Mulai Maret, Harga Gas Elpiji 12 Kg Naik 36%

Kamis, 21/02/2013

NERACA

Jakarta - PT Pertamina (Persero) menyatakan bahwa pada Maret mendatang, pihaknya akan menaikkan harga gas elpiji 12 kg dari harga awal mencapai Rp70.200 menjadi Rp95.600 atau ada kenaikan pertabungnya sekitar Rp25.400. Jika dipresentase, kenaikan ini sekitar 36%.

Vice President LPG & Gas Products Gigih Wahyu Hari Irianto mengatakan, rencana tersebut dilakukan untuk menutupi kerugian Pertamina tahun lalu yang diperkirakan mencapai Rp 4,6 miliar. "Kalau tidak dinaikkan tahun ini, maka kerugian Pertamina dapat mencapai Rp 5 triliun," ujar Gigih di Jakarta, Rabu (20/2).

Namun demikian, Gigih mengakui, meskipun harga gas elpiji telah dinaikkan menjadi Rp95.600 pertabung, Pertamina tetap mengalami kerugian sebesar Rp3,9 triliun. Pasalnya, rencana kenaikan tersebut hanya akan mengurangi kerugian Pertamina sebesar Rp1,1 triliun. "Apabila penyesuaian harga jual tersebut sesuai rencana maka dapat mengurangi kerugian Pertamina sebesar Rp1,1 triliun. Walaupun harga jual telah disesuaikan, Pertamina masih merugi dalam bisnis elpiji 12 kg sebesarRp 3,9 triliun," tegas dia.

Gigih menyebutkan, penjualan elpiji 12 kg tahun lalu mencapai 910.721 metrik ton (MT) dan dengan asumsi CP Aramco USD917 MT serta kursnya mencapai Rp9.384. Rencana kenaikan harga elpiji 12 kg telah diusulkan ke Kementerian BUMN. Pertamina mengaku telah mendapat persetujuan dan lampu hijau dari Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Pindah ke Gas 3 Kg

Kenaikan gas elpiji mendapat penolakan dari Anggota DPR Komisi VII Ismiyatun. Ia menganggap bahwa dengan kanaikan gas elpiji 12 kg ini berdampak besar karena ada multiplayer efek. Ismayatun menambahkan, DPR memang tidak berwenang mencegah Pertamina menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram. Namun, dia melanjutkan, masyarakat sudah cukup terbebani dengan kenaikan tarif dasar listrik. "Kenaikan tarif listrik saja sudah memicu kenaikan harga barang lainnya," ujarnya.

Dia mengingatkan pengguna gas elpiji 12 kilogram kebanyakan bisa jadi berasal dari kalangan pengusaha menengah. "Jadi kalau listrik naik, gas juga naik, ya babak belur," ucapnya. Ismayatun menambahkan, kenaikan harga gas elpiji 12 kilogram juga bisa memicu kelangkaan suplai gas elpiji 3 kilogram. Pasalnya, pengoplosan gas ke tabung epiji 12 kilogram akan semakin marak karena harganya jauh lebih mahal.

Kendati Pertamina merugi sampai Rp 4,6 triliun pada tahun 2012 dari penjualan gas elpiji 12 kilogram, Ismayatun menilai keuntungan Pertamina dari bisnis-bisnis lainnya masih terbilang besar. "Bisa disubsidi silang. Dari eksplorasi, pipanisasi, pemasaran pelumas, itu bisnis tidak akan mati," ucapnya. Ia mengingatkan, sejauh ini, deviden Pertamina terbesar di antara BUMN lainnya.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) khawatir jika Pertamina tahun depan betul-betul menaikkan harga jual gas elpiji 12 kilo gram (Kg) Rp1.000/Kg. "Boleh saja dinaikkan, karena itu komoditas milik Pertamina," kata Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi. Namun efeknya harus diingat. Kenaikan harga gas elpiji 12 Kg nanti, menurutnya, akan mempertinggi jurang disparitas (selisih harga) gas elpiji 3 Kg.

Tingginya selisih harga jual gas elpiji 12 Kg dengan 3 Kg dikhawatirkan akan menimbulkan potensi terjadinya pengoplosan sangat besar. Disamping itu juga akan terjadi migrasi (peralihan) konsumsi dari gas elpiji 12 Kg ke 3 Kg. "Kalau ini yg terjadi. Yang rugi juga Pertamina dan pemerintah,” jelasnya. Tapi kalau harga gas elpiji 12 Kg tetap mau dinaikkan juga, Tulus meminta agar pemerintah melakukan pasar gas elpiji 3 Kg harus tertutup. “Ini untuk mengantipasi migrasi dari gas elpiji 12 Kg ke 3 Kg," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Ia mengatakan pemerintah tidak serta merta menyetujui rencana PT Pertamina menaikkan harga jual gas LPG 12 kg tahun depan. Pertimbangannya, daya beli masyarakat akan terpukul. Sebab, pada tahun depan juga diberlakukan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL).

Menurut dia, daya beli masyarakat perlu dijaga sebagai salah satu andalan pertumbuhan di tengah krisis dunia yang semakin tidak pasti. "Listrik sudah naik. Jadi jangan sampai dalam waktu bersamaan kita melakukan sesuatu yang mengakibatkan masyarakat tidak kuat. Kita lihat dulu," ujarnya.

Pemerintah, kata Hatta, akan melakukan kajian terlebih dahulu terhadap kinerja keuangan PT Pertamina sebelum membuat keputusan. Sebab, dasar pertimbangan Pertamina menaikkan harga gas 12 Kg karena selalu mengalami kerugian yang terus dari kegiatan produksi dan penyaluran bahan bakar gas.

Hatta menegaskan, pemerintah tidak ingin mengeluarkan kebijakan yang berakibat timbulnya gejolak perekonomian nasional. "Kita lihat juga cash flow Pertamina, defisitnya dia. Jadi hal-hal seperti ini harus dihitung baik," tuturnya. Hatta menambahkan daya beli masyarakat harus menjadi prioritas untuk dijaga. "Kita pikirkan (rencana kenaikan). Kita tidak serta merta menyetujui," ucapnya.