Kejayaan Saham Sektor Tambangan Mulai Pudar - Turun Peringkat Kapitalisasi

NERACA

Jakarta –Masa keemasan sektor pertambangan di pasar modal tahun ini telah lewat. Pasalnya, seiring dengan menurunnya harga komoditas dunia juga berdampak pada peringkat kinerja saham sektor tambang.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan, kapitalisasi saham sektor pertambangan turun peringkat dari sebelumnya berada diposisi dua. Penyebabnya adalah menurunnya kinerja perushaan yang otomatis menurunkan laba, “Sektor tambang turun peringkat di nomor buncit dari sebelumnya berada di peringkat kedua, “katanya di Jakarta, Rabu (10/4).

Kata Ito, saat ini peringkat pertama ada di sektor perbankan, kedua sektor konsumer, ketiga pada sektor infrastruktur dan disusul sektor properti. Sementara sektor tambang, berada di urutan terakhir karena kinerja harga saham turun seiring dengan turunnya kinerja keuangan dan laba.

Meskipun demikian, lanjut Ito, sektor tambang pertumbuhannya masih berkisar 20% karena bisa dikompensasi dengan emiten lain. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan, minat investasi di sektor pertambangan turun menjadi 17% pada 2012, di tahun sebelumnya 20%. Para investor bergeser ke sektor manufaktur.

Sektor Perbankan

Dia juga menegaskan, tahun ini pertumbuhan rata-rata seluruh emiten diyakini masih bagus, khususnya sektor perbankan, “Pertumbuhan bagus, September

2012 harga-harga saham mengalami kenaikkan. Mungkin sekitar 20%. Kita bisa lihat dari banyak emiten perbankan pertumbuhan labanya naik diatas 20%. Sementara emiten yang labanya menurun dari pertambangan batubara, “ungkapnya.

Dibandingkan negara tetangga, berdasarkan performance 2011 kinerja emiten Indonesia jauh diatas Malaysia, Singapura, Thailand, Hongkong, Cina dan Jepang dengan pertumbuhan laba emiten masih diatas 40%.

Ito juga menjelaskan, dana asing yang masuk lebih dari Rp 18 triliun, tetapi jika melihat kapitalisasi pasar lebih dari Rp 4700 triliun. Jumlah tersebut terlalu kecil sehingga kenaikkan indeks tertinggi. Artinya apa, harga saham terkerek dan indeks harga saham gabungan (IHSG) juga ikut alami kenaikkan.

Menurutnya, kenaikkan indeks selama triwulan pertama 2013 karena naiknya kepercayaan investor dalam dan luar negeri mengenai prospek saham-saham di BEI\", jelasnya. \"Mereka mlihat dari kinerja fundamental historis emiten di Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan dengan emiten di bursa negara lain. Emiten-emiten di Indonesia menjadi pilihan yang menarik untuk investasi. Tapi investor asing juga menginvestasikan uangnya di bursa negara lain. Jadi tidak semua uang mengalir ke bursa Indonesia,”jelasnya. (nurul)

BERITA TERKAIT

Dukung Kelancaran Arus Mudik dan Balik, Direksi Pertamina Turun ke Lapangan

Jakarta-Totalitas Pertamina dalam melayani masyarakat, mendapat apresiasi berbagai kalangan. Dukungan BUMN energi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam kelancaran…

Sektor Produksi - Industri Galangan Kapal Ingin Bea Masuk Komponen Diturunkan

NERACA Jakarta – Industri galangan kapal menginginkan bea masuk komponen diturunkan dari 5-12 persen menjadi hingga nol persen untuk meningkatkan…

Menperin Incar Investasi Sektor Kimia Hingga Baja

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan kerja sama bilateral dengan Jepang di bidang ekonomi, termasuk peningkatan investasi sektor…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BPII Terima Dividen Tunai Rp 12,99 Miliar

PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) pada tanggal 12 Juni 2019 memperoleh dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp12,99 miliar…

Kerugian Steady Safe Susut Hingga 54%

Meskipun masih mencatatkan rugi di kuartal pertama 2019, PT Steady Safe Tbk (SAFE) mengklaim rugi bersih yang dibukukan senilai Rp1,809…

Volume Penjualan SMCB Masih Terkoreksi

Lesunya pasar semen dalam negeri dirasakan betul oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB). Perusahaan yang dulunya PT Holcim Indonesia…