Danai Capex, Garuda Rencanakan Rights Issue 10%

Kamis, 21/02/2013

NERACA

Jakarta – Dalam rangka memperkuat armada, PT Garuda Indonesia Tbk berencana menerbitkan saham baru atau rights issue hingga 10%. Nantinya, dana hasil dari penerbitan rights issue selain digunakan untuk menambah armada juga memenuhi belanja modal yang dianggarkan US$ 400 juta di tahun 2013.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Emirsyah Satar mengatakan, rencana penerbitan rights issue masih dikaji dan tentunya harus mendapatkan persetujuan dari Kementerian BUMN, “Rencana penerbitan saham terbatas atau right issue, bagian pendanaan belanja modal selain pinjaman bank dan menerbitkan obligasi,”katanya di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, penerbitan saham terbatas sesuai adalah agenda yang sudah direncanakan lama. Pasalnya, Garuda saat penjualan saham perdana kepada public atau IPO tahun 2011 baru melepas 30%. Padahal, sesuai izin pemegang saham untuk melaksanakan pelepasan saham ke publik 40%. Artinya, masih ada ruang untuk kembali menerbitkan saham terbatas 10%.

Asal tahu saja, pada saat IPO di tahun 2011, Garuda meraup dana masyarakat sekitar

Rp3,3 triliun atau sebesar Rp3,01 triliun di antaranya untuk penambahan armada berkelanjutan, dan selebihnya untuk pengembangan layanan usaha.

Terbitkan Obligasi

Meski demikian, Emirsyah tidak merinci lebih detil soal aksi korporasi tersebut, karena masih dalam tahap perencanaan. Selain right issue, Garuda juga melirik kemungkinan menerbitkan obligasi senilai US$ 200 juta yang diproyeksikan pada semester I 2013, “Kami sedang mencari underwriter (penjamin emisi), kemungkinan dari perusahaan sekuritas BUMN," ujarnya.

Surat utang tersebut, direncanakan diterbitkan dalam denominasi dolar AS dan rupiah, yakni masing setara US$ 100 juta. Kinerja operasional pada 2015, Garuda Indonesia menargetkan penambahan pesawat hingga 194 dengan rincian 144 pesawat Garuda dan 50 Citilink.

Sebelumnya, perusahaan investasi Citi Indonesia memberikan fasilitas kredit sindikasi kepada Garuda Indonesia sebagai upaya pengembangan rencana Garuda. Pemberian fasilitas tersebut semula hanya bernilai US$ 75 juta menjadi US$ 120 juta dengaan jangka waktu dua tahun.

Terkait dengan rencana IPO dari anak usaha, Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia, kata Emirsyah menuturkan, perseroan belum melaporkan rencana tersebut kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara (KBUMN) selaku kuasa pemegang saham.

Menurut informasi, Garuda menggunakan Mandiri Sekuritas untuk menangani rencana IPO GMF tersebut.. Secara terpisah, EVP Corporate Communication Mandiri Sekuritas Febriati Nadira mengakui perseroan tengah melakukan kajian lanjutan untuk GMF, “Memang pekerjaan yang kemarin sudah selesai. Sekarang sedang dilanjutkan kembali,”tandasnya. (iqbal)