Kinerja Keuangan Waskita Diberi Peringkat Stabil

NERACA

Jakarta – Didorong permodalan yang kuat, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai prospek peringkat PT Waskita Karya Tbk (WSKT) adalah stabil. Selain itu, Pefindo juga menaikkan peringkat untuk obligasi II/2012 menjadi idA dari idA-.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (5/3).

Kata analis Pefindo Haryo Koconegoro, peningkatan peringkat ini didukung oleh posisi bisnis perusahaan yang lebih kuat yang dibarengi oleh struktur permodalan perusahaan yang lebih konservatif dan proteksi arus kas yang lebih kuat setelah penawaran umum perdana saham, “Peringkat saat ini mencerminkan posisi perusahaan yang kuat di industri konstruksi dalam negeri. Struktur permodalan perusahaan yang lebih konservatif dan proteksi arus kas yang lebih kuat setelah penawaran umum perdana saham, dan keunggulan sebagai perusahaan konstruksi milik negara," ujar Haryo.

Namun, peringkat tersebut masih dibatasi oleh marjin keuntungan yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan sejenis serta kondisi industri konstruksi yang relatif volatile. Setelah penawaran perdana saham, sebagian saham perusahaan pada Desember 2012, pemegang saham perusahaan per 31 Desember 2012 adalah pemerintah Indonesia 68%, karyawan 0,8%, dan masyarakat 31,2%.

Kontrak Proyek

Sebagai informasi, diawal tahun 2013 ini kontrak proyek yang didapatkan perseroan sebesar Rp 699 miliar dari total target kontrak 2013 sebesar Rp 21 triliun. Kontrak ini belum dihitung dari konsorisum proyek perluasan gedung terminal III Ultimate Bandara Soekarno-Hatta dengan sebesar Rp 4,7 triliun.

Disebutkan, kontrak diawal tahun diantaranya, gedung Arsip Nasional di Rempo senilai Rp 70 miliar, proyek Royal Oliv senilai Rp 140 miliar, jembatan Kapuk Naga senilai Rp 240 miliar, proyek pembangunan Rumah Sakit Unit Daerah (RUSD) Tangerang Rp 106 miliar dan proyek pembangunan di Adikarimun Kepulauan Riau senilai Rp 107 miliar.

Tercatat, sepanjang tahun 2012 kemarin, perseroan mencatatkan penjualan Rp 8,7 triliun atau meleset dari target awal Rp 9 triliun. Agus menjelaskan, melesetnya penjualan 2012 dari target Rp 9 triliun disebabkan terhambat soal pembebasan lahan di proyek Bandara Djuanda Surabaya. (bani)

Related posts