Di Balik Sukses Pariwisata Bali, Kental Peran Perempuannya

Oleh: I Ketut Sutika

Senin, 13/05/2013

Jagat Pulau Dewata memancarkan rona religius yang mampu membuat setiap orang termasuk wisatawan merasa nyaman, tenteram dan damai. Di balik semua itu, wanita Bali ada, mereka dikenal gigih dan sanggup kerja apa saja demi keluarganya.

Setiap saat mereka sangat sibuk menyiapkan sarana ritual rangkaian beberapa hari suci.

Kegigihan wanita Bali tampak dengan tanpa pandang bulu dalam melakukan pekerjaan, karena jenis pekerjaan apapun sangup dipikulnya, termasuk memberikan kontribusi bagi pengembangan pariwisata Bali berkelanjutan.

Perempuan Bali berperan dalam setiap kegiatan ritual dan selalu memiliki ketegaran, yang menjadi cermin betapa sesungguhnya kaum feminim itu memiliki kemampuan yang prima memberikan andil bagi pembangunan pariwisata berkelanjutan di Pulau Dewata.

Mereka tampil sebagai pengusaha sukses dalam menciptakan banyak lapangan pekerjaan. \"Secara khusus, saya mengangkat kisah empat srikandi kuliner Bali yang perannya dalam kepariwisataan Bali tidak bisa dikesampingkan,\" tutur guru besar Universitas Udayana, Prof Dr I Nyoman Darma Putra, ketika tampil menjadi pembicara pada seminar di Program Doktor Kajian Pariwisata Universitas Udayana.

Dalam kertas kerja berjudul Peran Perempuan dalam Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan: Kisah Empat Pahlawan Kuliner Bali, Darma Putra yang pernah menulis buku Tourism Development and Terrorism in Bali bersama Michael Hitchcock pada 2007 itu membahas peran perempuan Bali yang berkiprah dalam pengembangan kuliner Bali.

Perempuan Bali yang diangkat itu meliputi Made Mash (Made Warung), Bu Agung Oka (babi guling Ubud), Nyonya Warti (pengusaha jasa boga kuliner Bali), dan Men Tempeh, perintis ayam betutu Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali barat.

Usaha srikandi-srikandi kuliner Bali itu berhasil memanfaatkan kemajuan pariwisata untuk mengangkat citra dan eksistensi kuliner Bali, atau mendukung pembangunan pariwisata di Pulau Dewata lewat pengenalan kuliner Bali kepada wisatawan.

Meskipun dalam sekala kecil-menengah usaha kuliner empat srikandi itu mampu menyiapkan cukup banyak lapangan kerja dan peluang usaha baru seperti pemasok bahan baku.

Keberhasilan perempuan Bali mengembangkan kuliner daerahnya tidak saja mesti dihargai dalam penyiapan lapangan kerja, tetapi yang tak kalah penting adalah pada prestasi untuk membuat kuliner Bali go-nasional dan go-internasional.

Dengan demikian mampu membantu menghapus ketakutan akan homogenisasi kuliner global yang dibawa masuk oleh kapitalisme dan industri pariwisata.

Usaha Men Tempeh, misalnya dalam mengangkat menu ayam betutu di daerah Gilimanuk, Bali Barat, selama kurun waktu 35 tahun hingga akhirnya ayam betutu yang tadinya merupakan menu \"kampung\" pelan-pelan menjadi menu restoran.

Hasil racikan menu menyangkut cita rasa yang menyentuh selera konsumennya menjadikan usaha ayam betutu berkembang semakin meluas dengan merek dagang rumah makan beroperasi di Bandara Ngurah Rai, di seputar kota Denpasar hingga menyeberang ke Jakarta dan Yogyakarta.

Demikian pula popularitas kuliner babi guling di perkampungan seniman Ubud, Kabupaten Gianyar itu tidak hanya memikat masyarakat setempat juga wisatawan mancanegara.

Pada saat yang sama, kebanggaan masyarakat Bali akan kekayaan kuliner daerahnya semakin tumbuh dan dikonstruksi sebagai identitas.

Terangkatnya sejumlah kekayaan kuliner Bali dalam konteks perkembangan pariwisata, bisa dijadikan argumentasi untuk mengungkapkan bahwa pemanfaatan kekayaan budaya untuk pengembangan kepariwisataan tidaklah melindas kebudayaan itu sendiri, namun justru ikut melestarikannya.

Wanita Bali sanggup mengemban tugas dan tanggung jawab dalam berbagai tugas jabatan dan profesi, baik di eksekutif, legislatif, yudikatif, BUMN, di samping perusahaan yang dikelolanya secara mandiri seperti yang dilakoni oleh empat srikandi tadi.

Perempuan Bali dalam kehidupan sosial kemasyarakatan juga mengemban tugas yang sangat penting dalam menyukseskan berbagai kegiatan ritual dan upacara adat.

Semua itu dilakoninya dengan iklas dan senang hati, di luar tugas dan tanggung jawab dalam menekuni profesi masing-masing.

Wanita Bali memiliki ketulusan, keiklasan dan ketekunan dalam memaknai hari-hari suci keagamaan yang kadang kala jatuh secara beruntun seperti mamasuki awal tahun 2013, mulai dari hari Siwaratri (hari perenungan dosa), hari Saraswati (hari lahirnya ilmu pengetahuan) dan hari Pagerwesi yakni meneguhkan kekuatan iman.

Wanita Bali tidak bekerja sendirian untuk itu, mereka dibantu oleh suami dan anggota keluarga lainnya, namun yang paling menonjol adalah peranan dan aktivitas kaum ibu.

Perempuan Bali memang sejak kecil terlatih membuat banten (sesajen) dan orangtua selalu melibatkan anak perempuan dalam membuat sesaji upacara ritual.

Metode mendidik anak belajar sambil bekerja sangat efektif dan menunjukan hasil gemilang, sehingga wanita Bali tidak pernah berkeluh kesah dalam menunaikan tugas serta kewajibannya.

Dengan keluguan mengarungi kehidupan, wanita Bali sanggup beradaptasi dengan perempuan modern. Mereka juga menjadi objek dan inspirasi bagi seniman lukis dalam menciptakan karya seni di atas kanvas.

Jika diinventarisasi, tidak terhitung jumlahnya keesotikan perempuan Bali yang dimanfaatkan menjadi objek lukisan oleh seniman dalam dan luar negeri yang berdomisili di Pulau Dewata.

W Gerard Holker, seniman asing yang lama bermukim di perkampungan seniman Ubud, misalnya sangat terpesona oleh Kartini Bali dalam pakaian adat serat bunga emas, membawa sesajen dalam bokor.

Demikian pula perintis seni lukis Pita Maha di Ubud, Rudolf Bonnet semasa hidupnya sering kali melukis sosok wanita Bali yang polos, rambut panjang dikepang dengan bunga kamboja terselit di pangkal ekor kepang rambutnya.

Sementara Mario Antonio Belanco (alm) maupun pelukis Dullah tidak luput menggambarkan wanita Bali dari segi erotisnya. Sementara I Nyoman Djirna, seniman lokal menggambarkan wanita Bali dari keluguan, kepolosan dan kodratnya. (ant)