Pembangunan Industri Garam di Nagakeo Mangkrak

Terhambat Masalah Lahan

Jumat, 03/05/2013

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri Perindustrian Alex Traubun mengaku geram karena prospek pembangunan pabrik pengolahan garam senilai US$ 20 juta di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur belum juga tuntas akibat permasalahan lahan. Padahal dia sudah mengupayakan pembangunannya sejak empat tahun lalu.

Alex mengatakan, bola panas tersebut sebenarnya di tangan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Sebab, 770 hektar dari total 1.000 hektar lahan tambak garam itu statusnya tanah negara. Selama pembebasan lahan tak selesai, Perusahaan Australia Cheetam Salt Ltd yang menjadi investor utama belum bisa memulai pembangunan pabrik.

"Itu tanah negara yang harus dibebaskan untuk dimanfaatkan oleh Cheetam, sisanya tanah adat. Yang paling menentukan BPN. Jangan lah terlalu lama, permasalahan ini putar-putar terus seperti lingkaran setan," ujar Alex di kantornya, Jakarta, Kamis (2/5).

Wamen Perindustrian heran sebab dari segi perencanaan awal, pembebasan lahan sebenarnya tidak masuk hitungan hambatan. Dia juga melayangkan kritik pada pemerintah daerah Nagekeo yang belum menyiapkan skema perizinan bila Cheetam jadi berinvestasi.

"Sampai saya mau turun (dari jabatan Wamen) eh ternyata belum selesai juga. Saya juga frustrasi. Lahan itu sama Cheetam sudah dibor, dia sudah yakin itu lahan paling berkualitas untuk garam. Kalau investor sudah mau ya harus kita dorong. Pemda segera formulasikan kebijakan-kebijakan apa yang harus dipatuhi investor, supaya semua sudah disiapkan, dan BPN jangan terlalu lama lah," jelasnya.

Dia mengatakan, dengan alasan apapun investasi di Nagekeo harus tuntas sebelum masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II berakhir. Alex yakin, meski masih lambat, realisasi pabrik pengolahan garam itu bisa terwujud. "Tahun depan harus selesai," tegasnya.

Di akhir tahun lalu, pihak Cheetam masih harus melakukan dialog dengan pemerintah daerah dan masyarakat terkait rencana tersebut. Perusahaan asal Negeri Kanguru itu berharap model usahanya berupa lahan inti dan plasma, dengan melibatkan koperasi warga setempat.

PT Cheetham Garam Indonesia, yang menjadi pelaksana proyek ini menargetkan memproduksi 250.000 ton garam per tahun dari proyek tersebut. Target sebesar 190.000 ton merupakan garam hasil lahan inti dan 60.000 ton per tahun dari garam plasma di lahan seluas 1.000 hektar. "Seandainya dialog dengan pemda dan isu lahan lancar, seharusnya pembangunan sudah bisa dimulai pada awal 2013," ungkapnya.

Produktivitas garam di Nagekeo diperkirakan mencapai 100 ton per hektar per musim. Kemenperin menyatakan pembangunan industri garam di NTT ini merupakan bagian dari upaya revitalisasi garam nasional.

Importir Garam

Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia, Rokhmin Dahuri sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia yang 3/4 wilayahnya berupa laut dengan lebih 13.400 pulau yang dirangkai oleh garis pantai sepanjang 95.200 km (terpanjang kedua setelah Kanada), Indonesia sejatinya memiliki potensi produksi SDA (sumber daya alam) pesisir dan lautan yang sangat besar dan beragam. Salah satu potensi SDA kelautan (pesisir dan lautan) itu adalah garam.

Dari 40 kabupaten/kota produsen garam nasional yang tersebar di 10 provinsi (Jabar, Jateng, Jatim, Bali, NTB, NTT, Sulteng, Sulsel, Sulut, dan Gorontalo) dengan luas total lahan 21.876,05 ha pada tahun 2011 dapat diproduksi sebesar 1,4 juta ton. Sedangka, total produksi garam nasional pada 2008, 2009, dan 2010 berturut-turut sebesar 1,2 juta ton, 1,37 juta ton, dan 0,031 juta ton. Sampai sekarang Indonesia belum mampu memproduksi garam industri, sehingga seluruh kebutuhan garam industri diimpor dari berbagai negara, khususnya dari Australia dan India.

Rendahnya produksi garam nasional disebabkan karena produktivitas yang masih sangat rendah, yakni sekitar 60 ton/ha/tahun. Sedangkan, produktivitas usaha garam di Australia dan India kini rata-rata mencapai 200 ton/ha/tahun.

Selain itu, Indonesia belum mengusahakan seluruh lahan pesisir yang potensial atau cocok (suitable) untuk tambak (produksi) garam, yang diperkirakan mencapai 100.000 ha. Apabila di tahun 2012 ini kita mampu mengembangkan usaha tambak garam seluas 40.000 ha (40% dari total luas potensial) dengan produktivitas rata-rata 100 ton/ha/tahun (setengah dari Australia dan India), maka kita akan dapat menghasilkan garam nasional sebesar 4 juta ton.

Jika diasumsikan total kebutuhan garam nasional untuk konsumsi dan industri pada tahun ini meningkat 15 persen dari tahun 2011, maka total kebutuhan garam nasional pada 2012 sekitar 3,91 juta ton. Artinya, kita tidak perlu impor garam.