No Compromise Untuk Efisiensi dan Transformasi

Konsistensi Pelindo Dalam Revitalisasi

Kamis, 21/02/2013

Jakarta – Banyak kesan buruk yang dialami pelaku usaha tentang distribusi barang dan bongkar buat di pelabuhan Indonesia, salah satu masalah klasik adalah soal tingginya biaya logistik yang dikeluarkan lantaran inefisiensi di pelabuhan. Dampak, inefisiensi pelabuhan yang dipicu rendahnya produktivitas bongkar muat telah memaksa kapal bersandar lebih lama dan ujungnya melambungkan tarif harga barang yang kemudian dibebankan kepada konsumen.

Selama ini waktu tunggu barang (dwelling time) di pelabuhan Indonesia tergolong lama. Di Tanjung Priok, barang yang sampai ke pelabuhan hingga keluar lagi dari pelabuhan memerlukan waktu 5,5 hari. Bandingkan dengan waktu tunggu di pelabuhan Jepang hanya 3,1 hari. Sementara Belanda hanya membutuhkan waktu 1,1 hari, Amerika 1,2 hari dan Singapura 1,0 hari.

Selain itu, biaya yang dikeluarkan untuk melakukan proses ekspor impor di Indonesia masih terbilang tinggi sekitar 24% dari GDP, sementara Malaysia hanya 15% dan Jepang 10%. Tingginya biaya logistik Indonesia sebesar 30% dari total biaya produksi yang harus dikeluarkan pengusaha bertolak belakang dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, sebut saja Filipina biaya logistiknya hanya 7%, Malaysia 8%, Singapura 6%, bahkan Jepang biaya logistiknya hanya 5% dari total biaya produksi.

Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena menyebabkan daya saing industri dalam negeri tertinggal dengan negara tetangga. Merespon masalah ini, Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo II) Richard Joost Lino mengatakan, pihaknya akan terus melakukan transformasi guna menghilangkan inefisiensi dengan melakukan modernisasi dan revitalisasi pelabuhan, “Kami menyadari Pelindo sebagai operator pelabuhan, memegang peranan penting dalam rantai logistik Indonesia. Oleh karena itu, kami harus bergerak lebih cepat, efektif, dan efisien dalam melayani kebutuhan para pelanggan atau pengguna jasa kepelabuhanan,"ujarnya.

Modernisasi Pelabuhan

Semangat baru Pelindo II dalam transformasi, tidak hanya sebatas ganti logo baru Indonesian Port Corp (IPC) guna mendorong sektor perdagangan dan efisiensi biaya logistik tetapi juga telah memulai implementasi sistem tracking and tracing di pelabuhan yang di kelola. Dimana sistem ini memudahkan pemilik barang dalam mengetahui informasi pengurusan barang secara real time dan akan mengefisiensikan sistem logistik di Indonesia.

Selain itu, Pelindo II juga tengah membentuk main-sea corridor atau National Pendulum untuk terciptanya sistem logistik terintegrasi. "Sistem ini akan memungkinkan distribusi barang dalam jumlah lebih banyak dengan kapal berkapasitas besar dalam waktu yang lebih singkat, sehingga mampu memeratakan pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah di Indonesia,"kata Direktur Personalia dan Umum Pelindo II Cipto Pramono.

Nantinya, koridor ini direncanakan melibatkan Pelabuhan Tanjung Priok, Belawan, Batam, Makassar dan Sorong sebagai pelabuhan utama untuk wilayah dari barat hingga timur Indonesia. Tidak hanya itu, Pelindo II sudah mengubah pola bongkar muat barang di pelabuhan menggunakan container crane dari sebelumnya bongkar muat barang dari kapal menggunakan derek kapal.

Pelindo II juga berupaya mendorong perubahan kemasan bongkar-muat barang dengan menggunakan peti kemas atau jumbo bag. Kondisi pelabuhan Teluk Bayur yang biasanya dalam waktu sejam hanya mampu melakukan bongkar muat sekitar 30 ton dengan pola kemasan lama. Sedangan, jika yang digunakan adalah jumbo bag kapasitas bongkar-muat bisa mencapai 60 ton per jam. Diharapkan strategi ini dapat meningkatan efektivitas waktu layanan menjadi 80%.

Selain itu, Pelindo II juga tidak lagi mengizinkan pembongkaran Crude Palm Oil (CPO) menggunakan truck loosing. Melainkan harus melalui tangki-tangki di dalam pelabuhan terlebih dulu baru kemudian didistribusikan. Tentunya, dengan perubahan pola kemasan itu diharapkan kegiatan bongkar-muat bisa mencapai 70 ton per jam yang sebelumnya hanya 45 ton per jam. Disamping itu, Pelindo II sudah mulai mengoperasikan layanan kapal pandu dan tunda demi meningkatkan keselamatan kapal dan barang yang masuk dan keluar pelabuhan.

Terapkan Sistem ICT

Modernisasi dan revitalisasi Pelindo tidak hanya meremajakan alat-alat di pelabuhan, seperti crane yang sudah tua. Tetapi juga menerapkan sistem Information Communication Technology (ICT) berbasis web secara online di seluruh cabang Pelindo. Lewat ICT ini, seluruh tahapan pelayanan mulai dari permintaan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga sistem pembayaran dapat direncanakan dan dikontrol melalui suatu sistem yang terintegrasi.

Manfaat utama sistem ICT adalah memangkas ongkos logistik yang tinggi dan bisa memonitor keberadaan barang. Karena selama ini, sistem tracking masih dilakukan sendiri-sendiri dan belum terintegrasi sehingga menyulitkan para pemain untuk memonitor sampai dimana aliran barangnya, “Adanya sistem terintegrasi online akan mempermudah akses bila ingin memesan barang atau yang lainnya, karena cukup lewat internet saja sudah bisa mendapatkan kepastian kapan kargo bisa diantar atau ada space tidak hari ini,”kata Dirut Pelindo II Richard Joost Lino.

Mengaplikasikan sistem ICT dengan investasi Rp 150 miliar, tidakkah dilihat sebatas nilai angka tetapi jawaban Pelindo terhadap tuntutan untuk memangkas biaya mahal logistik dan distribusi barang. Langkah ini dinilai akan mendatangkan nilai ekonomis yang jauh lebih mahal karena mampu meningkatkan efisiensi, mengurangi waktu tunggu dan biaya mahal bongkar muat kapal.

Tingkatkan Mutu SDM

Transformasi Pelindo tidak bisa dipisahkan dengan pengembangan SDM menuju tenaga professional. Karena secara organisastoris, peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) Pelindo menjadi kunci utama menggerakkan roda perusahaan.

Sebagai bentuk pengembangan SDM, Pelindo bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengadakan program pendidikan, penelitian, pelatihan bidang perencanaan dan manajemen operasional kepelabuhanan dan logistik, material handling equipment, perkapalan, rekayasa pantai, serta pengimplementasian program corporate social responsibility (CSR).

Kerja sama ini dirancang untuk memberikan pelayanan jasa kepelabuhanan yang terbaik melalui berbagai inovasi dan pembangunan, termasuk peningkatan sumber daya manusia di internal perusahaan. “Perusahaan berkomitmen untuk selalu memfasilitasi para karyawan IPC mengembangkan ilmu yang sesuai dengan standar layanan kepelabuhanan internasional,” ujar Richard J Lino.

Maka diharapkan dengan peningkatan mutu SDM akan menjadikan Pelindo makin berproduktif menghadapi persaingan ketat perdagangan bebas dan bila semuanya sudah terpenuhi, pada akhirnya transformasi Pelindo akan membuahkan hasil dan bisa menuju world class company.