Banjir Produk Impor Hambat Daya Saing Industri

Kamis, 16/05/2013

NERACA

Jakarta - Membanjir produk impor yang ada di pasar dalam negeri membuat produk dalam negeri makin terhimpit. Untuk itu semangat penguatan daya saing industri terus digalakan agar produk dalam negeri bisa bertahan dari gempuran produk impor.

Direktur Jenderal (Dirjen) Basis Industri Manufaktur Kemenperin, Panggah Susanto mengungkap berbagai upaya telah dilakukan dengan harapan meningkatnya penggunaan produk-produk industri dalam negeri melalui penerapan regulasi dan program stimulan seperti kampanye program cinta produk dalam negeri."Untuk menghadapi serbuan produk impor, pemerintah telah meningkatkan program peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN)," kata Panggah Susanto lewat rilis yang diterima Neraca,Rabu (15/5).

Program P3DN, menurut Panggah, merupakan Instruksi Presiden Nomor 2/2009 dan memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional."Dengan didukung peraturan presiden Nomor 70/2012 tentang pengadaan barang maupun jasa di instansi pemerintah, P3DN menjadi ujung tombak perekonomian nasional dengan pengaturan penggunaan produk dalam negeri untuk pengadaan barang. Pada tahun ini, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memiliki potensi belanja modal pemerintah sebesar Rp213 triliun atau 20% dari total Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Capital Expenditure Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diatas Rp1.000 triliun dan menjadi peluang bagi penggunaan produk dalam negeri," paparnya.

Penggunaan produk dalam negeri, lanjut Panggah, terus disosialisasikan kepada instansi pemerintah di tingkat pusat maupun daerah."Penggunaan produk salam negeri dalam pengadaan barang maupun jasa pemerintah telah dituangkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 15/2011. Peningkatan pemakaian produk nasional akan menambah daya saing dan berkontribusi bagi pertumbuhan industri nasional," tandasnya.

Sebelumnya Pemerhati Kebijakan Industri dan Perdagangan ,Fauzi Azis mengungkap P3DN harus menjadi landasan pengembangan basis produksi untuk tujuan ekspor.“Krisis ekonomi telah mengajarkan banyak hal kepada kita. Salah satunya tentang kemandirian ekonomi. Krisis bisa ditangkal jika pasar dalam negeri kuat. Krisis bisa dicegah jika produk-produk lokal menjadi raja di negeri sendiri,” kata Fauzi.

Menurut dia, untuk menangkal atau mereduksi krisis ekonomi global, pemerintah dan masyarakat harus memperkuat pasar dalam negeri. “Banyak hal yang bisa dilakukan untuk memperkuat pasar domestik. Pemerintah bisa mempercepat realisasi APBN dan memprioritaskannya untuk membeli produk dalam negeri. Pemerintah harus mengupayakan agar produk-produk dalam negeri diprioritaskan dalam pengadaan barang dan jasa di kementerian/ lembaga (K/L),” tegas Fauzi.

IKM Lemah

Sementara itu,Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Euis Saedah ia memaparkan, Industri Kecil Menengah (IKM) sebagai penggerak ekonomi kerakyatan juga ikut serta dalam program P3DN. Namun, ungkap Euis, secara umum industri kecil menengah di Indonesia saat ini memiliki kelemahan–kelemahan yang cukup banyak, sehingga menimbulkan permasalahan dalam mengembangkan usahanya.

Sudah merupakan hal yang wajar jika dalam menjalankan usaha, kita sering dihadapkan pada berbagai permasalahan–permasalahan. “Namun kita harus melihat inti dari permasalahan tersebut, apakah masalah tersebut terdapat di faktor internal (sistem dan strategi) ataukah di faktor eksternal (Pasar),” papar Euis.

Menurut dia, secara teori, keseimbangan antara faktor internal dan faktor eksternal haruslah terjaga agar perusahaan dapat lebih berkembang. Walaupun sistem dan strategi perusahaan itu sangat baik, namun jika tidak didukung dengan pembacaan peluang pasar dan prilaku konsumen maka perusahaan tidak akan dapat menjaga pasarnya.

Begitu pula sebaliknya, jika hanya mengetahui peluang pasar saja namun tidak didukung dengan sistem dan strategi perusahaan yang baik, maka perusahaan akan semakin ditinggalkan oleh pasar. Apalagi, jika kedua–duanya tidak mendukung. Kemungkinan bangkrut sudah pasti akan menghampiri.

Impor Elektronik

Tidak hanya IKM yang kini tengah diserbu produk impor, banjir impor produk gadget (perangkat elektronik praktis) mulai dari handphone (HP), netbook, hingga komputer tablet sepertinya tak akan kunjung surut. Pada kuartal I-2013 (Januari-Maret) ini saja, seperti yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia telah mengimpor HP sebanyak Rp 6,1 triliun. Sedangkan impor laptop (komputer jinjing) pada periode yang sama tercatat senilai Rp 2,7 triliun. Jika diperkirakan angka totalnya, nilai impor HP bisa tembus Rp 25 triliun, dan Rp 12 triliun untuk impor laptop sepanjang tahun ini.

Ekonom Indef Ahmad Erani Yustika mengungkapkan banjirnya impor produk gadget selama kuartal I tersebut bisa mengancam pertumbuhan industri gadget lokal di Indonesia. “Pemerintah harus memperkuat industri gadget lokal sehingga bisa bersaing dengan produk impor. Hal yang terpenting adalah pemerintah harus membangun suatu rancang bangun industri Indonesia sehingga bisa mengurangi produk impor datang ke Indonesia,” ujarnya.

Menurut Erani, pemerintah semestinya melakukan kebijakan yang mendukung kepentingan industri lokal seperti melakukan kemudahan dalam kebijakan fiskal maupun nonfiskal. Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan harus mempunyai strategi perdagangan yang mementingkan perkembangan industri lokal.