Mitra Investindo Operasikan Mesin Baru

Targetkan Produksi 2 Juta Ton

Jumat, 24/05/2013

NERACA

Jakarta- PT Mitra Investindo Tbk (MITI) akan mengoperasikan mesin baru yang diharapkan dapat memacu kapasitas produksi yang ditargetkan 2 juta ton pada tahun ini. Investasi untuk pembelian mesin baru tersebut diambil dari dana belanja modal perseroan 2013 yang mencapai US$1,5 juta dolar. "Pembelian mesin baru ini akan menggunakan belanja modal (capex) sebesar 1,5 juta dolar Singapura yang diambil dari kas internal." kata Direktur MITI, Diah Pertiwi Gandhi di Jakarta, Kamis (23/5).

Menurutnya, saat ini perseroan masih dalam tahap pemilihan model dan design mesin yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi. Perseroan mencatat telah mengoperasikan tiga mesin, dengan kapasitas produksi yang dihasilkan dari mesin-mesin tersebut mencapai 1,6 juta ton per tahun.

Untuk meningkatkan kinerja di tahun ini, perseroan berencana mengembangkan usaha di Riau. Disebutkan, perseroan sedang mengincar areal konsesi lain di wilayah Karimun dan Dabo Singkep Kabupaten Lingga Kepulauan Riau. Kedua wilayah tersebut dinilai merupakan wilayah yang potensial untuk granit dan bauksit. Namun sejauh ini rencana akuisisi di Karimun masih terganjal pada masalah lahan dan administrasi.

Pihaknya menilai dalam kurun lima tahun mendatang, cadangan yang dimiliki perseroan saat ini akan habis. Karena itu, perseroan mencari lokasi tambang dan mencoba diversifikasi usaha lain, dengan opsi tetap pada mineral and resources. Saat ini MITI memiliki tambang yang dibeli dari PT Antam Tbk sejak tahun 1991 dengan luas 67 Ha di Bintan. Perseroan mulai memproduksi pertambangan batu granit di wilayah tersebut sejak 2009 silam dengan jumlah cadangan terbukti sekitar 12,3 juta ton granit.

Sementara itu, sepanjang periode Januari-Maret 2013, perseroan berhasil memproduksi batu granit sebesar 371.959 ton. Jumlah itu naik 4,4% dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 356.375 ton. Adapun pemasaran dari produksi granit lebih banyak terserap di pasar domestik. Utamanya, Batam yang menyerap sebanyak 70% untuk infrastruktur jalan dan properti, di mana sebagian besar dikonsumsi proyek pemerintah dan infrastruktur, antara lain Wijaya Karya, Nindya Karya, dan Duta Graha.

Pada kuartal pertama 2013, perseroan mencatat memperoleh pendapatan sebesar Rp 33,7 miliar atau naik 20,7% dibandingkan dengan pendapatan di kuartal pertama 2012 sebanyak Rp 20,7 miliar. Sedangkan laba bersih sebanyak Rp 9,7 miliar atau meningkat sebesar 110% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak Rp 4,6 miliar. (lia)