BEI Selidiki Kebenaran Saham BUMI di BRMS - Terkait Pengurangan Saham

NERACA

Jakarta- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan kepada manajemen BUMI mengenai kebenaran data kepemilikan BUMI di PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS). “Kita tanyakan yang benar yang mana. Biro Administrasi Efek melaporkan dari sebelumnya ada penurunan. Tapi keterbukaannya belum ada dan juga belum jelas sebetulnya.” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen di Jakarta akhir pekan kemarin.

Apabila ternyata kepemilikan saham yang dipertukarkan di antara perusahaan, seperti Long Haul yang merupakan perusahaan afiliasi dengan grup Bakrie, maka artinya tidak ada perubahan pengendalian dan tidak perlu melakukan penawaran tender (tender offer). Dengan demikian, hal tersebut tidak menjadi masalah.

Namun, yang disampaikan Biro Administrasi Efek (BAE) saat ini, lanjut dia, hanya menyampaikan posisi penurunannya, tidak dikemukakan kepada siapa saham tersebut dialihkan. “BAE tidak menyampaikan itu kemana. Hanya menyampaikan posisi turun sekian. Yang bertambah siapa? Kalau ada yang bertambah itu pihak baru dia mengendalikan baru. Berapa? Karena turunnya cukup signifikan yaitu dari sekitar 87% ke 45%. Kalau pemegang sahamnya sudah eksis pun berapa karena bisa jadi pengendali baru kan.” jelasnya.

Permasalah kedua, terkait aset BUMI. Pasalnya, jika benar kepemilikan saham BUMI di BRMS berkurang maka akan mengurangi aset di BUMI. Namun, sebelumnya pihak BUMI telah melakukan klarifikasi kepada publik bahwa tidak terjadi penurunan kepemilikan sahamnya di BRMS, sementara data BAE menginformasikan terjadi penurunan.

Terkait rumor di market bahwa itu dilakukan dalam bentuk repo (repurchase agreement), menurut dia, pihaknya akan mencermati apakah hal tersebut dilakukan dengan cara jual putus atau bersifat colaterall. Apabila yang terjadi adalah jual putus maka beralih kepemilikannya, sedang apabila sifatnya colaterall maka tidak berpindah, hanya antarpihak yang melakukan repo.

Kata Hoesen, saat ini apabila repo dilakukan hanya melalui investor maka hal itu terkadang tidak menjadi concern perusahaan untuk melaporkan karena ketentuan bursa hanya mengatur broker dan emiten. “Dari sisi bursa ketentuan kita hanya mengatur broker dan emiten. Kalau di level investor agak susah. Secara umum kita maunya tidak ada yang tidak transparan tapi mekanismenya belum ada kesimpulan harus seperti apa.” paparnya.

Sejauh ini pihak otoritas tidak membedakan untuk menangani atau ikut campur dalam permasalahan internal emiten. Namun, pihak BUMI diminta untuk menjelaskan agar tidak terjadi salah tafsir terkait kabar yang beredar di publik. “Kita juga membatasi agar tidak terlalu jauh seperti itu. Mereka yang harus menjelaskan. Jangan salah kita menginterpretasi dan menerjemahkan ke publik.” jelasnya.

Sekadar catatan, data dalam daftar pemegang saham yang tercatat di Biro Administrasi Efek (BAE), kepemilikan BUMI tercatat hanya tinggal 45,13% dari posisi tertingginya pada tahun lalu mencapai 87%. Sementara kepemilikan BUMI di BRMS tinggal 11,54 juta saham atau setara dengan 45,13%. Selain BUMI, pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5% di BRMS adalah perusahaan afiliasi dengan grup Bakrie, Long Haul Indonesia.

(lia)

Related posts