Pasar Alkes Akan Tembus Rp 15 Triliun - Prediksi 2014

NERACA

Jakarta - Pertumbuhan pasar alat kesehatan (alkes) domestik ternyata sejalan dengan pertumbuhan bisnis obat. Pebisnis farmasi menyatakan, pasar alat kesehatan di tahun 2012 naik 5% menjadi Rp 7 triliun dibanding tahun 2011.

Direktur Keuangan PT Kalbe Farma Tbk (KAEF), Vidjongtius memaparkan, pertumbuhan bisnis alat kesehatan terus menunjukkan kurva positif. Vidjongtius yakin nilai pasar alat kesehatan tahun 2014 bisa naik menjadi Rp 10 triliun - Rp 15 triliun.

Kenaikan pasar itu karena Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional (BPJS) mulai beroperasi. Selain itu, belakangan ini mulai bermunculan sejumlah rumah sakit baru.

Melihat peluang bisnis ini, Kalbe berani memasang target pendapatan hingga 20% di tahun ini. "Kami baru masuk bisnis ini jadi masih melihat pertumbuhan bisnis ini dulu karena kontribusi divisi ini masih kecil," kata Vidjongtius di Jakarta, kemarin.

Saat ini, Kalbe menjadi pemasok beberapa produk alat kesehatan. Seperti perlengkapan operasi, mesin-mesin operasi, alat tes darah, dan lain-lain. Menurutnya, divisi ini baru bisa memberi kontribusi bagi perusahaan setelah lima tahun mendatang. Asalkan tetap mempertahankan pertumbuhan bisnis dobel digit.

Sedangkan untuk pasar obat farmasi, Kalbe berada di posisi puncak dengan pangsa pasar 15% dari nilai total obat farmasi sebesar Rp 48 triliun tahun lalu. Anak usaha PT Indofarma Tbk yang bermain di bisnis alat kesehatan yakni PT Indofarma Global Medika (IGM) juga optimistis bisnisnya bisa semakin melaju.

Direktur Operasi dan Pengembangan Bisnis IGM, Ahdia Amini menyatakan, IGM ingin memperluas portofolio bisnis sebagai penyedia jasa layanan laboratorium dan alat kesehatan untuk rumah sakit. Seperti menyediakan ruang operasi plus alat operasi, CT scan, alat cuci darah, dan lain sebagainya.

Tahun ini, IGM membidik empat rumah sakit milik pemerintah. Untuk itu, IGM menyiapkan modal sebesar Rp 24 miliar. Bila bidikan ini tak meleset, Ahdia yakin, IGM bisa untung Rp 75 miliar. IGM memang sengaja mengembangkan bisnis sebagai penyedia jasa layanan laboratorium dan alat kesehatan. Pasalnya bisnis yang sudah digeluti sejak tahun 2009 memberi pendapatan hingga Rp 50 miliar tahun lalu.

Selain membidik empat rumah sakit pemerintah, IGM juga sudah menjalin kerjasama dengan empat rumah sakit lain di tahun ini. Sehingga target pendapatan dari jasa laboratorium dan alat kesehatan di tahun 2013 mencapai sebesar Rp 125 miliar.

Khusus ekspansi alat kesehatan, IGM masih menunggu kejelasan program tender alat kesehatan dari pemerintah atau e-catalog. Sebelumnya Ketua Bidang Perdagangan dan Keagenan Gabungan Pengusaha Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Budi Prasetio mengatakan, pihaknya tidak bisa menyebutkan berapa besar penjualan di semester ini.

Namun, kata Budi, , total penjualan naik sekira 10% dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp22 triliun. Menurut Budi, belanja alat kesehatan pada semester ini lebih banyak dilakukan oleh pihak swasta. “Swasta lebih cepat belanja karena ingin memenuhi akreditasi rumah sakit mereka,” kata Budi.

Tingkat kesadaran masyarakat menggunakan obat menjadi penopang pertumbuhan industri farmasi. International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG) memproyeksikan pertumbuhan industri farmasi bisa meningkat mencapai 12%. "Hingga akhir 2013, diproyeksikan pertumbuhan industri farmasi nasional akan menembus Rp16,9 triliun, naik 12% dari realisasi 2012 sebesar Rp15,1 triliun," kata Ketua IPMG, Luthfi Mardiansyah.

Peningkatan Belanja

Peningkatan belanja alat kesehatan oleh swasta, lanjut Budi, saat ini banyak terjadi di pulau Jawa dan Sumatera. Sedangkan untuk belanja alat kesehatan oleh pemerintah, menurut Budi, saat ini masih melambat, terutama di luar pulau Jawa. “Penjualan sama seperti tahun lalu. Masih melambat. Di seluruh kabupaten, baru ada perencanaan tender, tapi realisasi pembeliannya baru mulai Agustus atau September,” jelas Budi.

Kendati demikian, Budi memastikan, hingga akhir tahun ini, belanja pemerintah akan jauh lebih tinggi ketimbang swasta. “Kalau pemerintah itu lebih banyak berbelanja alat kesehatan yang sifatnya investasi. Sedangkan swasta kan belanja pakai anggaran sendiri,” ucapnya.

Budi mengungkapkan, alokasi dana untuk membeli alat kesehatan baik swasta maupun pemerintah pada tahun ini adalah sekira Rp20,4 triliun. “Kisaran peningkatan penjualan alat kesehatan secara total itu hampir sama dengan peningkatan di industri farmasi,” paparnya.

Budi berharap, penyelesaian pembahasan RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bisa mendongkrak pertumbuhan industri alat kesehatan nasional.

BERITA TERKAIT

Tepung Jagung Olahan Tembus Pasar Israel

NERACA Cilegon - Pangsa pasar produk olahan berupa tepung jagung atau corn starch hasil industri di Cilegon berhasil tembus pasar…

Pemerintah Upayakan Kebijakan Khusus Bagi Koperasi

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM mengakui bahwa pihaknya sedang mengupayakan ada kebijakan khusus bagi koperasi terkait…

Ribuan Ton Impor Bawang Siap Masuk ke Indonesia

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mengakui jumlah volume RIPH bawang putih dan bombai yang telah diterbitkan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Covid-19 Meluas, Industri Kelapa Sawit Gelontorkan Bantuan

NERACA Jakarta – Terus meluasnya serangan virus covid-19 membuat industri kelapa sawit untuk menggelontorkan sejumlah bantuan, salah satunya Wilmar. Wilmar…

Memacu Ekspor Perikanan Ditengah Meluasnya Covid-19

NERACA Jakarta - Direktur Utama, PT. Kawan Kita Semua, Dudi Hermawan mengatakan bahwa produksi udang cukup tinggi, dari panen hari…

Kemenkop dan UKM Pembenahan Restrukturisasi Kredit

Jakarta – Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan UKM terus berupaya untuk melakukan pembenahan terhadap  kebijakan khusus bagi koperasi terkait restrukturisasi kredit.…