Kejar Target, Mansek Incar Penjaminan Emisi Obligasi

NERACA

Jakarta- PT Mandiri Sekuritas (Mansek) optimistis dapat mencapai target penjaminan emisi senilai Rp12 triliun. Untuk mencapai target tersebut, perusahaan mengincar 10 penjaminan emisi untuk pelaksanaan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) dan 20 penjaminan emisi obligasi. "Untuk target penjaminan emisi 2013, 10 IPO dan 20 obligasi." kata Executive Vice President Corporate Communication Mandiri Sekuritas, Febriati Nadira, di Jakarta, Selasa (18/2)

Dia mengatakan, hingga kini pihaknya telah melaksanakan tiga penjaminan obligasi dan satu penjaminan emisi untuk pelaksanaan IPO. Ketiga obligasi yang dijamin perusahaan adalah obligasi ASF, OCBC NISP, dan saat ini yang masih dalam tahap proses yaitu obligasi PT Pembangunan Perumahan Tbk (PT PP).

Sementara untuk penjaminan emisi pelaksanaan IPO, yaitu PT Dyandra Media International Tbk (DMI). Pihaknya menilai, kondisi fundamental perekonomian Indonesia yang saat ini mampu bertumbuh diatas 6% menjadi salah satu sentimen positif bagi perkembangan investasi di Indonesia, baik untuk pasar IPO maupun obligasi di tahun 2013. Karena itu, pihaknya optimistis akan mampu mencapai nilai yang ditargetkan perusahaan.

Sepanjang tahun 2012, perusahaan mencatat telah melakukan penjaminan emisi Rp 11,46 triliun. Angka tersebut terdiri dari pelaksanaan IPO senilai Rp 1,683 triliun (dari 6 perusahaan) dan surat utang Rp 9,416 triliun (dari 26 perusahaan), serta rights issue Bank Tabungan Negara dengan porsi penjaminan Rp 357,25 miliar.

Sementara penjaminan emisi efek yang ditangani Mandiri Sekuritas tersebut antara lain, emisi obligasi Astra Sedaya Finance, Indosat, Medco Energy, Bank Permata . Lalu, IPO Bank Jatim, Express Transindo Utama, dan Wismilak. Serta privatisasi Waskita Karya dan issue Bank BTN.

Pengamat obligasi dari PT Penilai Efek Indonesia, Fakhrul Aufa pernah bilang, untuk tahun 2013, prospek penerbitan obligasi masih cukup positif. Proyeksi pertumbuhan obligasi di tahun ini ditaksir akan mencapai sekitar 20-25%. Meskipun demikian, investor tampaknya akan hati-hati menyusul tingkat inflasi yang sepertinya akan mengalami kenaikan dengan adanya rencana kenaikan tarif dasar listrik dan upah minimum. Hal tersebut tentu dapat mendorong kenaikan BI rate dan inflasi sehingga akan berdampak negatif bagi pasar. (lia)

BERITA TERKAIT

Investor Ritel di Pasar Obligasi Masih Minim

NERACA Jakarta – Tren pertumbuhan obligasi yang terus meningkat tidak diiringi dengan pertumbuhan investor ritel yang berinvestasi di pasar obligasi.…

BIROKRASI KURANG RAMAH HAMBAT INVESTASI - Istana Tak Terobsesi Kejar Pertumbuhan Tinggi

Jakarta-Istana Kepresidenan menyatakan pemerintah tak terobsesi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi selangit di tengah situasi ekonomi global yang sedang melambat seperti…

Jokowi : "Saya Akan Kejar Pelaku Pungli!"

  Oleh : Muhammad Ridwan, Pengamat Sosial dan Politik   Dalam pidatonya pada acara Visi Indonesia, Presiden Republik Indonesia Joko…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perluas Inklusi Keuangan Lewat Inovasi Layanan Kekinian

Istilah fintech (Financial Technology)  kini bukan hal yang asing didengar seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri digital saat ini. Bergerak dinamis perubahan industri…

Bantah Kendalikan Harga Saham - Bliss Properti Siap Tempuh Jalur Hukum

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA) angkat bicara soal tuduhan soal mengendalikan harga saham yang…

Alokasikan Dana Rp 1,2 Triliun - Tower Bersama Buyback 110,94 Juta Saham

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan harga saham di pasar, beberapa perusahaan masih mengandalkan aksi korporasi buyback saham. Hal inilah yang…