Kinerja Emiten Alat Berat Belum Pulih - Dampak Harga Komoditas

NERACA

Jakarta – Masih berlanjutnya penurunan harga komoditas membawa dampak terhadap kinerja emiten alat berat. Pasalnya, selama ini pasar penjualannya lebih banyak tersedot di sektor pertambangan dan perkebunan yang justru tengah mengalami penurunan kinerja. Kondisi inilah yang dialami PT United Tractor Tbk (UNTR) yang mencatatkan penurunan laba setelah pajak sepanjang tahun 2012 sebesar 2,05% menjadi Rp5,77 triliun dari periode sama sebelumnya Rp5,90 triliun.

Tidak hanya itu, penjualan alat berat di tahun 2012 juga turun hanya mencapai 6.202 unit dibandingkan tahun 2011 sekitar 8.467 unit. Kata Direktur Keuangan PT United Tractors Tbk, Gidion Hasan, penurunan laba dan penjualan ini adalah dampak dari penurunan harga komoditas.

Sementara bulan Juanari 2013, perseroan mencatatkan penjualan alat berat mencapai 410 unit atau naik 96,17% dari 209 unit pada Desember 2012, “Peningkatan month on month atau bulanan karena pada Desember pelaku usaha memilih penundanaan. Baru pada awal tahun memulai aksi pembelian,"katanya,

Menurutnya, penjualan alat berat pada Januari 2013 turun secara tahunan, dimana pada Januari 2012, penjualan alat berat mencapai 617 unit, didominasi dari sektor pertambangan.

Proyeksi di 2013

Kendati demikian, Gideon memprediksikan penjualan sepanjang 2013 akan relatif lebih baik, didorong harga batu bara. Tercatat, penjualan alat berat pada 2012 itu didominasi sektor pertambangan sekitar 54%, sektor agro 24%, sektor konstruksi 16% dan sektor kehutanan 6%.

Untuk 2013, Gidion memperkirakan, penjualan sparepart akan mencapai 10%-15%. Hal itu dikarenakan pemilik alat berat lebih memilih penggantian daripada membeli alat berat baru. Sedangkan stripping ratio diperkirakan turun 5%. "Harga batu bara belum naik jadi berpengaruh ke stripping ratio," kata Gidion.

Stripping ratio adalah perbandingan jumlah tanah kupasan penutup batu bara dalam satuan meter kubik padat (BCM) yang harus dibuang untuk menghasilkan 1 ton batu bara.

UNTR akan menganggarkan belanja modal sekitar US$250 juta pada 2013. Belanja modal tersebut turun dibandingkan belanja modal 2012 sekitar US$600 juta-US$700 juta karena asumsi harga komoditas yang belum terlalu baik pada 2013. Sebagian besar belanja modal perseroan akan digunakan untuk PT Pamapersada Nusantara.

Tetap Optimis

Sementara pesaingnya, PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) lebih optimis target penjualan tahun 2012 sebesar US$739 juta dapat tercapai, “Perseroan akan melakukan kerja sama dengan beberapa MoU dan meningkatkan fasilitas penjualan purna jual," kata Direktur Keuangan Hexindo Adiperkasa Syamsu Anwar.

Dia mengakui, bisnis sektor pertambangan mengalami penurunan lantaran lemahnya permintaan batu bara dari Cina. Kondisi inipun berdampak tidak langsung terhadap penurunan penjualan alat berat disektor tambang.

Tercatat, hingga empat bulan pertama perseroan baru membukukan penjualan sepertiga dari target yang ditetapkan. Meskipun demikian, pihaknya tetap optimis bisa memenuhi proyeksi penjualan. Pasalnya, perseroan sudah mengantisi kondisi pasar.

Target penjualan perseroan disumbang dari equipment sebesar US$509 juta, spare parts sebesar US$139 juta, dan PS dan maintenance sebesar US$91 juta pada 2012. Sebagai informasi, dari April hingga Juli 2012, perseroan membukukan penjualan sebesar US$266 juta dari penjualan alat berat sebesar 1.106 unit.

Dari sektor agro penjualan alat berat sebesar 418 unit, forestry sebesar 227 unit, konstruksi sebesar 193 unit, dan pertambangan sebesar 268 unit. Sementara, target penjualan excavator Hitachi pada tahun 2012, yaitu sebesar 3.229 unit dari periode tahun sebelumnya sebesar 2.918 unit.

Direktur PT Hexindo Adiperkasa Tbk Djonggi Hutagalung mengakui, untuk bisa mencapai target, pihaknya telah mengantisipasi market share yang semakin kompetitif dengan menjaga hubungan yang baik dengan konsumen, melakukan kerja sama dan meningkatkan fasilitas penjualan purna jual. (bani)

Related posts