KS Posco Beroperasi Akhir 2013 - Pembangunan Pabrik Hampir Rampung

NERACA

Jakarta - Pabrik baja PT Krakatau Posco, perusahaan joint venture milik PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dan Pohang Iron and Steel Co (Posco), perusahaan asal Korea Selatan mulai beroperasi Desember 2013.

“Saat ini, kontruksi pembangunan pabrik Posco sudah hampir selesai dan Desember tahun ini pabrik siap beroperasi. Nantinya, pihak Krakatau Posco mencari partisipasi pengusaha lokal untuk memaksimalkan kegiatan seperti membantu finalisasi pabrik dan pemasaran,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Basis Industri Manufaktur Kemenperin, Panggah Susanto di Jakarta, akhir pekan lalu.

Pembangunan pabrik Krakatau Posco, menurut Panggah, rencananya akan dilakukan dalam dua tahap dengan total kapasitas produksi 6 juta ton per tahun. “Total investasi yang dibutuhkan untuk membangun pabrik tersebut sekitar US$6 miliar.Hasil produksi pabrik Krakatau Posco akan dialokasikan untuk pasar domestik, terutama untuk sektor industri alat berat, perkapalan dan konstruksi serta di ekspor ke Korea Selatan,” paparnya.

Pabrik Krakatau Posco, lanjut Panggah, diharapkan dapat memberi manfaat berupa penghematan devisa negara serta substitusi impor baja. “Penerimaan pajak juga akan meningkat seiring dengan penggunaan bahan baku lokal seperti batu bara, bijih besi dan bahan pendukung lainnya serta penguatan industri hilir,” ujarnya.

Proyek Patungan

Sementara itu,Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk, Irvan Kamal Hakim, mengatakan proyek pembangunan pabrik baja terpadu patungan Krakatau Steel-Pohang Iron and Steel Company (Posco) tahap I sudah mencapai 45 %. Hingga akhir 2012, pembangunan diprediksi sudah mencapai 70 %. "Pekerjaan ini sudah on the track, on time," kata Irvan.

Baik Posco maupun Krakatau Steel mengharapkan pembangunan sudah selesai tahun depan. "Targetnya akhir tahun depan sudah dapat berproduksi, dengan total kapasitas 3 juta ton," kata Irvan. Para petinggi Posco yang hadir adalah CEO Posco, Joo Yang Chung, dan Senior Executive Vice President Posco, Jung Sik Lee.

Keduanya juga didampingi Duta Besar Korea Selatan Young Sun Lee, Direktur Utama Krakatau Steel Irvan Kamal Hakim, Presiden Komisaris Krakatau Steel Zacky Anwar Makarim, Presiden Komisaris Krakatau Posco Fazwar Bujang, dan Presiden Direktur Krakatau Posco Kyung Zoon Min.

"Mereka meminta Presiden membuka dan meresmikan pabrik dengan Krakatau Steel tahun depan," kata Firmanzah, Staf Khusus Presiden bagian Ekonomi dan Pembangunan, di Bandara Sepinggan, Balikpapan.

Turut disampaikan pula komitmen menambah investasi sebanyak enam proposal dengan nilai mencapai US$ 14 miliar, atau setara Rp 133 triliun (dengan kurs Rp 9.500 per dolar AS). "Di bidang baja, Posco juga menyampaikan kemungkinan masuk ke tahap II. Tetapi, kami berpegang pada joint-venture agreement yang sudah diatur tahap II itu bagaimana memulainya, mekanismenya, ruang lingkupnya," kata Irvan.

Pada prinsipnya, Irvan menambahkan, Posco masih memegang etika menunggu tahap I selesai dan baru secara bertahap masuk ke tahap II. Total produksi antara tahap I dan II diprediksi mencapai 6 juta ton. "Selambat-lambatnya kami harus mengambil kesimpulan atas apa yang akan dibangun di tahap II itu 2015. Karena Krakatau Steel sendiri dalam hal ini harus mengembangkan dirinya. Jadi, kami berimbang," kata dia.

Terkait hal ini, berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), 4 perusahaan telah merealisasikan investasinya di sektor hilir tambang dan logam pada 2012, yakni PT Krakatau Posco, PT Indonesia Chemical Alumina, PT Ferronikel Halmahera Timur, dan PT Batulicin Steel.

Nilai investasi Krakatau Posco sebesar US$2,8 miliar untuk proyek pabrik baja tahap I dengan kapasitas 3 juta ton per tahun. Nilai investasi Indonesia Chemical Alumina mencapai US$ 450 juta untuk membangun pabrik chemical grade alumina (CGA) berkapasitas 300.000 ton per tahun di Kalimantan Barat. Sedangkan nilai invesatasi Ferronikel Halmahera Timur mencapai US$1,6 miliar di Maluku Utara untuk pembangunan pabrik berkapasitas 27.000 ton nikel per tahun dan investasi tahap I Batulicin Steel senilai US$500 juta untuk membangun pabrik baja berkapasitas 1 juta ton per tahun di Kalimantan Selatan.

Selain itu, sejumlah investor juga berminat berinvestasi di sektor industri pengolahan dan pemurnian (smelter) logam. Salah satu investor yang akan berinvestasi di sektor aluminium adalah Mubadala Development Company. Mubadala berencana membangun smelter alumina di Kalimantan Barat dengan investasi US$500 juta. Mubadala akan menggandeng PT Aneka Tambang sebagai mitra lokal.

Related posts