India Dukung Program Hilirisasi Tambang - Tingkatkan Investasi

NERACA

Jakarta - Kekayaan alam Indonesia di sektor tambang menjadi daya tarik tersendiri untuk negara asing. Pemerintah India mengaku membidik beberapa sektor usaha untuk investasi di Indonesia. Tahun lalu, investasi India ke Indonesia hanya sebesar US$ 78 juta. Kebanyakan di sektor tambang, khususnya batu bara.

Duta Besar India untuk Indonesia Gurjit Singh menyatakan pihaknya siap meningkatkan investasi di Indonesia. Sektor yang disasar adalah bidang yang membutuhkan hilirisasi karena akan menguntungkan kedua pihak. \"Kami ingin mendorong kerja sama di sektor-sektor bernilai tambah atau disebut hilirisasi dari kedua pihak,\" ujarnya di Jakarta, Kamis (21/3).

Sebagai langkah konkret, Gujrit menyatakan pihaknya akan fokus pada tiga bidang investasi manufaktur yaitu industri pengolahan makanan, infrastruktur, dan suku cadang otomotif. Dubes menilai kerja sama di bidang manufaktur adalah wujud nyata hilirisasi yang menguntungkan India dan Indonesia. \"Karena melalui kerja sama bidang manufaktur, kita bisa melakukan banyak hal, mulai dari mengekspor produk bernilai tambah dan transfer teknologi,\" paparnya.

Dubes Gujrit tidak menargetkan pertumbuhan investasi dalam nominal tertentu. Namun, dia berharap melalui peningkatan penanaman modal antara pengusaha kedua negara, nilai perdagangan India-Indonesia dapat mencapai US$ 400 miliar di masa mendatang.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Suryo B. Sulisto mengakui banyaknya peluang kerja sama yang bisa digali antar dua negara. Selain hubungan baik karena momen kemerdekaan yang hampir bersamaan, India dan Indonesia relatif memiliki budaya yang mirip.

Menanggapi rencana India berinvestasi di sektor pengolahan makanan, Suryo mendapat kabar mereka ingin fokus pada penyediaan sarana penunjang industri tersebut. \"Potensi Indonesia sangat besar di sektor makanan, India melihat banyaknya hal seperti truk pendingin yang masih jarang sehingga banyak produk makanan segar kita rusak, nah sepertinya mereka ingin coba investasi ke sana,\" ungkapnya.

Nilai perdagangan India-Indonesia tahun lalu mencapai US$ 20 miliar. Komoditas ekspor Indonesia ke India di antaranya CPO dan produk turunannya, sementara Indonesia mengimpor produk elektronik, minyak bumi dan kendaraan bermotor.

Kerjasam Bilateral

Sebelumnya Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono menekankan perlunya meningkatkan kerja sama antara Indonesia dan India di berbagai bidang. Menurut dia, meski perdagangan penting, investasi lebih penting. Ia menyambut baik investasi India di Indonesia, yang sebaiknya model public-private partnership (PPP).

Dalam keterangan tertulis yang diterima, Sekretaris Kedua Bidang Politik Kedutaan Besar India Pradeep Gupta mengatakan, Boediono mengungkapkan hal itu saat menerima kunjungan Duta Besar India untuk Indonesia, Gurjit Singh.

Menurut Gupta, Wakil Presiden mengatakan ada potensi pertumbuhan di Indonesia dalam bidang suplai dan infrastruktur, di mana India dapat bergabung mendapatkan keuntungan dari pasar domestik.

Dalam pertemuan itu, kata Gupta, Gurjit Singh mengungkapkan gagasannya untuk menyukseskan hubungan India dan Indonesia. Ia mengatakan Wakil Presiden sepakat dengan gagasan Singh itu. Wakil Presiden mengatakan pendidikan tinggi India berstandar dunia. Untuk mengembangkan sumber daya manusia di Indonesia, kedua negara bisa mengeksplorasi kemungkinan pertukaran pelajar dan pendirian bersama lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Indonesia.

Menurut Gupta, Wakil Presiden mengatakan, India dan Indonesia memiliki keterkaitan budaya. Ada jembatan budaya antara kedua negara yang dapat digunakan mempererat jalinan budaya dan hubungan antarwarga negara.

Sektor Otomotif

Presiden Direktur PT Tata Motors Indonesia, Biswadev Sengupta mengatakan Indonesia merupakan salah satu pasar yang sangat potensial untuk menjadi pasar otomotif. \"Kondisi politik di Indonesia juga stabil ditambah pertumbuhan ekonomi juga terus tumbus, karena itu kami memutuskan untuk masuk ke Indonesia,\" ujar Biswadev.

Menurut Biswadev, Tata Motors rencananya juga akan membangun pabrik manufaktur untuk mendukung operasionalnya di Indonesia. Pabrik itu nantinya akan dikonsentasikan untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia. \"Tapi saat ini kami masih mencari lokasinya, yang jelas ada di sekitar Jakarta karena harus dekat dengan pelabuhan dan bandara,\" katanya.

Biswadev masih enggan menjelaskan lebih detil soal rencana pembangunan pabrik Tata Motors dan nilai investasinya. Dia mengatakan investasi di Indonesia tidak akan jauh dari nilai investasi yang dikeluarkan di Thailand. \"Untuk Thailand nilai investasinya US$ 50 juta,\" katanya.

Related posts