Rp 69 miliar.

Bangun Pabrik

Selain itu, perseroan juga berencana membangun satu pabrik pestisida baru dengan kapasitas sebesar 5000 ton pertahun. Rencananya pembangunan akan dimulai akhir tahun ini, sehingga bisa beroperasi di tahun depan, “Kita punya pabrik pestisida di Mojokerto-Jawa Timur dengan kapasitas produksi 10 ribu ton. Utilisasinya sudah 85%. Jadi kita butuh pabrik baru yang akan kita bangun mulai akhir tahun ini. Realisasinya mungkin tahun depan, sehingga kapasitas produksi pestisida kita jadi 15.000 ton pertahun,”kata Jemmy Eka Putra.

Dia menjelaskan, untuk pembiayaan pabrik baru tersebut, Perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekira Rp40 miliar hingga Rp50 miliar. \"Semuanya dari dana internal, karena kita masih memilki posisi kas yang kuat,\"ujarnya.

Dia menambahkan, capex pabrik baru tersebut berbeda dengan capex untuk pengembangan riset perseroan. Setiap tahunnya, perseroan selalu menyisihkan dana sekitar Rp17 miliar hingga Rp18 miliar untuk riset, dari laba bersih.

Disamping itu, perseroan juga akan memperluas pabrik yang sudah ada seluas 2 Ha hingga 4Ha di Mojokerto. Hingga kuartal I tahun ini, dana capex yang terserap Rp 2 miliar untuk pembelian peralatan laboratorium seperti alat untuk uji DNA tanaman.

BISI sendiri untuk penguasaan pasar Indonesia pada 2012 produk benih jagung mencapai 52% dan benih holtikultura 30%. Sedangkan untuk kuartal I tahun ini, pestisida 43%, benih jagung sebanyak 32%, holtikultura 23%, dan 2%nya untuk pupuk sedangkan padi yang mereka miliki diakui Jemmy kurang bagus.

Strategi Penjualan

Terdapat 4 strategi yang akan dilakukan BISI dalam menggenjot pertumbuhan penjualannya d tahun ini, yang pertama, dengan perkiraan ekonomi Indonesia yang tetap akan tumbuh diatas 6%, akan meningkatkan konsumsi sayuran dan buah, kedua, Varietas baru benih jagung dan yang lainnya yang akan meningkatkan nilai bagi petani dan perusahaan. Ketiga, BISI akan lebih agresif lagi mengenalkan varietas barunya yang telah diperkenalkan 1-2 tahun lalu, keempat, BISI akan secara berkelanjutan mengenalkan produk terbarunya.“Tahun ini akan ada 2 sampai 4 varietas terbaru yang akan memiliki nilai produktivitas lebih tinggi sekitar 5-10% dari pendahulunya, seperti cabai jenis terbaru kami, F1 Hybrid Chili Imperial-10 yang lebih tahan terhadap hama dan cuaca buruk. Target kontribusi dari varietas jagung yang baru 40% dan sayuran 20-30%,”jelasnya. (nurul)

Related posts