Cara Mudah Bank Asing Berkuasa di Indonesia

Cara Mudah Bank Asing Berkuasa di Indonesia

Aturan branchless banking yang akan dirilis oleh Bank Indonesia dalam waktu dekat ini akan memuluskan jalan perbankan asing untuk masuk ke Indonesia dengancara yang lebih mudah lagi. Terutama bagi bank asing yang memiliki infrastruktur sistem komputerisasi yang canggih serta modal kuat.

“Kalau bank asing tinggal punya lisensi bank di sini atau dalam arti membeli saham bank nasional, jadi dia bisa ambil TI-nya dan menyebarkan produknya tanpa cabang,” tutur pengamat perbankan Yanuar Rizky. Menurut dia, aturan branchless banking itu akan memudahkan bank asing dengan tidak perlu bangun cabang. Karena memang investasi teknologi besar, dan jika itu dipasang di mana saja sama. Karena itu fixed cost, jadi untuk apa membuat cabang. “Jadi dia kan sudah punya teknologinya, sehingga persoalannya tinggal cari point of sale (POS) saja,” kata dia kepada Neraca, belum lama ini.

Yanuar menambahkan bahwa modal kuat bank asing tidak semata-mata dilihat dari sisi uang tunainya saja, tapi juga modal infrastruktur yang sudah mereka punyai. “Jadi misalnya kebijakan (branchless banking) ini keluar, mereka sudah mudah melaksanakannya,” imbuhnya.

Salah satu contoh bank asing yang asal mengibarkan benderanya di Indonesia adalah ING Bank asal Belanda. Banyak orang-orang yang dulunya pernah bekerja di ING Bank, direkrut oleh sebuah holding bank asing yang sudah membeli saham suatu bank kecil di Indonesia. “Kalau yang saya lihat itu sebetulnya kan ada beberapa bank yang dibeli oleh pemilik baru, tidak usah disebutkan siapa yang beli, tapi semenjak dibeli itu sebetulnya banknya cenderung tidak diapa-apakan atau didiemkan saja,” kata dia.

Yanuar mengatakankan, bukan hanya ING Bank saja yang akan menikmati pola branchless. Yang lainnya sebut saja bank-bank yang dipunyai Temasek Holding (Singapura). “Mereka (holding bank asing) juga rata-rata sudah punya sister company, misal Temasek sister company-nya Indosat, kalau Khazanah (Nasional Berhad-Malaysia) yang punya CIMB kan sudah memiliki XL Axiata. Kemudian yang sekarang punya Axis, yakni investor dari Timur Tengah, juga sudah punya bank kan. Jadi rata-rata mereka beli dua, yaitu beli bank juga perusahaan telco,” ungkap Yanuar.

Dia pun menelisik, apakah aturan branchless banking tersebut akan berjalan efektif atau tidak, harus dilihat PBI-nya nanti seperti apa. Kalau isinya berhubungan dengan rezim perizinan, misal kepada SOP, tentu saja asing yang paling siap. Jika aturannya seperti multi licensing, mungkin license pertama (mengenai) infrastruktur, license kedua tentang status bank. Ya, kita lihat saja nanti, karena pasti keluar standar protokol aturan keamanan, standar hubungan dengan agen. Sementara kalau itu kita rentetin hanya yang sudah punya yang bisa mengimplementasikan. Kalau kita lihat yang sudah punya ya asing, sedangkan lokal yang sudah punya Bank BUMN dan Telkom saja,” ujarnya.

Yang harus dipikirkan, kata Yanuar, adalh, soal isu persaingan usaha, misalkan BI memberi izin ke bank, tinggal mereka mencari POS, dan bisa langsung jalan. Jiak demikian, kasihan bank yang tdk siap.

Rencananya, ini ungkap, Deputi Direktur Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Pungky Purnomo Wibowo, BI akan melakukan pilot project di kira-kira tujuh provinsi untuk implementasi awal branchless banking tersebut. Untuk pilot project Sulawesi satu, Kalimantan dua, Bali ada beberapa, Sumatera dua, Jawa ada, kalau di Jawa tidak ada perbatasan. Tujuh daerah provinsi itu bukan di kota besar saja, tapi sampai ke desa.(ria)

Related posts