Indofarma Menikmati Bisnis Obat Generik

Raih Kontrak Senilai Rp 1,6 Triliun

Selasa, 14/05/2013

NERACA

Jakarta - PT Indofarma Tbk (INAF) mendapatkan kontrak terbanyak senilai Rp 1,6 triliun untuk tender pengadaan obat generik yang ditawarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam bentuk e-catalog, “Tender diikuti 20 perusahaan farmasi,total kontrak Rp 6 triliun. Indofarma menjadi pemasok terbesar kebutuhan e-catalog dengan nilai Rp 1,6 triliun," kata, Direktur Utama Indofarma, Elfiano Rizaldi di Jakarta, Senin (13/5).

Menurutnya, harga yang digunakan adalah standar harga yang akan ditetapkan oleh Kemenkes. Namun ada perbedaan harga pada setiap obat generik karena masalah distribusi terkait biaya transportasi.

Saat ini, obat generik yang dihasilkan Indofarma mencapai 190 item untuk semua jenis penyakit, kecuali obat HIV dan kanker. Namun, untuk obat generik yang masuk ke daftar e-catalog sebanyak 109 item dari seluruh juklah yang ada."Sampai bulan Juni, kami sudah memiliki permintaan obat generik dengan nilai Rp 100 miliar - Rp 150 miliar,”ungkapnya.

Selain kontrak baru, perseroan berencana menginvestasikan dana sebesar Rp 93 miliar untuk membangun pabrik dengan nilai investasi Rp 60 miliar dan pembelian dan perbaikan mesin Rp 33 miliar.

Kata Elfiano Rizaldi, dana investasi tersebut digunakan dalam rangka meningkatkan produksi dengan menambah kapasitas pabrik minimal dua kali lipat. Sehingga tahun ini dapat mencapai target produksi tablet dan kapsul generik 6 miliar butir, "Sudah datang mesin cetak tablet, sehingga produksi obat generik tablet dan kapsul tahun ini bisa dua kali lipat dari tahun lalu," ujar dia.

Dia juga menambahkan bahwa dana investasi hingga saat ini terpakai sebesar Rp 13 miliar yang disalurkan untuk regulasi, mesin dan alat-alat pendukung produksi obat generik lainnya. Sementara itu, perseroan juga telah siapkan dana sebesar Rp 120 miliar untuk tahun depan.

Rencananya, dana tersebut akan digunakan untik investasi tahun 2014. Dimana porsi untuk bangunan senilai Rp 85 miliar dan mesin Rp 35 miliar. Perseroan juga menargetkan penjualan semester pertama tahun ini mencapai Rp 530 miliar dengan perkiraan laba bersih Rp 12 miliar.

Gandeng Asing

Disamping itu, Indofarma bakal menggandeng perusahaan lokal dan asing dalam pengembangan produk serum darah (albumin) dan obat kanker. Menurut Elfiano, dengan pengembangan obat itu maka harga jual dapat lebih murah dan terjangkau oleh masyarakat, “Kerja sama itu untuk membantu masyarakat Indonesia mendapatkan harga obat terjangkau namun kualitas tinggi. Albumin dan obat kanker masih impor, kalau bisa kita kembangkan maka biayanya jauh lebih murah. Saat ini harga albumin sekitar Rp900.000-Rp1 juta nantinya bisa jauh lebih murah,"tandasnya.

Dia menuturkan, kebutuhan konsumsi di Indonesia terhadap albumin per tahun sekitar Rp100 miliar. Diharapkan, rencana perusahaan itu dapat terealisasikan pada tahun ini atau paling lambat di tahun berikutnya.

Menurut dia, pengembangan produk obat itu sejalan dengan visi perseroan sebagai produsen obat generik. Dirinya menegaskan, tidak terlalu khawatir terhadap fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar AS menyusul bahan baku farmasi yang masih impor, “Untuk mengantisipasi itu kita menentukan berapa nilai tetap dolar AS untuk harga bahan bakunya selama empat bulan atau hasil kesepakatan kedua belah pihak. Namun, kalau kurs dolar AS di atas Rp10.000 mungkin bisa dibicarakan ke Kemenkes,"ujarnya.

Tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan laba bersih tumbuh 100% setara dengan Rp 82,5 miliar dibandingkan dengan perolehan tahun 2012 sebesar Rp 42,39 miliar. Jumlah ini meningkat karena target penjualan tahun 2013 juga naik menjadi Rp 1,5 triliun. Sementara pencapaian dalam tiga bulan pertama tahun 2013, Indofarma menncatat beban pokok penjualan perseroan turun 22,43% menjadi Rp98,40 miliar. Laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp140,09 juta. (nurul)