Agar Indonesia Kaya Tanpa Utang

Sebuah iklan hitam putih seluas seperempat halaman membujur di enam kolom menghiasi sebuah koran nasional selama beberapa hari pada pekan lalu. Yang menggelitik dari iklan itu adalah pesan yang diutarakan. ‘Kaya Raya Tapi Pakai Utang??’

Itu adalah iklan seminar ‘Strategi Membeli Banyak Properti Tanpa Utang, Tanpa Modal Awal, Tanpa Takut Harga Mahal’ di sebuah hote di Jakarta. Narasumber seminar tak lain adalah Cipto Junaedy. Dia memiliki banyak properti yang dibangun developer properti besar di Indonesia. Bahkan juga memiliki apartemen di Singapura dan kondominium kelas dunia St Moritz. Murid-muridnya juga sudah banyak yang memiliki tower condotel, apartemen, vila, dan tanah berkapling-kapling.

Iklan itu barangkali menyindir pemerintah Indonesia yang kini memiliki utang seabreg-abreg, bahkan melebihi besarnya pendapatan. Dengan posisi utang yang demikian besarnya dan terus membengkak dari tahun ke tahun, kelihatannya tak mungkin utang itu lunas hingga tujuh turunan.

Maka, layak kiranya jika para pemangku kebijakan negeri ini banyak berguru ke Cipto agar negeri ini kaya raya, tapi kekayaannya milik orang asing. Negeri ini awalnya kaya raya, tapi kini banyak utang. Sebab, prinsip yang dipegang teguh Cipto adalah maju dan kaya raya tanpa harus memikul beban utang. “Padahal, jika berutang pasti bayar, tapi yang dipakai buat membayar tidak pasti,” ujar Cipto dalam testimoninya.

Dia pun mengaku berhasil mematahkan konsep strategi Robert Kiyosaki dan Dolf De Roos yang berbasis pada kekuatan utang. Dia pun ingin mengoreksi kondisi sosial ekonomi orang-orang yang bekerja kantoran. Sepuluh tahun bekerja, tapi kok tidak bisa membeli properti satu pun, apa lagi sepuluh. “Makanya pelajari strategi dan miliki ketrampilan nyata yang bisa diaplikasikan. Tidak hanya terlena dengan buaian kata mutiara motivasi,” tutur Cipto lagi.

George S. Clason, penulis The Richest Man In Babylon menjelaskan tujuh resep menjadi kaya seperti orang Babylon. Ketujuh itu adalah pertama, menyisihkan minimal 10% penghasilan untuk ditabung. Kedua, kendalikan keuangan agar pengeluaran lebih besar dari penghasilan. Ketiga, tambah penghasilan. Jangan mengandalkan hanya satu sumber penghasilan saja. Keempat, jaga agar harta tidak hilang. Kelima, jadikan tempat tinggal sebagai investasi yang menguntungkan. Keenam, persiapkan masa depan untuk meraih pendapatan. Dan, ketujuh, tingkatkan kemampuan untuk meraih pendapatan.

Sudahkah para petinggi negeri ini mendengarkan terobosan yang dilakukan Cipto? Atau sudah memiliki cara lain untuk menolong bangsa ini dari beban utang? (saksono)

Related posts