Menperin: Harga BBM Tak Lebihi Rp 6.500/Liter

Rabu, 08/05/2013

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan harga Bahan Bakar Minyak atau BBM bersubsidi pasti akan dinaikkan dan harganya tak lebih dari Rp 6.500/liter. "Sudah pasti akan dinaikkan. Saya menduga tidak lebih dari Rp 6.500/liter," kata Hidayat di Jakarta, Selasa (7/5).

Menurut Hidayat, pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan bertemu untuk membahas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara - Perubahan (APBN-P), guna memberikan kompensasi kepada rakyat yang kurang mampu. "Pemerintah dan tokoh-tokoh di DPR sedang melakukan perundingan. Anda akan lihat mulai besok Presiden menerima pimpinan parpol dalam rangka ini," tambahnya.

Hidayat memerkirakan harga BBM bersubsidi akan satu harga, bukan dua harga. "Most likely akan satu harga, sedang ditetapkan harganya," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Edi Hermantoro mengatakan nominal harga baru BBM subsidi akan dibahas bersama antar Kementerian."Mengenai harga, akan dibahas di Kementerian Keuangan. Kami tidak bisa usul harga. Hanya menyampaikan mengenai kondisi kebutuhan BBM dan pengendalian yang sudah dilakukan," kata Edy.

Edi menjelaskan wewenang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengusulkan perubahan postur APBN 2013 berdasarkan situasi yang berkembang. Dia mencontohkan, pada sisi pendapatan, harus dilakukan perhitungan kembali mengenai produksi migas dan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). Sedangkan dari sisi pengeluaran, diperlukan penambahan volume kuota BBM subsidi lantaran pada kuartal pertama 2013 terjadi kenaikan konsumsi premium sekitar 10% dan solar mencapai 8%. "ICP yang kami patok sekarang masih sekitar US$ 100 per barel. Tapi khusus Mei ini harganya sudah US$ 98 per barel. Kami akan kaji lagi dengan tren dalam tiga bulan ke depan berapa," jelasnya.

Tunggu Presiden

Ditemui terpisah, Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo menyatakan usulan penambahan kuota BBM bersubsidi sebesar 46 – 48 juta kiloliter. Namun dia belum mau membeberkan besaran harga baru subsidi BBM. "Kepastiannya diumumkan Presiden," ujarnya.

Menteri Perekonomian, Hatta Rajasa, Pemerintah sudah memperhitungkan secara cermat dampak yang akan terjadi bagi masyarakat kurang mampu akibat kenaikan harga BBM bersubsidi, dan saat ini sedang menghitung serta mencari mekanisme tepat terkait kompensasi yang akan diberikan.

“Akan ada dampak terhadap masyarakat yang miskin, inflasi akan naik ya tentu harga-harga akan meningkat, transportasi akan naik. Disinilah penting kita memberikan suatu kompensasi kepada masyarakat yang terkena (dampak) itu," ungkap Menteri Hatta Rajasa. "Tidak hanya masyarakat yang miskin yang (jumlahnya sekitar) 30 juta (orang) tapi juga yang near poor, dan juga yang sedikit di atas garis kemiskinan akan terkena. Oleh sebab itu ini harus kita berikan program yang disebut bantuan langsung sementara,” lanjutnya.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri atau Kadin Indonesia, Natsir Mansyur menegaskan pengusaha mendukung pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi dan menerapkan satu harga.

Terkait dengan kenaikan harga berbagai kebutuhan meski harga BBM bersubsidi belum naik menurutnya hal biasa. “Sudah pasti berdampaklah karena aspek psikologisnya itu. Pemerintah baru menyampaikan rencana saja, sudah naik (harga) barangnya gitu, apalagi sudah diumumkan. Sekarang, kalau kita lihat pendapat dunia usaha sih, dinaikkan saja secara keseluruhan harga BBM ini,” kata Natsir Mansyur.

Tidak demikian halnya dengan Yono, seorang pedagang di pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Menurutnya sejak rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi masih dalam tahap wacana, berbagai harga kebutuhan sudah naik sehingga ia khawatir harga akan terus melonjak jika harga BBM bersubsidi benar-benar naik.“Gula putih, mie instant per karton naik Rp 3.500 dan telur terutama itu dari harga Rp15 ribu sekarang sudah Rp19 ribu per kilonya. Kalau BBM naik, pasti otomatis mengganggu, (harga barang) semuanya pasti naik," kata Yono.

Yono berharap pemerintah tidak menaikan harga BBM bersubsidi karena menurutnya akan berdampak negatif terhadap profesinya sebagai pedagang dan masyarakat kurang mampu.“Pemerintah jangan naikin BBM dulu, deh! Orang kecil kayak kita itu pedagang nambah modal gitu, ya pasti menurun. Dari konsumen, biasanya kalau barang naik dikurangi dari daya belinya,” lanjutnya.

Pemerintah sebelumnya sudah menyampaikan kemungkinan kenaikan harga BBM bersubsidi. Yang saat ini Rp 4.500 per liter akan naik menjadi antara Rp 5.500 per liter hingga Rp 6.500 per liter. Rencana pemerintah menerapkan kebijakan dua harga untuk BBM bersubsidi akhirnya batal karena sulit saat implementasi di lapangan.

Dengan menerapkan harga BBM bersubsidi Rp 4.500 per liter untuk angkutan umum dan sepeda motor, sementara Rp 6.500 per liter untuk kendaraan pribadi dan kendaraan dinas milik pemerintah akan memicu keributan. Sistem dua harga juga berportensi disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mendapat keuntungan dari adanya perbedaan harga BBM bersubsidi.