Tata Kelola Produksi Obat Perlu Diperbaiki - Impor 95% Bahan Baku

Kebutuhan obat di Indonesia terus meningkat, ini bisa dilihat dengan pertumbuhan pasar obat yang terus meningkat. Namun, tahukah Anda, ternyata di balik pasar obat yang terus meningkat, juga diikuti dengan impor bahan baku obat yang mencapai 95%.

NERACA

Ya, pangsa pasar sekitar 37%. Bahkan dari keterangan GP farmasi tahun 2012 lalu, Indonesia adalah salah satu negara yang akan mengalami pertumbuhan dua digit di pasar farmasi. Namun dengan pangsa pasar yang terus bergairah, Indonesia masih mengimpor lebih dari 95% bahan baku farmasinya dari negara lain.

Ketergantungan yang teramat tinggi pada bahan baku impor menjadikan industri farmasi Indonesia sangat rawan, apalagi dengan keadaan kurs rupiah yang tidak stabil, manakala rupiah anjlok, perusahaan akan ikut goyah, ungkapnya Kendrariadi Suhanda, Ketua Umum Pharma Materials Management Club (PMMC) dan Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Gabungan Pengusaha (GP) farmasi Indonesia.

Mengenai impor bahan baku sebenarnya semua negara di dunia juga melakukannya, bahkan AS pun sekitar 50% bahan baku obatnya juga diimpor, namun yang menyebabkan mereka terus tumbuh dan seimbang antara neraca impor dengan ekpornya adalah karena bahan baku lokalnya pun diekspor. Lain dengan Indonesia, meski 95% bahan bakunya impor dengan bahan baku lokal sejumlah 10 %, bahan baku lokal ini belum bisa diekspor.

Untuk meningkatkan bahan baku obat dan melihat pangsa pasar obat di Indonesia mengalami perkembangan, Indonesia kembali menjadi tuan rumah CphI South East Asia 2013 selama tiga hari dari 20-22 Maret, di Jakarta Internasional Expo-Kemayoran. Ini merupakan peluang bagi para pelaku industri farmasi dan penyedia bahan baku obat dari seluruh dunia untuk mengjangkau pasar Asia Tenggara yang sedang tumbuh pesat.

Managing Director ASEAN Business UMB Asia, M. Gandhi mengatakan, kami sangat bangga dapat kembali mempersembahkan sebuah flatform untuk badan pemerintah, asosiasi perdangangan, dan lembaga regulator dalam mendapatkan update mengenai pasar bahan baku farmasi.

“Bertujuan untuk mensosialisasikan kebijakan baru, program mendatang untuk industri dan terhubung langsung dengan industri untuk memahami peluang nyata dan tantangan yang mereka hadapi,\" tuturnya.

Selain bahan baku farmasi, CphI SEA 2013 kali ini juga di lengkapi dengan pameran P-MEC dan InnoPack. P-MEC menghadirkan peralatan farmasi terbaik dari Eropa, India dan China yang menyajikan teknologi terbaru dalam produk mesin farmasi dan proses manufaktur bahan baku farmasi guna meningkatkan kontrol kualitas, keamanan dan efisiensi produksi.

Sedangkan InnoPack membawa penyedia solusi kemasan global dan inovasi terbaru mengenai pengemasan dan sistem pengiriman obat-obatan, labeling, serta track dan trace kepada masyarakat farmasi ASEAN dengan menawarkan pengembangan bisnis, networking, promosi brand, dan edukasi.

“Dari data IMS 2013, pertumbuhan industri farmasi di Indonesia mencapai 13,3% antara tahun 2011 hingga 2016. Angka ini dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6%,” ungkapnya.

Hal ini merupakan peluang, tidak hanya bagi industri obat-obatan, tetapi juga bagi industri pendukung bahan baku, mesin dan pengemasan untuk mengembangkan diri di Indonesia sehingga dapat menekan biaya produksi dan menjadikan industri farmasi Indonesia lebih kompetitif dan ekonomis.

“Bila hal ini dapat tercapai, maka pertumbuhan farmasi di Indonesia akan berkembang jauh lebih signifikan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga regional,” paparnya.

Selain itu, kehadiran CphI SEA berikut P-MEC dan InnoPack dapat menjadi fakor stimulus yang esensial tidak hanya bagi pemain dunia namun juga pemain lokal dalam menagkap peluang untuk mengembangkan industri farmasi dan pendukungnya di Indonesia.

 

Related posts