Adaro Energy Investasikan Dana US$ 4 Miliar - Bangun PLTU Batang

NERACA

Jakarta-PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mengalokasikan dana sebesar US$4 miliar untuk pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang akan digarap perseroan di wilayah Batang, Jawa Tengah. “Total investasi sebesar US$4 miliar untuk pembangunan PLTU, dan diperkirakan 2017 akan mulai beroperasi,” kata Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir di Jakarta pada akhir pekan kemarin.

Menurutnya, pembangunan PLTU ini berkapasitas 2x1.000 megawatt (mw) dan berkontribusi untuk penyediaan listrik se Jawa-Bali. Dalam operasionalnya, PLTU tersebut diperkirakan akan mengonsumsi sebesar 7,5 juta ton batu bara dengan kadar kalori sebesar 4.500 kilo calori (kcal) per kilogram (kg). Adapun penyuplainya yaitu, PT Kaltim Prima Coal dan Adaro.

Pembangunan PLTU tersebut, lanjut dia, merupakan bagian dari program private publik dan saat ini masih dalam tahap pembebasan lahan, serta menyangkut Analisis Dampak Lingkungan (Amdal). “Kita tetap upayakan pembangunannya, sekarang progressnya di atas 80% dalam hal pembebasan lahan.” ucapnya

Pelemahan harga batu bara yang terjadi sepanjang 2012, kata dia menjadi pemicu anjloknya laba perseroan yang turun sebesar 30% atau menjadi US$ 385,35 juta dari tahun sebelumnya sebesar US$ 550,35 juta. “Usaha kami dipengaruhi oleh pasar batubara dunia sehingga tidak dapat terhindar dari dampak pelemahan harga batubara yang terjadi di hampir sepanjang tahun 2012.” jelasnya.

Target Perseroan

Produksi dan volume penjualan batubara Adaro untuk tahun buku 2012 menurun masing-masing sebesar 1,0% dan 4,3% menjadi 47,2 juta ton dan 48,6 juta ton. Salah satu upaya yang dilakukan, lanjut dia, pihaknya akan fokus pada konsolidasi dan efisiensi untuk memperkuat kinerja perseroan. Termasuk untuk menyiasati adanya rencana pemerintah menaikkan BBM.

Sementara di tahun ini, perseroan menargetkan produksi batu bara sebanyak 50-53 juta ton, atau naik tipis dari target produksi pada tahun sebelumnya sebesar 47-50 juta ton. Dari target 47-50 juta ton di tahun lalu tersebut, perseroan berhasil memproduksi 47,2 juta ton.

Corporate Secretary ADRO, Devindra Ratzarwin mengatakan, di tahun 2013 perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$150 juta-US$200 juta yang berasal dari kas internal perseroan serta standby facility. Penggunaan dana tersebut antara lain akan digunakan perseroan untuk pengembagan usaha, seperti mengakuisisi lahan dan maintanance alat-alat produksi. “Fifty-fifty akan kami gunakan untuk akusisi lahan dan peningkatan usaha perseroan,” jelasnya.

Bagi Dividen

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) kemarin, perseroan berencana membagikan dividen US$ 117,07 juta atau sebesar Rp 1,1 triliun kepada pemegang saham. Dividen final tersebut terbagi menjadi US$ 76,77 juta yang telah dibayarkan 12 Juni 2012 dan 15 Januari 2013 lalu, sedang sebesar US$ 40,3 juta akan dibayarkan sebagai dividen tunai. Dividen tersebut setara 30,38% dari laba Adaro di 2012.

Disebutkan Garibaldi Thohir, sebesar US$ 264,43 juta akan dimasukkan sebagai laba ditahan, dan dana sebesar US$ 3,85 juta akan digunakan sebagai penyisihan cadangan. Jadwal pembayaran dividen tunai dimaksud akan diumumkan dalam dua surat kabar harian nasional dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(lia)

Related posts