PT Indah Kiat Fasilitasi Kerajinan Sampah Plastik - Tingkatkan Perekonomian Warga

Jakarta – Berbicara sampah belum banyak orang melihat potensi ekonomi yang bisa digali, sebaliknya mendengar kata sampah terbanyang di benak adalah sesuatu yang kotor, menjijikkan dan bau tidak sedap. Padahal, sampah justru bisa mendatangkan nilai ekonomi jika diolah menjadi produk-produk bermanfaat. Minimnya pengelolaan sampah memberikan dampak pada perilaku buruk tentang sampah. Alhasil, banyak masyarakat membuang sampah sembarangan dan prilaku ini tidak mengenal tingkat pendidikan maupun status sosial.

Maka untuk mengubah paradigma tentang sampah, PT Indah Kiat Pulp and Paper Perawang (IKPP) mendorong pengelolaan sampah menjadi nilai ekonomi. Langkah ini juga sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) untuk memberdayakan masyarakat dan peduli lingkungan.

Sebut saja, Muhammad Nur warga Tualang, Kabupaten Siak Riau yang telah menafaatkan peran aktif perseroan dalam pengelolaan sampah menjadi nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kata Direktur Corporate Affairs and Communication APP, Suhendra Wiriandinata, perseroan akan selalu mendukung kegiatan CSR yang memberikan dampak pada masyarakat sekitar, “Upaya memberdayakan masyarakat yang dilakukan Muhammad Nur sejalan dengan semangat perusahaan untuk memberi manfaat pada masyarakat sekitar. Karena itu kami mendukungnya,” katanya.

Namun kesuksesan Muhammad Nur memanfaatkan dana bantuan CSR PT Indah Kiat Pulp and Paper Perawang, tidak dilalui mulus begitu saja. Pasalnya, dirinya sempat kesulitan untuk menyakinkan perusahaan tentang tujuan proposalnya untuk memberdayakan masyarakat, “Awalnya memang sulit meyakinkan perusahaan bahwa tujuannya adalah untuk memberdayakan masyarakat.”ujar Muhammad Nur.

Pada akhirnya, seiring dengan berjalan waktu, proposal yang diajukan mendapatkan respon dari perseroan untuk kemudian mendapatkan binaan dan bantuan. Berdasarkan kesepakatan dari proposal tersebut, Muhammad Nur dapat membeli tali plastik Rp 500 per kilogramnya. Tiap bulan, IKPP memasok tali plastik. sebanyak 1,2 ton. Biasanya, timbunan tali plastik sebanyak itu akan habis untuk produksi selama 1,5 bulan.

Dia mengungkapkan, kala itu kehidupan warga Tualang memang tengah terpuruk. Beberapa perusahaan kayu yang selama ini menjadi sandaran hidup warga tutup akibat krisis keuangan global melanda sehingga banyak warga yang kehilangan pekerjaan. Sementara pendapatan sebagai nelayan di Sungai Siak juga tak mencukupi.

Membawa Berkah

Namun berkat keahlianya menganyam kerajinan plastik bekas, dirinya merangkul tiga ibu rumah tangga untuk diajari menganyam. Hal ini dilakukan juga untuk memproduksi lebih banyak kerajinan lagi. Selama empat bulan, Muhammad Nur dibantu istrinya menggembleng ibu-ibu itu. Kegiatan itu akhirnya menarik minat yang lain untuk bergabung.

Untuk pemasaran hasil produksi kerajinan strapiing, awalnya Muhammad Nur menjualnya langsung ke pasar. Rupanya banyak yang mengajukan diri menjadi distributor. Permintaan datang dari sekitar provinsi Riau, antara lain Siak, Bengkalis, Pulau Rupat, dan Dumai. Order juga datang dari Sumatera Barat, antara lain dari Maninjau dan Payakumbuh. Setiap bulan lebih dari 500 keranjang ludes terjual. Keuntungan rata-rata per keranjang sekitar Rp5000.

Tingginya penjualan hasil kerajinan tersebut, setiap tahunnya Muhammad Nur membagikan 25% keuntungan kepada anggota kelompok. Pada 2012, besarnya keuntungan yang dibagikan adalah Rp2 juta. Sisanya digunakan untuk menambah modal usaha.

Asal tahu saja, hingga kini sudah terkumpul 20 orang yang tergabung dalam Kelompok Pengrajin Tunas Harapan, kelompok yang dibina oleh Muhammad Nur. Mereka memproduksi keranjang, tudung saji, tikar, keranjang kain, tempat buah, dan juga pot. Untuk keranjang, para ibu mendapat upah antara Rp4000 hingga Rp650 tergantung ukurannya. Jika serius bekerja, ibu Diah salah satu anggota kelompok bisa menyelesaikan lima keranjang sehari. Dalam sebulan, dia dan teman-teman kelompoknya bisa mengumpulkan sekitar Rp700 ribu. “Lumayan untuk menambah penghasilan keluarga,”ungkapnya.

Alhasil berkat peran aktif Muhammad Nur yang dibantu PT Indah Kiat Pulp and Paper Perawang (IKPP), akhirnya masyarakat bisa berdaya dari keterpurukan ekonomi dengan kesibukan melakukan anyaman kerajinan dari sampah bekas plastik. Meski demikian, para ibu itu tak terganggu kewajibannya dalam mengurus anak, karena sambil bekerja mereka bisa mengawasi dan mengurus anak-anak mereka.

Kemudian ditahun 2009, IKPP mengucurkan dana bantuan Rp 10 juta untuk mendirikan workshop di halaman belakang rumah Muhammad Nur. Dana itu sebenarnya berasal dari pembelian tali plastik. Sesungguhnya, ada kesepakatan bahwa uang untuk membeli tali plastik pada akhirnya akan dikembalikan untuk pengembangan usaha kelompok Tunas Harapan. Setelah workshop, rencananya akan dibuat sumur bor untuk mencuci produk agar tampilannya semakin memikat.

Related posts