CIMB Group Berambisi Listing di Bursa - Tunggu Aturan Dual Listing

NERACA

Jakarta-Peraturan dual listing yang hingga saat ini masih digodok oleh pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak melunturkan niat CIMB Group untuk dapat mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. “Kita masih berniat, namun masih menunggu (terkait aturan dualisting),” kata Presiden Direktur CIMB Niaga Arwin Rasyid di Jakarta kemarin.

Rencana CIMB group untuk masuk ke pasar modal Indonesia ini sebelumnya diungkapkan pihak manajemen perusahaan sesuai dengan visinya sebagai korporasi yang melayani di seluruh negara Asean. Melalui anak-anak usaha, CIMB Group antara lain telah beroperasi di 9 dari total 10 negara Asia Tenggara.

Tidak hanya berambisi menduduki pasar Asean, dengan menjadi anggota bursa, perusahaan mengklaim ingin membagi kepemilikannya kepada masyarakat Indonesia. Namun sayang, hal tersebut masih terkendala dengan aturan dual listing yang saat ini masih dikaji oleh OJK. Mengingat salah satu anak usaha perusahaan, CIMB Niaga telah mencatatkan sahamnya di bursa.

Oleh karena itu, jalan alternatif yang mungkin dilakukan apabila CIMB Group ingin lebih cepat mencatatkan sahamnya tanpa menunggu aturan dual listing selesai, yaitu dengan membuat CIMB Niaga di-go private-kan. Namun, untuk langkah ini Arwin belum dapat berkomentar lebih banyak.

Terkait prospek dan potensi pencatatan saham di dua tempat (dual listing), analis saham, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, praktik dual listing akan dapat mendukung pasar modal Indonesia ke depan. Pihak otoritas pun dinilai perlu meningkatkan kerja sama dengan bursa lainnya dan memaksimalkan pelaksanaan pencatatan saham secara dual listing ini. “Dengan menawarkan dual listing. Itu efektif untuk memberikan penyuluhan, dari yang negatif serta merta menjadi positif.” ujarnya.

Menurutnya, dengan memaksimalkan pencatatan saham secara dual listing akan dapat mendorong perusahaan besar mencatatkan sahamnya. Pasalnya, jika perusahaan asing memiliki nilai kapitalisasi besar kemudian mencatatkan sahamnya di Indonesia maka akan dapat menyerap investor lebih banyak.

Salah satu emiten yang sudah melakukan dual listing adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan mencatatkan sahamnya di luar negeri, yaitu di New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSX).

Melihat adanya kebutuhan dual listing ini, Kepala Eksekutif OJK untuk pasar modal, Nurhaida pernah bilang pihaknya akan berupaya untuk merealisasikan pengaturan mengenai praktik pencatatan saham bagi emiten secara dual listing. “Secara peraturan sudah diberikan perangkatnya, tetapi dalam praktiknya masih belum dapat terlaksana.” ujarnya.

Salah satu penghambat praktik dual listing tersebut, kata Nurhaida, yaitu terkait peran kustodian yang selama ini secara undang-undang tidak diizinkan menerbitkan efek (depository) atau harus membentuk lembaga baru. Tidak hanya itu, langkah yang akan diambil OJK pun selanjutnya perlu dibicarakan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) saat pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) pasar modal. (lia)

Related posts