Laba Bukit Asam Turun Jadi Rp 2,9 Triliun - Kinerja di 2012

NERACA

Jakarta – Belum membaiknya harga komoditas dunia, rupanya memberikan pengaruh terhadap kinerja keuangan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Pasalnya, perusahaan tambang plat merah ini mencatatkan penurunan laba tipis 3,4% di 2012, menjadi hanya Rp 2,9 triliun dari laba di tahun sebelumnya Rp 3 triliun.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (7/3). Disebutkan, penurunan laba tersebut dipicu karena harga jua batubara yang lemah. Selain itu, perseroan juga mencatatkan pendapatan Rp 11,5 triliun, naik tipis dari pendapatan di 2011 Rp 10,5 triliun.

Akibat beban pokok penjualan yang naik cukup tinggi, dari Rp 5,3 triliun menjadi Rp 6,5 triliun di 2012, laba kotor perseroan pun menipis jadi hanya Rp 5,08 triliun. Tahun sebelumnya, laba kotor tercatat Rp 5,2 triliun.

Meski perseroan mendapat pendapatan lain-lain sebesar Rp 194,3 miliar di 2012, dari sebelumnya hanya Rp 76 miliar di 2011, namun tetap saja laba usahanya tidak bisa naik dan harus sedikit menipis jadi Rp 3,59 triliun. Atas koreksi laba itu, laba bersih per saham dasar perseroan juga ikut tergerus, dari sebelumnya Rp 1339 per lembar menjadi hanya Rp 1,262 per lembar di 2012.

Asal tahu saja, tahun 2012 perseroan memproyeksikan target volume penjualan batu bara sekitar 16,3 juta ton dari target sekitar 16,5 juta ton. Namun volume penjualan batu bara tersebut tidak mencapai target karena penurunan harga batu bara mencapai 30% pada 2012. Dengan demikian perseroan mengubah strategi.

Direktur Utama PTBA Milawarman pernah bilang, pihaknya memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing dan mengurangi biaya operasional pada 2013. Caranya dengan meningkatkan kapasitas pelabuhan di Lampung, “Kami ada pelabuhan baru di Lampung yang dapat menampung kapasitas kapal lebih besar sehingga diharapkan dapat meningkatkan ekspor. Pertengahan 2013 akan mulai beroperasi, dan full kapasitas pada 2014,”ujarnya.

Untuk investasi pembangunan pelabuhan di Lampung sekitar Rp1,5 triliun. Nantinya, dengan pembangunan pelabuhan diharapkan dapat melakukan efisiensi. Ditahun 2013 ini, perseroan menganggarkan belanja modal di atas Rp2,5 triliun pada 2013. Nantinya, dana belanja modal akan digunakan untuk investasi rutin dan termasuk untuk akuisisi perusahaan tambang batu bara. (bani)

BERITA TERKAIT

Data BPS - Ekspor Industri Pengolahan Turun 6,92 Persen di Desember 2018

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekspor industri pengolahan pada Desember 2018 mengalami penurunan 6,92 persen jika dibandingkan…

Kinerja BUMN dalam 4 Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK

  Oleh:  Aditya Ihsan, Pemerhati Kebijakan Publik Salah satu urusan pemerintahan yang harus diselenggarakan oleh Presiden RI Jokowi yakni bidang…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…