Pugar Genjot Produksi Garam di Lamongan

Impor Terus Ditekan

Senin, 27/05/2013

NERACA

Lamongan - Kebutuhan garam nasional nampaknya akan terus meningkat sesuai kebutuhan konsumsi masyarakat yang terbilang cukup tinggi. Namun beberapa waktu lalu garam impor telah membanjiri pasar dalam negeri. Oleh sebab itu, pemerintah serius untuk mengurangi impor garam, dengan menggenjot produksi garam di dalam negeri melalui program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (Pugar) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hasil produksi garam konsumsi Lamongan meningkat cukup signifikan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lamongan, Suryamotko mengungkap program Pugar dari KKP produksi garam konsumsi di Lamongan mulai nampak dari yang tadinya hanya 40 ton per musim dalam setahun menjadi 80 ton per musim di tiap tahunnya.

Suryatmoko menambahkan, potensi lahan industri garam di Lamongan sesungguhnya cukup besar. "Tercatat, secara spesfik Lamongan memiliki potensi lahan industri garam sebesar 350 ribu hektare dengan produksi per tahunnya mencapai 30 ribu ton per tahun," dalam diskusi bertema "Industrialisasi Garam Rakyat Untuk Mewujudkan Kemandirian Produksi Garam Nasional, yang diadakan KKP, di Lamongan, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

Sebelumnya, ia menyebut garam Lamongan belum terlihat di masyarakat lantaran proses produksi hanya dilakukan di belakang pemukiman. Di samping itu pekerjaan petambak garam belum menjadi acuan masyarakat sekitar sebagai salah satu pekerjaan yang menguntungkan. "Beda dengan di Gresik. Kami lihat sudah banyak petambak di sana dan kalau kita melewati jalan daerah tersebut sudah terbentang lahan industri garam," ucapnya.

Namun seiring berkembangnya sarana prasarana infrastruktur seperti transportasi, jalan, dan pelabuhan, petambak garam mulai bergairah menghasil garam konsumsi guna dijual di beberapa titik di sekitar daerah tersebut. "Pelabuhan sudah banyak dan KKP juga mendorong Pugar ke berbagai daerah sehingga petambak juga semakin bergairah memproduksi garam konsumsi," ujarnya.

Tutup Keran Impor

Ditempat yang sama, Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), Indra Sakti memaparkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi garam di sektor industri, pemerintah memastikan bakal menutup keran importasi komoditas tersebut dengan meningkatkan produksi dan produktivitas penambak garam dengan teknologi tinggi.

"Kita bisa kurangi impor garam yang selama ini disuplai untuk industri. Untuk itu kita harapkan program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (Pugar) bisa maksimal dan berkontribusi bagi pemenuhan kebutuhan garam di sektor industri," ujar Indra.

Dia mengklaim beberap tambak garam rakyat telah berhasil menyuplai kebutuhan sektor industri. Salah satu kontribusinya adalah menyuplai industri minuman ringan di dalam negeri. Namun, dia mengklaim pasokan suplai bagi garam industri membutuhkan kualitas olahan yang baik. Karena itu, tambak garam yang dikerjakan masyarakat perlu memenuhi standar khusus agar pasokannya bisa berkontribusi bagi sektor industri.

Menurut hasil analisisi kadar NaCl beberapa produk garam berkisar antara 70-86%. Standarisasi mutu garam bagi mamin dan farmasi perlu mencapai 95-97%. Itu artinya para penambak perlu meningkatkan kadar NaCl yang cukup tinggi agar potensi penambak rakyat diserap oleh sektor industri. "Jadi sesunggunya yang harus difokuskan adalah pengolaha lahan dan pengembangan polikultur. Perlu ada peningkatan kualitas garam K3 ke K1," ucap dia.

Tidak Optimal

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir, Balitbang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Budi Sulistiyo menambahkan kalau selama ini penambak garam nasional setidaknya memiliki permasalahan umum sehingga produksi komoditas tersebut tidak optimal dalam menjawab kebutuhan garam secara nasional.

Lebih jauh lagi Budi memaparkan masalah pertama dan utama penambak garam rakyat adalah pemenuhan garam industri belum dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Alhasil untuk memenuhi kebutuhan tersebut pemerintah membuka keran importasi khusus bagi sektor industri.

Adapun hal yang kedua, bahwa produk garam nasional didominasi oleh petambak garam rakyat. Namun, kualitas garam yang dihasilkan masih terbilang rendah. "Padahal untuk sektor industri kita perlu standar NaCl garam sekitar 95-99%," tutur dia.

Dia menambahkan, rmasalah ketiga adalah mengenai kesejahteraan petambak garam rakyat masih memprihatinkan. Asumsi ini terlihat dari belum terintegrasinya pasar dan keuntungan yang dihasilkan belum cukup menguntungkan.

Guna memastikan semua kendala tersebut diatasi, emerintah perlu melakukan peningkatan kualitas garam rakyat berkualitas tinggi sebagai solusi permasalahan garam industri nasional. Dengan adanya peningkatan kualitas, serapan kebutuhan garam di sektor industri bagi penambak juga akan cukup besar. "Alhasil di sana ada peningkatan kesejahteraan bagi penambak rakyat di dalam negeri," tutur dia.