Kinerja Bagus, Asing Berambisi Jadi Pengendali Saham - Saham Perbankan Tumbuh 25%

NERACA

Jakarta - Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Haryajid Ramelan mengatakan, transaksi investor asing di pasar saham adalah hal yang wajar, kecuali jika terjadi transaksi yang mencurigakan. Sementara minat investor asing untuk menjadi pengendali saham perbankan saat ini, antara lain didorong oleh kinerja saham perbankan yang dalam tiga sampai dengan empat tahun terakhir mengalami pertumbuhan sekitar 25%. “Untuk menjadi saham pengendali di perbankan, minatnya cukup besar,”katanya kepada Neraca di Jakarta, kemarin

Hal tersebut, menurut dia, juga didukung dengan kondisi Indonesia saat ini yang dinilai sebagai negara potensial, baik dari jumlah penduduknya maupun kondisi perekonomian yang tumbuh positif. Oleh karena itu, tidak hanya investor lokal yang tertarik, namun juga investor asing menunjukkan minat yang besar.

Minat asing untuk menguasai saham perbankan, utamanya adalah terhadap perbankan yang memiliki prospek pertumbuhan yang sangat baik yang dilakukan melalui pembelian saham dalam level tertentu. Dan akan dilaporkan setelah jumlah sahamnya mencapai level tertentu. “Jika sudah mencapai level tertentu baru diumumkan. Kalau belum sampai, dia akan keep terus. Ini menjadi salah satu strategi bisnis.” jelasnya.

Meskipun demikian, sebesar apa pun pembelian saham oleh investor, lanjut dia, didata di KSEI. Oleh karena itu siapa dan berapa besar pembelian saham atas suatu emiten dapat diketahui. Namun, ada batasan tertentu untuk saham tersebut akhirnya harus dilaporkan.

Harus Tercatat

Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Investor Sekuritas Seluruh Indonesia (MISSI), Sanusi mengatakan, pembelian saham dengan persentase tertentu jelas diketahui pihak otoritas. \"Misalnya bank A, pemilik mayoritas 51% maka jika ada pengalihan harus ada persetujuan dari BEI, dan selanjutnya dilaporkan ke BI karena itu sudah ada ketentuannya.\" jelasnya.

Dia menilai, kebijakan pihak otoritas Bursa Efek saat ini adalah meminta emiten untuk melaporkan adanya perubahan kepemilikan saham sebesar 5%. Namun, untuk mendeteksi maksud pembelian saham tersebut cukup sulit. Investor asing dapat melakukan transaksi melalui pembelian saham kecil di pasar maupun melalui broker tertentu. “Mereka bisa membeli perlahan-lahan maupun dalam jumlah besar, apakah untuk mengambil keuntungan dari pertumbuhan IHSG saat ini atau menjadi pengendali saham bisa saja.” paparnya.

Yang jelas, kata Sanusi apabila ada perubahan kepemilikan saham atas emiten, meskipun hanya sebesar 5% maka harus segera dilaporkan ke publik. Terlebih jika pembelian saham dalam jumlah besar. Dan ini biasanya diinformasikan emiten dalam rapat umum pemegang saham, “5% saja memang tidak ada pengaruhnya, tapi harus tetap dilaporkan karena ini terkait perusahaan Tbk.” ujarnya.

Senada dengan Haryajid, transaksi yang terjadi antarpihak pemodal di pasar saham menjadi hal yang wajar. Hal ini bukan semata pengawasan dari pihak otoritas. Namun, jika BEI, OJK, dan Bank Indonesia tidak ingin pembelian saham dijadikan celah oleh asing untuk masuk menjadi pengendali saham bank-bank lokal maka perlu adanya regulasi yang mengatur itu.

“Hal yang sangat disayangkan, asing dengan enaknya dapat mengembangkan dananya di sini, tapi perusahaan kita sangat sulit kan untuk masuk ke negara mereka. Ini memang harus jadi perhatian. Tapi kalau melalui transaksi pasar modal itukan sulit, karena transaksi jadi hal yang wajar. ” tandasnya

Related posts