Imbal Hasil Reksa Dana Saham Stagnan

Dampak Penurunan Peringkat S&P

Rabu, 08/05/2013

NERACA

Jakarta- Ketidakpastian pemerintah soal kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi berimbas pada penurunan proyeksi ekonomi Indonesia oleh lembaga rating. Pemeringkat Standar and Poor’s menurunkan peringkat Indonesia dari positif ke stabil dan disusul Moody’s. Alhasil kondisi ini berimbas negatif terhadap investasi pasar modal.

Direktur Utama PT Trimegah Asset Management, Danny Thaher mengemukakan sepanjang tahun ini tingkat imbal hasil produk reksa dana saham mengalami kenaikan tipis atau cenderung stagnan,”Kemungkinan ada perpindahan alokasi portofolio nasabah dari reksa dana saham ke produk lainnya. Persepsi investor terhadap IHSG BEI sendiri sudah terlalu tinggi sehingga mereka mengalihkan portofolio investasi reksa dananya," ujarnya di Jakarta, Selasa (7/5).

Kendatipun demikian, kata Danny, perpindahan alokasi portofolio reksa dana merupakan hal wajar karena acuan investasi investor masih kepada momentum saat melakukan investasi awal (market timing)."Beberapa hal yang perlu disosialisasikan oleh manajer investasi kepada investor adalah bahwa investasi di reksa dana harusnya jangka panjang. Jadi 'market timing' bukan hal yang utama, namun lebih kepada penentuan dan kedisiplinan investor,"jelasnya.

Sementara merespon kondisi tersebut, Kepala Riset Trimegah Asset Management, Ivan Chamdani mengatakan, harus ada strategi baru dalam mengelola produk investasi ditengah penurunan peringkat Indonesia, “Harus ada strategi tertentu dalam mengelola produk reksa dana paska turunnya 'outlook' utang Indonesia,”katanya.

Dia menilai, produk investasi cukup sensitif oleh penurunan proyeksi sebuah lembaga pemeringkat dan karena itu perusahaan pengelola dana harus lebih berhati-hati dalam menetapkan portofolio investasi.

Namun, lanjut dia, pihaknya tetap optimis ekonomi Indonesia tetap tumbuh karena peringkat Indonesia masih di level BB+ (double plus) selama beberapa tahun ini. Dirinya menyampaikan, pihaknya akan lebih berhati-hati dalam mengelola dana investasi reksa dana.

Sebelumnya, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang pernah bilang, koreksi atas outlook Indonesia dari positif menjadi stabil berdampak negatif terhadap indeks BEI, "Kejatuhan IHSG berpeluang berlanjut jika pemerintah Indonesia tidak segera menaikkan harga BBM atau menurunkan subsidi BBM karena bukan mustahil bukan hanya outlook Indonesia yang diturunkan S&P menjadi stabil, tetapi credit rating Indonesia bisa juga diturunkan,”tandasnya.

Hal yang dikhawatirkan, imbuh dia, penurunan tersebut akan diikuti dua credit rating agency lainnya, yaitu Moody's & Fitch Rating. Karena itu, pemerintah seharusnya dapat segera memberi kepastian mengenai hal tersebut karena pelaku pasar masih dalam posisi wait and see.

Keluarnya informasi mengenai koreksi outlook oleh S&P inipun menjadi salah satu pendorong kejatuhan IHSG selama minggu lalu sebesar 53.03 poin atau sebesar 1.06%. Kejatuhan angka tersebut diiringi dengan aksi jual bersih (net sell) asing sebesar Rp 697.21 miliar sehingga selama 18 minggu, total aksi beli bersih (net buy) asing turun menjadi Rp 17.59 triliun. (nurul)