Pasar Berisiko, Penyerapan Obligasi Dinilai Stabil

Jumat, 24/05/2013

NERACA

Jakarta- Adanya ancaman kenaikan inflasi akibat naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM) yang direncanakan pemerintah tidak akan berdampak signifikan pada kinerja surat utang atau obligasi di tahun ini. Dikarenakan kupon yang ditawarkan oleh pihak penerbit obligasi telah memperhitungkan kondisi tersebut. “Permintaan sejauh ini memang sedikit, tapi stabil. Jadi itu tidak berpengaruh.” kata Direktur Utama HSBC Securities, Hari Mantoro di Jakarta, Kamis (23/5).

Menurutnya, permintaan kupon yang lebih tinggi dari investor memang tidak dapat dipungkiri. Namun, apabila bercermin dari penawaran obligasi yang ditangani perseroan baru-baru ini, PT Toyota Astra Finance terbukti, kata dia, terbukti mencatatkan kelebihan permintaan. Karena itu, pihaknya optimistis ketidakpastian pasar yang terjadi akhir-akhir ini tidak akan mempengaruhi tren penerbitan obligasi.

Untuk sektor yang memiliki prospek cukup bagus untuk menerbitkan obligasi, lanjut dia, antara lain sektor properti, multi finance, dan konsumer. Pasalnya, hingga kini ketiga sektor tersebut masih mengalami pertumbuhan yang cukup bagus.

Obligasi Dalam Dolar

Dia menilai dengan dinaikkannya BBM, menjadi langkah yang tepat karena kenaikan yang direncanakan pemerintah dinilai lebih prudent. Sementara itu, terkait penerbitan obligasi dalam mata uang asing, kata dia, sejauh ini tidak perlu dikhawatirkan. Mengingat emiten yang berani mencari pinjaman dalam dolar juga telah memperhitungkan kondisi yang sama pada tahun sebelumnya saat mata uang rupiah melemah. Salah satunya, yaitu dengan sarana lindung nilai atau hedging. “Krisis 1998 dan kondisinya saat itu juga masih bisa diatasi.” ujarnya.

Seperti diketahui, Hedging adalah sejenis instrumen investasi derivatif yang biasanya dilakukan dalam rangka lindung nilai terhadap risiko yang mungkin muncul akibat perubahan harga di pasar. Tujuan utama dari instrumen investasi ini adalah untuk memberikan lindung nilai agar investor tidak menderita kerugian jika harga aset di pasar berubah ke arah yang tidak diinginkan.

Sebagai contoh, perusahaan A melakukan pinjaman ke sebuah lembaga keuangan di luar negeri sebesar US$ 200 juta untuk melakukan ekspansi dengan bunga 6% dan memiliki jangka waktu lima tahun. Jika dana tersebut digunakan untuk ekspansi di dalam negeri maka harus dikonversikan ke rupiah. Saat itu misalnya, nilai rupiah hanya Rp2.200 per dolar AS. Praktis, jika dirupiahkan, perusahaan tersebut menerima pinjaman sebesar Rp440 miliar.

Selanjutnya, akibat krisis hebat yang terjadi nilai rupiah terhadap dolar AS anjlok, menjadi Rp10.000 per dolar AS misalnya. Artinya, meskipun jika dirupiahkan utangnya hanya Rp440 miliar, namun perusahaan tersebut harus membayar sebesar Rp2 triliun, akibat nilai dolar AS yang naik. Karena itu, dalam kondisi demikian, banyak perusahaan yang dimungkinkan akan tumbang karena tidak dapat membayar utang.

Meskipun demikian, risiko perubahan nilai tukar tersebut masih sangat dimungkinkan untuk dihindari. Selain di-hedging, saat melakukan pinjaman, sejak awal sudah berhitung dan melakukan upaya lindung nilai, yaitu dengan melakukan kontrak Futures terhadap dolar AS. (lia)