Awal Semester, Perusahaan Perkebunan Bakal Semarakkan IPO

Kamis, 21/02/2013

NERACA

Jakarta- Meski harga komoditas untuk Crude Palm Oil (CPO) belum mengalami perbaikan yang cukup signifikan, tidak menyurutkan minat perusahaan di industri tersebut untuk melakukan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/CPO) di tahun 2013. “Harga CPO masih cukup bagus sehingga akan banyak perusahaan perkebunan melakukan IPO, meskipun secara indeks sementara ini turun,” kata Direktur Penilaian PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Hoesen di Jakarta, Rabu (20/2).

Menurut Hoesen, saat ini pihaknya mencatat ada dua perusahaan perkebunan yang telah melakukan mini expose dan berencana mencatatkan sahamnya (listing) di bursa efek pada akhir Juni 2013. Kedua calon emiten tersebut akan melakukan penawaran global (global offering) dengan nilai masing-masing di atas Rp 1 triliun dan memiliki aset cukup besar. Salah satunya yaitu perusahaan yang memiliki jumlah aset sekitar US$ 300 juta.

Dalam pelaksanaan pencatatan sahamnya di bursa efek, lanjut Hoesen, perusahaan tersebut berencana melepas 20% sahamnya ke publik. Namun, sejauh ini belum dapat dikemukakan secara detail terkait rencana pelepasan sahamnya. Yang jelas, perusahaan telah menunjuk PT Bahana Securities sebagai penjamin emisi dalam pelaksanaan IPO tersebut.

Sementara untuk perusahaan perkebunan lainnya, kata Hoesen, tercatat memiliki total nilai aset lebih dari US$500 juta dan akan melepas sekitar 20% sahamnya ke publik. Sebagai penjamin emisi dalam pencatatan sahamnya, perusahaan telah menunjuk PT Ciptadana Securities.

Menjadi Sentimen Penggerak

Analis saham PT Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, peningkatan harga CPO, meskipun secara nilainya tidak bergerak signifikan, akan menjadi sentimen penggerak untuk kinerja saham emiten-emiten yang tercatat memiliki bisnis pada industri tersebut. “Yang dilihat pelaku pasar dan dijadikan patokan adalah harga kontrak CPO, tidak melihat riil di lapangan seperti apa.” jelasnya.

Selain harga yang dicatatkan CPO, lanjut Reza sejauh ini prospek industri tersebut masih cukup positif karena didukung dengan produksi CPO yang dapat diolah menjadi produk konsumer. Karena itu, masih akan tertolong oleh adanya sentimen kenaikan tingkat konsumsi. Berbeda dengan sektor pertambangan yang rentan dipengaruhi isu global.

Dia menilai, dari sisi valuasi saham yang dicatatkan oleh emiten-emiten yang bergerak pada industri tersebut terbilang masih rendah dan belum ada tanda-tanda reversal. Beberapa emiten pun tercatat mengalami tekanan kinerja pada kuartal ketiga tahun lalu, di mana perolehan laba di tahun 2012, lebih rendah dari tahun 2011.

Sekadar catatan, beberapa emiten yang mencatatkan sahamnya di bursa efek, antara lain, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) dan PT BW Plantation Tbk (BWPT). Hingga kuartal ketiga 2012, SMAR mencatatkan laba bersih mengalami peningkatan sebesar 6,4%, atau menjadi Rp1,58 triliun dari Rp1,49 triliun pada tahun lalu. Meski demikian, pendapatan usaha perseroan turun sekitar 11,5% menjadi Rp21,023 triliun dari Rp23,762 triliun.

Perseroan mencatat, penjualan domestik produk kelapa sawit mengalami peningkatan menjadi Rp834,03 miliar dari Rp3,89 triliun, sedang untuk penjualan ekspor mengalami penurunan dari Rp18,23 triliun menjadi Rp12,09 triliun. Menurunnya penjualan ekspor ini memotong beban pajak ekspor menjadi Rp1,41 triliun, dari nominal periode tahun sebelumnya Rp3,30 triliun.

Sementara untuk BWPT, mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 5,5% atau menjadi Rp222,17 dari Rp235,17 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Adapun marjin laba bersih turun dari 35,6% menjadi 29,1%.

Meskipun demikian, pihak manajemen optimistis ke depan bisnis perkebunan masih akan tumbuh positif dengan harapan produksi dan penjualan crude palm oil (CPO) dapat mengalami peningkatan sekitar 25%.

Hal tersebut didasarkan pada perkembangan sejumlah tanaman yang sudah mature pada tahun depan. Selain itu, secara jangka panjang permintaan terhadap bahan baku kelapa sawit masih mencatatkan permintaan yang cukup besar. (lia)