China Jajaki Investasi Pembangkit Listrik

Jumat, 24/05/2013

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, perusahaan asal China Bosideng International Holdings Ltd tengah menjajaki investasi di sektor pembangkit listrik. “Investor asal China berminat untuk menanamkan modalnya di bidang pembangkit listrik khusnya solar panel. Saat ini, Indonesia mempunyai 45 juta pelanggan rumah tangga dan diperkirakan akan ada tambahan penggunaan listrik seperti kulkas dan AC,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin, Budi Darmadi di Jakarta, Kamis (23/5).

Sampai dengan 2020, menurut Budi, kebutuhan listrik di dalam negeri mencapai 55.000 mega watt.“Kebutuhan listrik di dalam negeri akan terus bertambah karena pertumbuhan kelas menengah dan membaiknya perekonomian nasional,” ujarnya.

Sedangkan Kepala Badan Promosi dan Penanaman Modal Daerah, Syuaib Djafar mengatakan, pihaknya telah memfasilitasi perusahaan asal Singapura untuk menjajaki wilayah yang memiliki potensi pengembangan solar cell.

“Kami sudah mengundang beberapa pihak dari pemerintah Kota Palu terkait adanya investasi tersebut dengan penyiapan lahan untuk pengembangan solar cell. Pihak perusahaan juga telah bertemu dengan PLN pusat dan PLN cabang Palu terkait rencana pengembangan solar cell tersebut dan harapannya setelah melakukan penjajakan dan studi maka perencanaan bisa segera direalisasikan,” paparnya.

Syuaib menambahkan, pihaknya menghimbau badan promosi yang berada di kabupaten atau kota mampu memberikan informasi dan peluang investasi yang dapat diakses oleh para penanam modal sehingga pertumbuhan ekonomi bisa lebih meningkat. “Belum lama ini kami melakukan rapat koordinasi dengan seluruh badan promosi dan penanaman modal yang ada di kabupaten atau kota untuk menyatukan langkah demi menumbuhkan sistem investasi yang lebih maju demi mendorong perkembangan sektor ekonomi daerah,” tandasnya.

Sekedar informasi Solar panel merupakan sebuah alat yang bisa mengonversi panas matahari menjadi listrik. Materialnya terdiri dua jenis, dari monosilisium dan polisilisium. Tersedia dalam bentuk kotak dan gulungan yang di dalamnya memakai solar cell.

Tambahan Subsidi

Direktur Jenderal Kelistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman mengatakan bahwa pemerintah mengajukan perubahan anggaran dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanjan Negara Perubahan (RAPBNP) 2013. Perubahan tersebut, menurut Jarman, karena terjadinya pembengkakan subsidi karena beberapa hal seperti nilai tukar rupiah yang terus melemah dan asumsi Indonesian Crude Price yang juga mengalami perubahan.

\"Dalam RAPBNP 2013, kami mengajukan perubahan anggaran untuk subsidi listrik. Dalam APBN 2013 ditetapkan subsidi listrik berjalan mencapai Rp78,6 triliun. Di RAPBNP kita mengajukan kenaikan sebesar Rp8,64 triliun atau menjadi Rp87,64 triliun. Hal ini kami sampaikan karena adanya beberapa perubahan asumsi,\" ungkap Jarman di Jakarta, Kamis (23/5).

Dalam usulan yang diajukan kepada DPR tersebut, kata Jarman, Usulan alokasi subsidi listrik Rp 80,9 triliun (APBN) 2013 diusulkan naik Rp 99,9 triliun (RAPBNP), dengan rincian subsidi berjalan Rp 78,6 triliun menjadi Rp 87,24 triliun, lainnya karena carry over 2011, 2012.

Menurut Jarman, usulan kenaikan subsidi tidak lepas dari perubahan asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dari US$ 100 per barel menjadi US$ 108 per barel. Selain itu nilai tukar rupiah (kurs) melemah terhadap dolar. Pada APBN 2013 menetapkan asumsi nilai tukar Rp 9.300 per AS dolar, sedangkan RAPBNP 2013 naik menjadi Rp 9.600 per AS dolar.

Sedangkan untuk Biaya Pokok Pembiayaan (BPP) tenaga listrik pada APBN 2013 sebesar 1,163 Kilo watt Hour (Kwh). Sedangkan dalam RAPBN 2013 1,198 kwh atau Rp 212,07 per Kwh. Sedangkan dalam RAPBN Rp 1,198 per kwh. \"Untuk Volume penjualan dalam APBN 2013 182,28 Tera watt hour (Twh), RAPBNP 187,7 Twh,\" tutur dia. Sementara untuk rasio elektrifikasi, realisasinya pada 2012 mencapai 76,56%. Sedangkan target 2013 sebesar 79,3%, dan 2014 sebesar 81,4%.

Sebelumnya, Jarman juga memaparkan konsumsi BBM oleh PT PLN (persero) telah melebihi dari target 5,6 juta kilo liter. \"Diperkirakan konsumsi BBM PT PLN akan lewat dari target, tahun ini diprediksi mencapai di atas 6 juta KL,\" ujar Jarman.

Hal ini dikarenakan beberapa proyek listrik yang seharusnya selesai awal tahun ini molor pengerjaannya. \"Seperti proyek kabel bawah laut Jawa-Bali yang molor itu 200 mega watt dan beberapa proyek lain, jadi kita perkirakan konsumsi BBM nya bakal melebihi target,\" ungkapnya.

Hal tersebut tentunya akan berdampak pada meningkatnya subsidi listrik. \"Tapi kita sedang menghitung berapa tambahan subsidinya, karena semua tergantung lagi pada perubahan asumsi ICP (indonesia crude price), kurs dan lainnya yang akan diubah dalam APBN Perubahan 2013,\" ujarnya.

Namun pihaknya kata Jarman akan berupaya menekan konsumsi BBM PLN agar subsidi listrik tidak jebol terlalu banyak. \"Walau meningkat konsumsinya, kita tidak boleh menolak deman atau mengurangi demand, demand kan terus masuk, nggak mungkin kan kita padam-padamkan listriknya. Upaya yang kita lakukan untuk menekan konsumsi BBM PLN ya kita majukan rencana proyek PLTU-PLTU. Kalau kita majukan sebulan dua bulan kan akan menugrangi semua, seperti proyek PLTU Nagan Raya bisa cepat maju, maju-maju sedikit kan lumayan menekan konsumsi BBM PLN,\" tandas Jarman.