Festival Musik Jazz Dunia - Java Jazz 2013

Mengangkat tema \"Jazz up the World\", festival ini menampilkan lebih dari seribu musisi lokal dan internasional dalam 187 pertunjukan di 17 panggung.

NERACA

Java Jazz menjadi festival yang banyak ditunggu pecinta musik. Tahun ini event musik berkelas tersebut memasuki kali ke-9 yang berlangsung pada 1 sampai 3 Maret 2013 lalu, dan mengambil stage di Jakarta International Exhibition Center (JIEC).

Festival selama tiga hari itu telah menyulap Jakarta menjadi lautan jazz. Tidak hanya menampilkan musisi jazz dunia ternama, Java Jazz juga menjadi arena berkumpul bagi penggemar musik jazz dari seluruh dunia. Selain itu, sebagai festival yang semakin dikenal, Java Jazz juga menarik banyak wartawan dari berbagai negara seperti Filipina, Singapura, Australia, Jepang, dan lainnya.

Selain sebagai pagelaran musik jazz yang paling ditunggu, Java Jazz juga menjadi arenaphoto huntingbagi pecinta fotografi dari penggunasmartphone, kamera prosumer, hingga kamera profesional DSLR.

Hari pertama, diisi Rafli Wasaja, seorang musisi jazz dariAceh, dia membawakan beberapa lagu etnik Indonesia di panggung terbuka Wonderful Indonesia. Sementara itu, peniup terompet terkenal Ron King bersama bandnyaRon King Big Bandmembawakan komposisi musik menawan.

Dipanggung yang berbeda, grup musik jazz Fourplay memamerkan kemahiran bermain musik luar biasa mereka di hari pertama festival. Musisi Indonesia yang sedang naik daun,Raisa, berhasil memanjakan penonton dengan lagu-lagu merdu nan manis.

Sementara itu, legenda musik Reggae Jimmy Cliff memamerkan penampilan pertamanya di Indonesia. Ia menyanyikan hits seperti “I can see clearly now”, “Wild world”, dan “Afghanistan”, dan masih banyak lagi. Sementara itu musisi jazz asal InggrisJoss Stonemenutup hari pertama dengan penampilan luar biasa.

Tampil bertelanjang kaki di atas panggung, Joss Stone, berhasil menarik perhatian banyak penonton dalam Special Show. Dia membuka penampilannya dengan lagu “(For God Sake) Give More Power to the People” lalu membuat penonton berteriak histeris dengan lagu terakhirnya “You had me”.

Hari kedua festival menyajikan kolaborasiAsian Jazz All Stars Power Quartetdi panggung Lawu akustik. Kuartet tersebut teridiri dari Jeremy Montero, Eugene Pao, Tots Tolentino, dan Hong Chanutr Techatananan. Mereka berhasil menyajikan komposisi musik memuakau di hadapan penonton. Selama penampilannya Jeremy Montero yang merupakan musisi asal Singapura mengungkapkan hubungan dekatnya dengan Indonesia karena neneknya lahir diMedan,Sumatera Utara.

Selain itu, dua legenda gitar dunia yaitu Earl Klugh dan Lee Ritenour ini berhasil memikat penonton dengan permainan gitar akustik-klasiknya. Sedangkan pianis-komposer terkenal Dave Grusin juga menunjukan permainan apiknya di hadapan penonton. Seakan tidak cukup, Lee dan Dave mengejutkan penonton dengan menampilkan vokalis Phill Perry di atas panggung untuk menyanyikan “It might be you”. Basia berhasil mengajak penonton secara antusias untuk bersalsa. Ia melantunkan lagu-lagu salsa seperti “If Not Now Then When”, “I Must”, dan “Baby you’re Mine”.

Di hari terakhir penonton berhenti di panggung dekat pintu masuk untuk menyaksikan penampilan memukau duo vocalist dan guitarist asal Jawa, Fried Pride. Duo ini benar-benar membuat penonton kagum dengan membawakan lagu klasik Stevie Wonder (yang tampil di Java Jazz tahun lalu) “I Just Called”.

Sementara itu,Roberta Gambarinimenghibur penonton di panggung Brava Esquire, dan Jazz Fusion asal AmerikaSpyrogyramemamerkan lagu-lagu jazz luar biasa mereka.Sebuah penampilan memukau juga ditampilkan musisi muda Indonesia, Eva Celia. Eva bersama ayahnya musisi jazz legendaris Indonesia Indra Lesmana berhasil menarik sejumlah besar penonton dan mendapat sabutan hangat dari penonton.

Festival tiga hari ini diakhiri penampilan sensasionalCraig David. Craig membuka penampilannya dengan lagu “What’s your flava?”. Disambut teriakan histeris penonton, Craig melanjutkan penampilannya dengan lagu“Hidden Agenda”, “Walking Away”, “Time to Party”, “Rise and Fall”, dan“I don’t love you no more”. Festival Java Jazz secara konsisten didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Perdagangan.

Java Jazz Festival bukan sekedar festival musik belaka. Festival ini telah menjadi ikon Indonesia, membawa perhatian dunia ke Indonesia, sekaligus memperkenalkan Indonesia kepada mata dunia. Di Java Jazz tidak hanya musik jazz yang ditampilkan di atas panggung. Jazz adalah musik yang paling dinamis dan mudah berkolaborasi dengan genre musik lain seperti pop, Rn\\\'B, rock, orkestra, serta musik etnik-tradisional.

BERITA TERKAIT

Gandeng Kerjasam Baznas - SIMAC Berdayakan Umat Lewat Festival Kopi

Berbagi keberkahan di bulan Ramadhan, Santri Millenial Center (SIMAC) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengadakan festival kopi di Plaza…

Dunia Usaha - Pasar Masih Potensial, Pertumbuhan Industri Kacamata Dipacu

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri kacamata di dalam negeri melalui peningkatan investasi. Di samping itu juga…

DEFISIT APRIL 2019 TERBESAR SEJAK JULI 2013 - NPI Alami Defisit Hingga US$2,5 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada April 2019 defisit sebesar US$2,50 miliar. Defisit tersebut disebabkan oleh…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Objek Wisata Sejarah di Peneleh yang Terabaikan

Peneleh merupakan salah satu kampung kuno di Surabaya yang sudah berusia ratusan tahun. Kampung ini menjadi saksi perjalanan Surabaya, bahkan…

Masjid Kesultanan Ternate Jadi Tujuan Wisatawan pada Ramadan

Masjid Kesultanan Ternate menjadi tujuan utama bagi wisatawan saat berkunjung di wilayah di Maluku Utara (Malut) pada Bulan Suci Ramadan.…

Menelusuri Sejarah Kampung Deret di Jakarta

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambangi Kampung Deret, di Jalan Tanah Tinggi I, Johar Baru, Jakarta Pusat, pada Selasa (21/5), untuk…