Posisi Indeks Tak Nyaman, Cermati Sektor Perkebunan

Senin, 27/05/2013

NERACA

Jakarta- Akibat sentimen negatif beruntun dari Jepang, China, dan Amerika Serikat (AS) sempat membuat Indeks Harga Saham Gabungan tersungkur pada pekan kemarin hingga di bawah level 5100. Untungnya, aksi jual asing masih lebih rendah, atau sebesar Rp 586,1 miliar dari pekan sebelumnya yang mencapai Rp1,11 miliar sehingga IHSG tidak terpuruk lebih dalam.

Kepala Riset dari Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, konfirmasi penguatan signifikan, hanya bisa terjadi pada pekan ini apabila didukung dengan rilis data-data yang positif. Jika tidak, maka IHSG akan kembali rawan terkoreksi. “Munculnya candle merah dengan posisi di atas area overbought membuat posisi IHSG tidak begitu nyaman dengan peluang kenaikan 30-40%.” jelasnya.

Selain itu, lanjut Reza, pelaku pasar juga akan memanfaatkan setiap kenaikan untuk profit taking setelah kemungkinan trauma dengan penurunan tajam yang sempat terjadi. Oleh karena itu, dia memperkirakan IHSG akan berada pada rentang Support 5065-5097 dan Resisten 5232-5263. Dalam kondisi tersebut, pelaku pasar tetap harus mewaspadai potensi pembalikan arah dengan mencermati sektor perkebunan. Selain sektor tersebut, pelaku pasar juga perlu mencermati industri dasar, aneka industri, perdagangan, dan properti.

Sejumlah saham yang dapat diperhatikan, kata dia, antara lain PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT BW Plantation Tbk (BWPT), PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), PT Astra International Tbk (ASII), PT Arwana Citra Mulia Tbk p(ARNA), PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI), PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk (SCCO), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Ace Hardware Indonesia (ACES), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), dan PT Ciputra Surya Tbk (CTRS).

Disebutkan Reza, selama sepekan kemarin IHSG mengalami kenaikan 9,41 poin atau lebih rendah dari pekan sebelumnya yang naik 39,75 poin atau 0,78%. Kenaikan tipis ini juga terjadi pada indeks utama lainnya dimana indeks DBX memimpin kenaikan sebesar 1,36% dan diikuti indeks JII dan ISSI yang masing-masing menguat 0,67% dan 0,66%. Namun, untuk indeks Lq45 dan IDX30 mengalami pelemahan masing-masing 0,04% dan 0,19%.

Di sisi lain, indeks sektoral bergerak variatif di mana hanya dua sektor yang melemah yaitu indeks pertambangan dan keuangan yang masing-masing turun sebesar 4,80% dan 0,78%. Sementara penguatan terjadi pada indeks perkebunan, yaitu sebesar 5,66%, diikuti indeks aneka industri 2,01%, dan indeks properti sebesar 1,91%.

Koreksi Indeks yang terjadi, menurut dia, mampu ditahan dengan adanya imbas komentar dari salah satu petinggi The Fed yang masih menginginkan kelanjutan dari program stimulus. Pelemahan IHSG juga dimanfaatkan pelaku pasar untuk kembali mengakumulasi saham. Meski sempat mampir ke zona merah, namun IHSG kembali bangkit dan berhasil melaju ke level psikologisnya di kisaran 5200.

Laju variatif Indeks juga dipengaruhi oleh pencatatan saham perdana NOBU yang direspon positif oleh pelaku pasar dengan menambah market caps senilai Rp1,76 triliun. Termasuk adanya pemberitaan terpilihnya Chatib Basri sebagai menteri keuangan baru yang dinilai lebih independen. (lia)