Truk Perkasa yang Tak Lagi Perkasa

Sesuai namanya, Perkasa, truk itu memang terlihat sangat perkasa sebagai kendaraan angkut serba guna. Truk itu dibuah oleh anak negeri yang terhimpun dalam PT Wahana Perkasa Autojaya. Perusahaan itu berada di bawah Grup Texmaco.

Pabrik itu ada di Desa Karang Mukti, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pabrik itu tidak hanya melulu membuat kendaraan angkut saja, tapi juga mampu mencetak berbagai jenis mesin perkakas. Jai pabrik itu merupakan industri hilir yang diharapkan mampu menunjang aktivitas industrialisasi di Indonesia.

Pabrik tiu diluncurkan pada pertengahan 1998. Truk Perkasa bahkan sudah mendapat pesanan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) maupun Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk kendaraan militer (ranmil) dan kendaraan taktis (rantis). Sejumlah perusahaan otomotif bahan sudah memesan dalambentuk bus. Truk dengan kandungan local sekitar 90%, demikian tutur Ben Sinivasan, direktur utama PT Wahana Perkasa Auojaya, ketika itu, memiliki performa yang terbaik.

Namun, keperkasaan truk Perkasa tak bernasib baik. Tak sesuai namanya, kini pabrik itu sudah ibarat pusat besi tua. ‘Dibangkrutkan’ oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Sebab, perusahaan itu menanggung utang besar dan pemerintah ketika itu, era Presiden Megawati Soekarnoputri enggan menyelamatkannya sebagai bagian dari aset bangsa. Padahal, aset-aset bangsa lainnya masih bis diselamatkan dan mampu menjadi industri ternama, sebut di antaranya, Bank Central Asia (BCA) sebagai industri perbankan.

Masih ada sederet lagi produk bumiputera yang nasibnya juga serupa. Sebut saja mobil nasional (mobnas).

Maleo. Mobil maleo dibidani oleh BJ Habibie saat masih menjadi Menristek pada 1996. Harganya waktu itu dipatok sangat murah, sekitar Rp 30 juta jadi sangat terjangkau, sementara mobil lainnya sudah beranjak di atas Rp 100 juta. Mesin yang berkapasitas 1200 cc, merupakan teknologi baru hasil kerja sama dengan perusahaan Australia yang menggabungkan teknologi mesin 2 tak dengan teknologi injeksi bahan bakar.

Komponen lokal maleo direncanakan diatas 80%. Dipercaya satu unit mobil sebagai contoh telah dihasilkan. Namun sayang dana untuk itu kemudian tersedot oleh proyek mobnas Timor milik Tommy Suharto anak bungsu presiden Suharto, sehingga proyek mobnas Maleo pun terhenti.

MR 90. Proyek nasionalisasi juga dilakukan PT Indomobil dengan mengeluarkan Mobil Rakyat (MR) 90, Mazda 323, dan Mazda Vantrend pada 1994.

Bakrie Beta 97 MPV. Kelompk usaha Bakrie pernah menyiapkan mobil Minibus pada tahun 1994. Modelnya minibus atau MPV, namun proyek itu lagi-lagi kesandung krisis ekonomi 1998.

Timor. Program Mobnas juga dikembangkan PT Timor Putra Nasional milik Hutomo Mandala Putra dan didukung Presiden Soeharto melalui keppres dan inpres. Model pertama yang diluncurkan adalah Timor S515. Tapi jenis itu sebetulnya merupakan modifikasi dari Sephia 1995 yang di-rebadging.

Bimantara. Adalah yang dibuat PT Bimantara milik Bambang Trihatmodjo dengan menggandeng Hyundai.

Marlip

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga tak mau kalah dnegan mengeluarkan mobil listrik dengan menggandeng PT Marlip Indo Mandiri.

Esemka. Sebelum Jokowidodo menjadi gubernur DKI Jakarta, dia sempat menggetarkan nusantara dengan mobil rancangan siswa SMK di Solo. Jalan proses menuju pabrikasinya sampai sekarang tidak jelas. Diindikasikan, ada upaya dari kalangan tertentu yang tak ingin bayi mobil itu Berjaya di negeri sendiri. (saksono)

Related posts