Bahayanya Genetic Imperialism - Isroil Samihardjo (pejabat BIN)

Penjajahan secara fisik seperti di zaman kolonial Belanda, mungkin tidak lagi terjadi di Indonesia. Yang terjadi saat ini adalah penjajahan secara ekonomi. Salah satu modus yang ditemukan adalah dalam bentuk bioterorisme khususnya melalui serangan wabah penyakit yang sengaja disebarkan ke suatu negara. Jika tak segera ditanggulangi, negara bisa bangkrut karena kerugiannya yang sangat besar.

Pengamat antiteror Isroil Samihardjo yang juga pejabat di Badan Intelijen Negara (BIN) menamakan wabah penyakit yang dibawa masuk ke Indonesia untuk kepentingan ekonomi atau menarik keuntungan itu sebagai penjajahan genetika (genetic imperialism). Berikut hasil tanya jawabnya dengan Neraca.

Ancaman bioterorisme itu sejak kapan?

Wow itu sudah lama, sejak Perang Dunia I sudah ada. Senjata biologi itu sudah ada sejak itu. Bioteror itu menyebabkan ketakutan. Sedangkan senjata biologi menyebabkan kematian.

Contohnya?

Juni 2005 KBRI di Canberra, Australia diserang anthrax, sehingga harus disterilkan selama satu minggu. Seminggu KBRI ditutup. Virus anthrax itu bentuknya serbuk yang mampu bertahan hingga puluhan tahun.

Pada 23 April 2012, Kedutaan Besar Prancis di Jakarta diserang ‘anthrax’. Tapi, Kepala BIN bilang itu bukan anthrax. Jadi keadaan aman. Apa jadinya jika jawabannya masih dalam penyelidikan. Kasus lainnya terjadi di Amerika Serikat dan di Kuba.

Jadi senjata biologi itu tidak hanya melalui virus flu burung?

Ooh bukan, bukan.

Lalu antisipasinya bagaimana?

BIN kan tidak mengantisipasi. Kita kami memperkirakan keadaan.

Lalu apa tendensi adanya bioterorisme seperti yang diungkapkan Siti Fadilah Supari?

Ini perang ekonomi biasa. Lebih ke bisnis. Seperti perang, perang itu ada yang konvensional dan non-konvensional. Sekarang perang itu tidak harus dar der dor. Dengan anthrax, misalnya.

Apa yang harus diantisipasi?

Dalam teori ketidakseimbangan, orang menerima hal-hal buruk, cukup dua kata. Misalnya, nuklir itu bahaya. Langsung masyarakat menerima. Tapi, kalau kita katakana bahwa PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) itu sangat berguna, harus diberitahukan pemahaman hingga sejelas-jelasnya dulu.

Pemerintah kita juga sudah aware. Misalnya dengan membentuk Komisi Nasional Zoonosis di bawah Kantor Kemenko Kesra. Lalu ada lagi Komisi Nasional Penyakit Infeksi dan New Emerging Desease.

Anda bilang, pemerintah berhasil menyelamatkan triliunan rupiah?

Bukan secara langsung. Kalau terjadi bencana wabah flu burung, kerugian materialnya mencapai triliunan rupiah. Lalu dari pembelian vaksin flu burung, yang dikorup saja mencapai 400 sekian miliar rupiah melalui proyek di Komisi Nasional Pengendalian Flu Burung.

Jadi, kita itu seperti cleaning service, kalau bersih diam saja, kalu kotor dicaci-maki. Kalau meja ini bersih,nggak ada yang ingat cleaning service. Tapi, coba kalau ada tai cicak di sini. Petugas cleaning service-nya dipanggil, dicaci-maki, kenapa kok ada tai cicak disini. Padahal kita sudah menyelamatkan ratusan miliar rupiah uang negara. Yang namanya intelijen itu, berhasil tidak diakui, salah dicaci-maki.

Padahal triliunan rupiah berhasil kita selamatkan. Lalu contoh lainnya mengapa flu babi tak masuk ke Indonesia. Mengapa flu itik tidak seheboh flu burung. Tapi yang jelas, yang menyebarkan bukan pemerintah, tapi orang asing. (saksono)

Related posts