Ekspansi Bisnis, Nusantara Infrastructur Garap Bisnis Energi

Fokus di PowerPlant

Selasa, 26/02/2013

NERACA

Jakarta- Masih berprospeknya bisnis energi ditegah pesatnya proyek MP3EI yang tengah di gelontorkan pemerintah, menjadi alasan PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) fokus disektor energi, baik proyek energi terbarukan, baik pembangkit listrik, tenaga minihidro atau geothermal selain proyek jalan tol.

Informasinya, ada dua hingga tiga proyek pembangkit listrik tenaga minihidro pada tahun ini yang diincar perseroan dengan total kapasitas sekitar 10 - 15 megawatt. Kata Managing Director Nusantara Infrastructure, Bernadus Djonoputro, masuknya perseroan ke sektor minihidro seiring dengan strategi bisnis yang direncanakan perseroan untuk mendiversifikasi usaha ke sektor tersebut, “Sejauh ini, perseroan telah mengirim tim untuk melakukan proses evaluasi dan penjajakan greenfield development proyek tenaga listrik ramah lingkungan ke beberapa lokasi di Sumatra dan Jawa, “ujarnya.

Dijelaskan Bernadus, sektorpower plant ini merupakan bisnis keempat setelah jalan tol, pelabuhan, dan air. Dengan masuknya perseroan ke sektor energi ini, pihak manajemen menargetkan dapat memberikan kontribusi sebesar 20-30%. Sementara di tahun 2012, perseroan menggarap proyek minihidro di Sumatra dengan kapasitas sekitar 10 megawatt.

Untuk menggarap proyek ini, perseroan kabarnya telah menyiapkan dana sekitar US$30 juta. Proyeksinya, untuk mengembangkan setiap 1 megawatt pembangkit listrik tenaga minihidro ini dibutuhkan dana sekitar US$ 2 juta.

Maka untuk mendukung kinerja ke depan, baru-baru ini perseroan menyatakan akan melakukan restrukturisasi pengalihan kekayaan berupa saham-saham milik perseroan di dalam PT Bintaro Serpong Damai (BSD) dan PT Bosowa Marga Nusantara (BMN) kepada PT Margautama Nusantara (MUN). Dengan demikian, MUN menjadi anak perusahaan yang sahamnya dimiliki 99,97% oleh perseroan.

Holding Bisnis Tol

Sementara Direktur Utama META, M Ramdani Basri, transaksi tersebut dimaksudkan untuk mengantarkan MUN sebagai induk perusahaan atas anak perusahaan perseroan yang bergerak di bidang pengelolaan jalan tol. “Dengan dibuatnya sub holding jalan tol tersebut, maka saat ini META memiliki empat sub holding yakni Pelabuhan, Air, dan "Hydro Power". ujarnya.

Dengan restrukturisasi itu, pihaknya berharap akan dapat meningkatkan efisien perseroan. Di sini, PT MUN akan menjadi subholding PT BSD yang mengoperasikan ruas tol Bintaro-Serpong dan PT BMN yang mengelola ruas tol Pelabuhan Soekarno-Hatta dengan ujung barat Kota Ma-kassar. Selain itu, PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB) yang mengelola ruas tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) W1 Kebon Jeruk-Penjaringan.

Pihaknya menilai, setiap jalan tol mengalami pertumbuhan 30%. Banyaknya jumlah proyek tidak seimbang dengan jumlah perusahaan. Karena itu, prospek bisnis jalan tol di Indonesia masih bagus. Saat ini perseroan tengah menunggu hasil prakualifikasi tender atas dua ruas tol yang dilakukan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) yaitu Serpong-Balaraja dan Medan- Kualanamu, di mana dalam proses tender tersebut perseroan sudah melakukan prakualifikasi terhadap 10 perusahaan. Adapun dana yang dibutuhkan untuk pembangunan ruas tol Serpong- Balaraja sebesar Rp5 triliun, sedangkan Medan-Kualanamu mencapai US$ 500 juta.

Sepanjang tahun 2012, perseroan mencatatkan pendapatan yang belum diaudit meningkat lebih dari 15%. Sementara pendapatan sebelum audit selama 2011 sebesar Rp232 miliar atau naik sebesar 24% dibandingkan tahun sebelumnya Rp187,62 miliar.

Kinerja tersebut didukung adanya peningkatan volume lalu lintas, seperti yang terjadi pada ruas sepanjang 7,25km Bintaro-Serpong. Pada 2012 volume lalu lintas yang melalui jalan tol itu mencapai 28,99 juta kendaraan per tahun atau rata-rata 79.232 kendaraan per hari. Volume itu diperkirakan meningkat 9,2% pada 2010-2015. (lia)