Investor Perlu Ubah Pola Trading

Antisipasi Pull Back

Selasa, 28/05/2013

NERACA

Jakarta- Bursa global termasuk bursa Indonesia diprediksi cenderung akan bergerak konsolidasi-sideways dan menurun untuk beberapa bulan ke depan. Investor dinilai perlu mengubah pola trading untuk mengantisipasi terjadinya pembalikan arah secara tiba-tiba yang akan mungkin terjadi, “Akan sulit mendapatkan IHSG bergerak naik tajam dalam satu hari perdagangan sehingga cukup bijak jika secara perlahan pola investasi berubah menjadi pola trading jangka pendek untuk mengantisipasi sewaktu-waktu terjadi pull back,”kata Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang di Jakarta, Senin (27/5).

Menurutnya, indikasi tersebut terjadi karena dimulainya libur musim panas dan imbal hasil (yield) obligasi AS untuk tenor 10 tahun berada di atas 2%. Terlebih, hal itu terjadi di tengah berakhirnya laporan keuangan tahunan dan kuartal pertama 2013.

Dia memperkirakan, secara data mingguan, Indeks membentuk pola evening doji star yang mengindikasikan perlambatan aksi beli sepanjang pekan ini dalam rentang support 5078 dan resistent di level 5243. Namun, data bulanan membentuk pola five white soldiers yang mengindikasikan peluang kenaikan sepanjang bulan Juni dalam kisaran support 4958 dan resistent 5302.

Sejumlah data ekonomi AS yang perlu diperhatikan, lanjut dia, seperti S&P/Case-Shiller Home Price Index, Consumer Confidence, Richmond & Dallas Fed Manufacturing Index pada Selasa, GDP-annualized pada Rabu. Sementara untuk data yang akan dirilis Kamis yaitu Initial Jobless Claims, Core Personal Consumption Expenditure, Pending Home Sales dan Personal Income & Spending, Chicago Purchasing Manager, Univ of Michigan Confidence pada Jumat pekan ini.

Selain itu, perlu juga diperhatikan data-data ekonomi negara besar lainnya seperti China yang terkait Leading Index, Business Sentiment Indicators, dan Manufacturing PMI. Large Retail Sales, BOJ Kuroda Speech, Manufacturing PMI, CPI, Household Spending, Jobless Rate, Industrial Production, Housing Starts di Jepang dan Retail Sales, Unemployment Rate, Industrial Confidence di Zona Eropa

Dijelaskan Edwin, munculnya wacana penghentian paket stimulus The Fed $85 miliar per bulan dan pertentangan Gubernur BoJ dengan menteri keuangan Jepang, serta turunnya PMI China menjadi pendorong turunnya bursa regional sepanjang minggu kemarin. Penurunan yang terjadi antara lain Nikkei yang turun sebesar 525.67 poin atau sebesar 3.47%, HSI -464.01 poin atau -2.01% dan STI yang mengalami penurunan sebanyak 56.13 poin atau -1.63%. Kondisi ini juga mendorong kejatuhan harga beberapa komoditas seperti oil -1.95%, gold -1.61% dan nickel -0.11%.

Meskipun demikian, tajamnya kejatuhan bursa regional dan menurunnya PMI China, kata dia, tidak serta merta merontokkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru mengalami penguatan sebanyak 9.41 poin atau tumbuh sebesar 0.18%. Namun, tetap diiringi aksi jual (net sell) asing senilai Rp586,1 miliar sehingga selama 21 minggu total net buy asing turun menjadi Rp15,53 triliun. (lia)