PNM Venture Capital Dukung Industri UKM Kreatif

Selasa, 19/02/2013

NERACA

Bandung – PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM mendorong sektor usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia, khususnya industri kreatif, untuk terus tumbuh melalui dukungan permodalan dan jasa manajemen dengan sistem modal ventura.

“Pola modal ventura ini dinilai efektif dan strategis untuk mengembangkan UKM industri kreatif yang nantinya bisa memiliki daya saing. Untuk itu, hal ini akan dilakukan oleh anak usaha perseroan yakni PNM Venture Capital (VC),” tutur Parman Nataatmadja, Direktur Utama PNM, dalam pers rilisnya kepada Neraca, Senin (18/2).

Kemudian, Parman mengatakan bahwa industri kreatif merupakan sebuah sub-sektor industri baru dari ekonomi global yang berkembang pesat di berbagai negara. Sebagian besar menyentuh dan berkaitan dengan wirausaha kelompok mikro, kecil dan menengah (UMKM) baik barang maupun jasa.

“Segmen industri kreatif yang dikembangkan dalam program ini mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) No.06/2009, dimana terdapat 15 sektor industri, yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video, film, dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi dan radio, serta riset dan pengembangan,” katanya.

Dalam pengembangan program ini, ujar Parman, pihaknya akan tetap menghargai kekayaan intelektual sebagai basis dari industri kreatif. “Kami sangat mendukung program pemerintah dalam pengembangan industri kreatif dengan meningkatkan daya saing UKM industri kreatif. Namun demikian, dukungan PNM ini tetap melalui pendekatan bisnis karena sebagai BUMN kita tetap dituntut untuk profit,” ucapnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PNM VC, Iwan Ridwan, menerangkan bahwa program pengembangan UKM industri kreatif ini merupakan salah satu strategi bisnis PNM VC untuk memperluas pangsa pasarnya dengan menyasar pengusaha kecil dan menengah industri kreatif melalui pola modal ventura.

PNM VC akan menawarkan beberapa skema bagi para nasabahnya atau PPU (Perusahaan Pasangan Usaha), yaitu penyertaan saham, obligasi konversi dan pembiayaan bagi hasil terkelola. Pada penyertaan saham, perseroan ini akan masuk sebagai pemegang saham bersama-sama dengan PPU sebagai mitra usaha, dan kepemilikan saham ini memiliki tenor 10 tahun.

“Jika sebelum batas waktu itu usaha PPU sudah tumbuh besar dan mandiri, ya kami bisa lepas. Sehingga, tidak ada keinginan untuk mengambil alih usaha tersebut, sehingga porsi saham harus seimbang antara pelaku UKM dengan kami,” tuturnya.

Sebagai pemegang saham, tambah Iwan, pihaknya memiliki kewajiban untuk mengembangkan usaha tersebut melalui pendampingan, membantu manajemen, hingga pemasaran. Hal seperti ini tidak bisa dilakukan oleh perbankan.

Sementara itu, PPU tersebut harus sudah berbadan hukum. Namun, apabila mereka belum memiliki badan hukum, skema pembiayaan bagi hasil terkelola menjadi pilihan. Nilai plafon pembiayaan sekitar Rp200 juta hingga Rp3 miliar. Pada skema ini, nasabah UKM tetap memperoleh pendampingan dan bantuan lainnya, dengan model profit sharing atau revenue sharing.

“Pendanaan pola modal ventura tidak berbenturan dengan pembiayaan perbankan, karena modal ventura memiliki segmentasi pasar yang sangat berbeda dengan perbankan,” tegasnya.

Adapun, untuk pola obligasi konversi, PNM VC akan membeli surat utang obligasi yang diterbitkan PPU. Selanjutnya, setelah obligasi itu jatuh tempo ada opsi PNM untuk mengonversi obligasi tersebut menjadi penyertaan.

Lalu juga akan memberikan pendampingan bagi pelaku usaha yang memiliki produk barang atau jasa yang siap dikomersialisasikan, tetapi masih terkendala masalah pendanaan. Segmentasi pasar bagi perusahaan modal ventura memang perusahaan startup yang siap dikomersialisasi, atau perusahaan dengan peluang besar tetapi kurang jaminan, atau juga perusahaan yang lama usahanya belum memenuhi ketentuan perbankan.

Terkait program tersebut, PNM VC dalam waktu dekat ini akan menjaring pelaku UKM industri kreatif di empat kota besar yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali. Pasalnya, kota-kota ini sangat terkenal sebagai pusat industri kreatif.

“Setelah melakukan penjajakan dan menjaring calon PPU di Jakarta bulan lalu, kini giliran di Bandung. Seperti di Jakarta, kami pun sangat optimistis mendapat respons positif di Bandung sabagai kota kreatif. Kegiatan ini didahului dengan gathering sosialisasi yang diselenggarakan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar. Bagi UKM dari Bandung, pengajuan aplikasi untuk program ini ditunggu hingga 22 Februari 2013,” pungkasnya. [ria]

Topik Terkait

venture capital ukm