Intraco Realisasikan Capex Rp 70 Miliar

Jumat, 10/05/2013

Sepanjang kuartal pertama 2013, PT Intraco Penta Tbk (INTA) telah habiskan belanja modal (capex) sebesar Rp 70 miliar dari total capex 2013 sebesar Rp190 miliar, “Dana capex ini bersumber dari kas internal perseroan dan pinjaman perbankan nasional sekitar 20 – 30%nya dari internal dan 70% dari perbankan. Penggunaan capex untuk pengembangan bisnis pertambangan, penambahan alat berat dan disalurkan ke anak usaha perseroan.," kata Direktur Utama PT Intraco Penta, Petrus Halim di Jakarta kemarin.

Dia menambahkan, tahun ini perseroan berencana menambah merek alat berat. Namun sayangnya, belum mau menyebutkan merek dan jumlahnya. Hingga saat ini, perseroan sudah punya enam merk alat berat. Merk alat berat yang dimiliki saat ini Volvo, SDLG, Sinotruk, Mahindra, Bobcat dan Doosan.

Untuk penjualan dan sewa alat berat ini dilakukan anak usaha seperti Intraco Penta Prima Servis dan Intraco Penta Wahan. Kata Petrus, perseroan berhasil membukukan laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk naik tipis 1,57% menjadi Rp 42,85 miliar pada kuartal pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 42,19 miliar.

Sementara pendapatan usaha perseroan turun 13,35% menjadi Rp 780,52 miliar pada kuartal pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 900,78 miliar. Perseroan mengalami penurunan di penjualan dari Rp 796,64 miliar pada 31 Maret 2012 menjadi Rp 675,43 miliar pada 31 Maret 2013.

Kemudian beban pokok pendapatan juga turun menjadi Rp 599,35 miliar pada kuartal pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 746,51 miliar. Laba kotor perseroan naik menjadi Rp181,16 miliar pada kuartal pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp154,28 miliar.

Tahun ini, perseroan tidak membagikan dividen kepada pemegang saham, karena dananya dialihkan untuk pengembangan bisnis perseroan,“Para pemegang saham telah sepakat untuk tidak membagikan dividen dari pencapaian laba bersih perseroan 2012 sebesar Rp12,4 miliar. Hal ini karena akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan dan modal kerja perseroan tahun ini," ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, perseroan pada tahun ini juga tidak hanya berfokus kepada pertambangan batu bara, tetapi melakukan bisnis lain ke agrobisnis dan infrastruktur. Hal ini disebabkan harga batu bara mengalami penurunan beberapa waktu belakangan ini, sehingga perusahaan melakukan bisnis lainnya, tapi batu bara menjadi fokus utama usaha perseroan. (nurul)