Kalla Group Garap Pembangkit Listrik Panas Bumi - Dorong Penggunaan Energi Terbarukan

NERACA

Jakarta - Kalla Group berkomitmen terus mendorong penggunaan energi terbarukan. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Kalla Group berencana membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (Geothermal Power Plant). Langkah ini melanjutkan komitmen Kalla Group setelah sebelumnya membangun pembangkit listrik tenaga air / PLTA (Hydro Power Plant).

Rencana pengembangan listrik Geothermal terungkap dalam ekspose rencana pembangunan power plant tenaga panas bumi di lokasi Gunung Lompobattang, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kegiatan ekspose yang dihadiri sejumlah Muspida Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Direksi Kalla Group berlangsung di Wisma Kalla, Makassar.

Presiden Direktur Kalla Group, Fatimah Kalla mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 mendatang diharapkan pasokan listrik 20% diperoleh dari energi terbarukan. Untuk itu sejak dini diperlukan upaya untuk mencari potensi energi terbarukan yang baru. \"Salah satu yang potensial diekploirasi di Sulsel adalah energi panas bumi yang ada di Gunung Lompobattang,\" kata Fatimah, seperti dikutip dari siaran pernya, Senin (15/4).

Fatimah menambahkan bahwa energi listrik merupakan salah satu penopang utama dalam pergerakan ekonomi masyarakat. \"Hal inilah yang mendorong kami untuk berinvestasi di bidang energi khususnya pada pengembangan potensi energi terbarukan,\" ujarnya.

Untuk itu, lanjut Fatimah, Kalla Group berharap dukungan semua pihak utamanya dari pihak Pemprov Sulsel agar pembangunan ini bisa berjalan lancar. \"Insya Allah jika sudah beroperasi nanti, potensi listrik di Sulsel tidak akan mengalami kekurangan lagi,\" ucap Fatimah.

Asisten III Bidang Kesra Setda Pemprrov. Sulsel Amal Natsir mengatakan bahwa kondisi geografis Sulsel sangat potensial dalam pengembangan energi terbarukan. \"Setidaknya ada 16 titik-titik potensial yang bisa diekspoirasi salah satunya di Gunung Lompobattang ini,\" tegasnya.

Amal Natsir, mewakili Pemprov Sulsel juga mengapresiasi Kalla Group yang juga fokus berinvestasi untuk energi listrik. \"Terima kasih kepada Kalla Group yang sudah memprakarsai pembangunan power plant ini, semoga bisa berjalan sesuai rencana,\" harapnya. Pembangunan power plant Geothermal ini membutuhkan anggaran USD 33 juta dengan rencana pembangunan selama empat tahun.

Sekadar catatan, saat ini Kalla Group telah mengoperasikan dan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso. Nantinya, PLTA Poso akan menyuplai kebutuhan listrik di kawasan Sulawesi. Hadirnya PLTA Poso diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Sulawesi.

PLTA Poso rencananya akan dibangun di tiga tempat. Yakni PLTA Poso I dengan kapasitas 60 megawatt (MW), PLTA Poso II (195 MW), dan PLTA Poso III (320 MW). PLTA yang sudah beroperasi tahun ini adalah PLTA Poso II dengan memakan biaya sekitar Rp 4 triliun.

BERITA TERKAIT

Bidik Penjualan Rp 5 Triliun - Produksi CPO Mahkota Group Capai 41.767 Ton

NERACA Jakarta -PT Mahkota Group Tbk. (MGRO) membukukan produksi minyak sawit mentah Januari—Februari 2019 sebanyak 41.767 ton. Pada Januari 2019,…

Disarankan Tambah Insentif untuk Dorong Ekspor Perhiasan

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menyatakan saat ini masih diperlukan beragam insentif…

Keberhasilan Program Sejuta Rumah Dorong Hunian Layak

Keberhasilan Program Sejuta Rumah Dorong Hunian Layak NERACA Jakarta - Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Lebih dari 4 Ribu Santri Jadi Wirausaha Baru Dibina

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian hingga saat ini membina dan memberikan pelatihan tentang kewirausahaan kepada 4.720 santri. Program strategis yang…

Komoditas Rempah Sasar Peluang Pasar Ekspor Baru

NERACA Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menyebutkan komoditas rempah menjadi peluang Indonesia untuk menyasar pasar ekspor baru yang bukan…

Vokasi “Link and Match” SMK dan Industri Lampaui Target

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan sebanyak 2.600 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 750 industri yang akan terlibat dalam program…