Harga Fluktuatif, Industri Kertas Tetap Tumbuh

NERACA

Jakarta - Krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika nampaknya berpengaruh besar terhadap industri kertas dalam negeri. Pasalnya ekspor kertas Indonesia cukup besar ke sana. Namun pelaku industri pulp dan kertas nasional optimistis ekspor produknya akan tetap tumbuh pada tahun ini, meskipun harga kertas di dunia masih berfluktuatif akibat krisis ekonomi di Eropa.

Misbahul Huda, Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), menuturkan industri pulp dan kertas nasional menduduki peringkat ke-9 di dunia untuk pulp dan peringkat ke-7 untuk produksi kertas sekaligus membuktikan negara ini masih mampu bersaing di level global.

Dia mengungkapkan peluang untuk menggenjot pertumbuhan industri pulp dan kertas masih terbuka lebar karena saat ini penggunaan hutan tanaman industri seluas 10 juta hektare baru mencapai sekitar 4 juta hektare.\"Peluangnya masih tinggi. Apalagi pertumbuhan hutan di Indonesia empat kali lebih cepat dibandingkan negara subtropis atau dingin,\" paparnya.

Dia menuturkan pemberlakuan SVLK pada Januari tahun ini akan menggenjot ekspor karena daya saing produk hutan nasional akan meningkat dibandingkan produk dari negara lain. Agus Sarsito, Sekretaris Jendral Kementerian Kehutanan, mengatakan total dokumen V-Legal yang dikeluarkan hingga akhir kuartal I/2013 mencapai 19.531 dokumen dengan volume yang diizinkan mencapai 2,07 juta ton atau senilai US$1,41 miliar.

Dokumen V-Legal merupakan surat kelengkapan yang menyatakan bahwa produk kayu tujuan ekspor dari Indonesia telah memenuhi standar verifikasi legalitas kayu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Mardjoko menambahkan sistem SVLK tersebut membuat proses pengurusan kepabeanan di negara tujuan ekspor lebih cepat dibandingkan sebelumnya sehingga eskportir dapat meningkatkan kuantitas pengiriman produk mereka.

“Kalau tanpa SVLK biasanya kepengurusannya membutuhkan waktu satu minggu hingga satu bulan, dengan adanya SVLK hanya menghabiskan waktu 1-2 hari saja. Sejauh ini, baru Indonesia yang sudah menerapkan standar SVLK di dunia,” jelas dia.

Kepercayaan Dunia

Selain itu, Misbahul mengungkapkan kepercayaan dunia terhadap Indonesia juga ditandai dengan diselenggarakannya pameran Pulp & Paper Asia 2013 yang diikuti oleh peserta dari berbagai negara seperti Prancis, Malaysia, Rusia, Taiwan, dan lain sebagainya.

Tahun ini, lanjutnya, pameran tersebut menargetkan transaksi mencapai Rp2 miliar dengan pengunjung lebih dari 2.000 orang dan memarkan sejumlah produk dan teknologi pengolahan hasil hutan yang efisien dan ramah lingkungan.

Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan Mardjoko menuturkan pemberlakuan sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) akan meningkatkan kepercayaan para importir. \"Kami optimistis ekspor in masih tetap tumbuh. Secara nilai mungkin sulit dihitung karena harga dunia cenderung berubah-ubah,\" katanya.

Data sementara SILK Online yang diperoleh Bisnis memperlihatkan nilai ekspor produk pulp dan kertas Indonesia sepanjang kuartal I/2013 mencapai US$561,97 juta, naik 2,02% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Adapun, ekspor pulp sepanjang 3 bulan pertama tahun ini tercatat senilai US$411,47 juta, naik 2,51% dibandingkan periode sama tahun lalu US$401,39 juta. Sementara itu, ekspor produk kertas pada periode tersebut naik tipis 0,69% dari US$149,46 juta pada kuartal I/2012 menjadi US$140,59 juta.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper Kusnan Rahmin memperkirakan Asia bakal menjadi pasar pulp dan kertas dengan pertumbuhan tertinggi beberapa tahun mendatang. \"Industri pulp dan kertas tumbuh cepat, terutama di Asia. Permintaan pulp untuk Unocoated Wood Free di Asia bisa tumbuh dengan CAGR 3,6% per tahun di periode 2010--2025,\" ujarnya.

Kusnan menyebut tingkat pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan CAGR pertumbuhan pulp UWF global yang mencapai 1,3 % per tahun di periode 2010--2025. Pada 2025, permintaan global untuk pulp UWF diprediksi mencapai 70 juta metrik ton.

Sebagai tambahan informasi, UWF merupakan bubur kertas yang digunakan untuk memproduksi art paper. Jenis ini berbeda dengan pulp BHKP yang digunakan untuk meghasilkan kertas biasa. Industri pulp dan kertas Indonesia, lanjutnya, kesulitan meningkatkan kapasitas produksi.

Hal tersebut disebabkan stagnannya pasokan kayu sebagai bahan baku kedua komoditas tersebut akibat sulitnya perluasan lahan Hutan Tanaman Industri. \"Luas HTI Indonesia bahkan lebih kecil dibandingkan dengan Jepang. Padahal luas Indonesia beberapa kali lipat jika dibandingkan dengan Jepang,\" imbuhnya.

BERITA TERKAIT

Kapitalisasi Pasar di Bursa Tumbuh 0,24%

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam sepekan menjelang libur panjang Idul…

Produksi Tumbuh Lampaui 17%, IKM Yogyakarta Juga Inovatif

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian gencar memacu produktivitas dan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) nasional. Sektor yang menjadi…

Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun - Dukung Industri 4.0

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…