Kinerja Sektor Perkebunan Dinilai Masih Rapuh

NERACA

Jakarta- Belum pulihnya harga komoditas Crude Palm Oil (CPO) dan adanya pembatasan ekspor dinilai masih akan mempengruhi kinerja emiten yang bergerak di bidang tersebut. Tidak terkecuali bagi pergerakan sahamnya di kuartal kedua 2013. “Untuk kuartal kedua belum banyak berubah karena pergerakan harga CPO belum cukup baik. Kalaupun ada kenaikan maka hanya tipis setelah itu profit taking.” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Rabu (17/4).

Kontrak yang diperoleh emiten, menurut dia, yang mengalami kemerosotan berpengaruh cukup signifikan terhadap harga jual emiten-emiten perkebunan atau yang bergerak pada komoditas minyak sawit.

Meskipun terdapat emiten yang tercatat berhasil mengalami peningkatan penjualan, seperti halnya PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang membukukan kenaikan pendapatan sebesar 5,5%.“Kenaikan AALI pun ditunjang dengan kenaikan volume penjualan untuk kompensasi penurunan harga jual CPO perseroan. Di sisi lain mereka memiliki HPP yang tidak sedikit, apakah kenaikan tipis penjualan bisa mengcover kenaikan HPP yang tumbuh melebihi kenaikan penjualan?” paparnya.

Dalam keterangan yang diterbitkan perseroan, AALI mencapai pendapatan sekitar Rp2,72 triliun pada kuartal pertama 2013 atau naik 5,5% dari periode sama tahun sebelumnya Rp2,58 triliun yang antara lain dikontribusikan dari penjualan CPO sebesar 90,9% pada kuartal pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya 89,3%.

Penjualan Astra Agro Lestari

Terjadinya peningkatan pendapatan tersebut didukung oleh kenaikan volume penjualan crude palm oil (CPO) sebesar 28% menjadi 382.900 ton pada kuartal pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya 299.100 ton. Penjualan perseroan terbesar masih untuk lokal mencapai 96,3% pada kuartal pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya 95,8%. Sementara penjualan ekspor perseroan turun dari 4,2% pada kuartal pertama 2012 menjadi 3,7% pada kuartal pertama 2013.

Kenaikan volume penjualan, menurut Reza, dapat menjadi strategi emiten yang bergerak di bidang ini untuk mendukung pertumbuhan kinerjanya ke depan. selain itu, emiten CPO juga dapat meningkatkan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan CPO sebagai bahan bakunya, antara lain industri farmasi dan olahan makanan. Karena itu, meskipun tidak secemerlang sektor lainnya, sektor ini masih memiliki peluang pertumbuhan karena masih berhubungan dengan sektor konsumer.

Senada dengan Reza, analis saham Andalan Artha Advisindo (AAA) Securities, Andy Wibowo Gunawan pernah mengatakan, saham emiten perkebunan terutama yang bisnis intinya minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan masih mengalami tekanan pada tahun ini. Emiten perkebunan saat ini masih cukup sulit untuk menghindari volatilitas harga CPO dunia sehingga membuat kinerjanya mengalami perlambatan pertumbuhan. “Untuk menghindari kerugian cukup sulit, kondisi itu yang membuat pelaku pasar enggan menempatkan dananya di dalam saham perkebunan. Namun, kerugian emiten dapat diminimalisir,” ucapnya.

Menurutnya, salah satu upaya untuk meminimalisir kerugian dapat dilakukan salah dengan memperbanyak penyimpanan (storage) minyak sawit mentah. Setelah harga CPO dinilai stabil perusahaan dapat menjualnya sehingga memperoleh keuntungan.

Dari data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), pada kuartal pertama 2013, indeks saham sektor perkebunan mengalami koreksi sebesar 3,48%. Kinerja saham perkebunan yang mengalami penurunan pada periode yang sama antara lain dicatatkan oleh London Sumatera Plantation Tbk (LSIP) yang turun sebesar 20,43% ke posisi R1.930 per saham, Sampoerna Agro Tbk (SGRO) turun 22% ke Rp2.100 per saham, dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) turun 14,63% ke Rp1.050 per saham. (lia)

Related posts