Penjualan VIVA Masih Setengah Hati - Masih Kaji Harga Ideal

NERACA Jakarta – Rencana PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) menjual seluruh sahamnya masih setengah hati. Pasalnya, keputusan penjualan saham tersebut belum juga menemui titik terang kejelasan penjualan dan harga yang ideal. Bahkan pembeli tunggal, pemilik CT Corp Chairul Tanjung (CT) dibikin geram lantaran belum ada jawaban serius dari VIVA. Merespon hal tersebut, Komisaris Utama PT Viva Media Tbk (VIVA) Anindya N Bakrie belum banyak berkomentar banyak terkait isu penjualan anak usaha Bakrie tersebut, “Soal VIVA saya no comment dulu deh, mending ngomongin operasional VIVA sajalah. VIVA revenue-nya bagus, semua kepentingan senang,”katanya di Jakarta, Kamis (18/4). Soal deal harga saham sekitar Rp 17 triliun, dirinya juga belum mau menjawab. Asal tahu saja, sebelumnya Chairul Tanjung mengaku bingung akan kejelasan apakah saham PT Viva Media milik Grup Bakrie yang senilai US$ 1,8 miliar atau sekira Rp 17,5 triliun jadi dijual atau tidak. Sampai saat ini pihaknya masih menunggu kabar dari pihak VIVA apakah jadi dijual atau tidak.\\\"Tanya kepada yang mau jual. Dia mau jual atau tidak,\\\"tandasnya.

Sekadar informasi, sebelumnya CT Group tertarik membeli 100% saham VIVA dengan harga US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 18 triliun. CT Corp dikabarkan tidak akan menggandeng mitra strategis untuk mengakuisisi perusahaan media milik Grup Bakrie tersebut.

CT Corp melalui Trans Corp kini mengoperasikan Trans TV, Trans 7, dan Detikcom. Sementara VIVA merupakan perusahaan media yang membawahi stasiun televisi TV One dan portal berita Vivanews.com.

Namun, CT tidak bersedia menceritakan bagaimana kelanjutan rencana pembelian tersebut. Justru, dia ingin mempertegas berapa harga yang ditawarkan pihak penjual. Sebab, dirinya sudah siap dengan dana berapapun nilai tawarannya.\\\"Kalau mereka tidak jual, maka kami tidak mau beli,\\\" ujar CT.

Sebelumnya Hary Tanoesoedibjo menyatakan mundur dalam rencana pembelian VIVA. Hary Tanoe yang merupakan pemilik Grup MNC menilai valuasi saham Visi Media senilai US$ 1,8 miliar terlalu mahal. MNC saat ini memiliki tiga stasiun televisi swasta, yakni RCTI, MNC TV, dan Global TV. Selain TV, MNC merangsek ke bisnis TV berbayar, internet, radio, dan media cetak.

Pengamat pasar modal Yanuar Rizki pernah bilang, rencana Chairul Tanjung membeli VIVA sangat mungkin monopoli industri media akan terjadi semakin masif. Namun begitu, dirinya menilai, penawaran CT untuk membeli VIVA lebih sarat akan unsur politisnya. Pasalnya, dari Anin Bakrie selalu membantah tidak mau jual. Lalu kalaupun dijual maka harganya akan selangit.

Meskipun Anin Bakrie mengaku tidak akan menjual, tetapi kalau dikejar terus bisa jadi akan dijual dengan harga tinggi. Harganya bisa tinggi karena fungsi strategis media begitu besar. Apalagi VIVA punya lisensi piala dunia yang itu akan digelar pada saat pemilu.

Bagi pengamat pasar modal, Agus Irfani, rencana CT Corp membeli saham VIVA dinilai hanya sebagai “pancingan” pergerakan harga saham VIVA. Pasalnya, saat rumor tersebut beredar harga saham tersebut terus mengalami peningkatan. “Bisa jadi sebagai pemancing. Dari aspek psikologis pasar, adanya rumor ini sahamnya akan baik.”paparnya. (bani)

Related posts