Pengusaha Keluhkan Kenaikan Gas Elpiji 12 Kg

Biaya Produksi Bakal Melambung

Jumat, 22/02/2013

NERACA

Jakarta - PT. Pertamina menyatakan akan menaikan harga gas elpiji 12 kg per Maret 2013. Imbas hasil kenaikan elpiji tersebut telah timbul beberapa keluhan dari para pengusaha. Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia (APEBI) dan Asosiasi Warung Tegal (Warteg) adalah dua kumpulan pengusaha yang mengeluh dari kenaikan tersebut.

Ketua Apebi, Chris Hardijaya menyatakan keluhannya terhadap sikap Pemerintah yang membiarkan menaikkan harga elpiji 12 kilogram (kg). Hal itu lantaran memberatkan produsen sektor Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). "Rencana kenaikan elpiji 12 kg akan berdampak besar sekali bagi para pelaku usaha kecil dan menengah roti. Apalagi, awal tahun para pengusaha sudah dibebani oleh kenaikan tarif tenaga listrik (TTL)," kata Chris di Jakarta, Kamis.

UMKM roti, menurut Chris, sangat tergantung dengan gas karena untuk ovennya masih menggunakan elpiji 12 kg dan sangat boros. "Setiap hari industri roti kelas UMKM menghabiskan 3 tabung gas elpiji 12 kg. Kenaikan elpiji 12 kg sebesar Rp 25.400 dari sebelumnya Rp 70.200 menjadi Rp 95.600 sangat memberatkan industri bakery dan kami masih menghitung dan melakukan penyesuaian akibat kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP)," paparnya.

Beban biaya energi dalam cost produksi roti, lanjut Chris, mencapai 7-8% dan kenaikan harga Rp25.400 per tabung atau 35% dari sebelumnya akan menambah biaya produksi 2% dan ditambah dengan biaya energi dalam biaya produksi akan mencapai 10%. "Untuk mengantisipasi hal itu, maka para pengusaha akan melakukan penyesuaian harga 10-15%. Namun, jika pemerintah tetap menaikan harga maka keputusan tersebut bertolak belakang dari kebijakan pemerintah yang berpihak kepada para pengusaha UMKM," ujarnya.

Chris menambahkan, saat ini jumlah pengusaha roti yang tergabung dalam APEBI mencapai 1000 anggota dan 90% adalah UMKM. "Belum ada perusahaan roti skala UMKM yang gulung tikar akibat kebijakan pemerintah menaikkan TTL," tandasnya.

Pengusaha Keberatan

Di tempat terpisah, Ketua Asosiasi Warung Tegal (Warteg), Mukroni menyatakan keberatan terhadap kenaikan gas tersebut. Bahkan saat ini, pihaknya sudah menemui kesulitan untuk mendapatkan gas elpiji 12 kg. "Saat ini elpiji ukuran 12 kg mulai sulit ditemukan, ditambah harganya sudah mencapai Rp75.000 per tabungnya karena dikabarkan harganya akan naik pada awal Maret," kata Mukroni.

Pelaku usaha warteg, menurut Mukroni, meminta pemerintah bertindak tegas mengenai wacana kenaikan elpiji 12 kg. "Wacana Pertamina dan pembiaran pemerintah untuk menaikkan elpiji 12 kg membuat banyak pihak-pihak yang menahan stok. Sebaiknya pemerintah memberikan pernyataan resmi mengenai harga elpiji 12 kg," paparnya.

Kenaikan harga, lanjut Mukroni, akan berdampak pada langkanya gas elpiji 3 kg karena semua pelaku usaha akan berebut menggunakan gas tersebut bahkan ada yang digunakan untuk mengoplos. "Jika Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kg maka para anggotanya akan menaikkan harga jual 10% karena harga bahan pokok telah mengalami kenaikan," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menuturkan kenaikan harga elpiji 12 kg akan berdampak pada daya beli masyarakat. Pasalnya, selama ini elpiji 12 kg dikonsumsi oleh konsumen rumah tangga. Meski mengaku belum menghitung pembengkakan inflasinya, namun Enny bilang dampak ke inflasinya tidak terlalu tinggi. “Tapi kalau harga elpiji 12 kg mengalami kenaikan, itu membuat pengeluaran konsumen naik, sehingga pendapatan yang dibawa pulang menjadi berkurang," ujar Enny.

Menurut Enny, sebelum menaikkan harga elpiji, perlu dilakukan audit kerugian Pertamina apakah kerugian disebabkan karena ketidakefisienan dalam pendistribusian atau ada faktor lain.

Tutupi Kerugian

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menyatakan bahwa pada Maret mendatang, pihaknya akan menaikkan harga gas elpiji 12 kg dari harga awal mencapai Rp70.200 menjadi Rp95.600 atau ada kenaikan pertabungnya sekitar Rp25.400. Jika dipresentase, kenaikan ini sekitar 36%. Vice President LPG & Gas Products Gigih Wahyu Hari Irianto mengatakan, rencana tersebut dilakukan untuk menutupi kerugian Pertamina tahun lalu yang diperkirakan mencapai Rp 4,6 miliar. "Kalau tidak dinaikkan tahun ini, maka kerugian Pertamina dapat mencapai Rp 5 triliun," ujar Gigih.

Namun demikian, Gigih mengakui, meskipun harga gas elpiji telah dinaikkan menjadi Rp95.600 pertabung, Pertamina tetap mengalami kerugian sebesar Rp3,9 triliun. Pasalnya, rencana kenaikan tersebut hanya akan mengurangi kerugian Pertamina sebesar Rp1,1 triliun. "Apabila penyesuaian harga jual tersebut sesuai rencana maka dapat mengurangi kerugian Pertamina sebesar Rp1,1 triliun. Walaupun harga jual telah disesuaikan, Pertamina masih merugi dalam bisnis elpiji 12 kg sebesarRp 3,9 triliun," tegas dia.

Gigih menyebutkan, penjualan elpiji 12 kg tahun lalu mencapai 910.721 metrik ton (MT) dan dengan asumsi CP Aramco USD917 MT serta kursnya mencapai Rp9.384. Rencana kenaikan harga elpiji 12 kg telah diusulkan ke Kementerian BUMN. Pertamina mengaku telah mendapat persetujuan dan lampu hijau dari Menteri BUMN Dahlan Iskan.