OJK Dorong Penerbitan Instrumen Investasi

Cegah Capital Outflow

Jumat, 15/02/2013

NERACA

Jakarta- Tingginya aliran dana asing (capital inflow) yang masuk ke pasar modal selama ini dinilai akan menyebabkan pasar saham rentan terhadap terjadinya collaps. Karena itu, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan berupaya mendorong peran investor domestik yang selama ini tidak lebih besar dari asing, “Kita akan mendorong produk-produk atau instrumen investasi, seperti emisi obligasi ataupun saham dan memberikan peluang kepada investor ritel.”kata Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Rahmat Waluyanto di Jakarta, Kamis (14/2).

Dia mengatakan, meski pertimbangan keluarnya pihak asing dari pasar modal tidak dalam waktu dekat. Namun, diperlukan upaya untuk mengembangkan pasar modal. Salah satunya dengan mengefektifkan Investor Protection Fund (IPF) dan menjaga pasar modal dalam sentimen positif. Selain itu, perlu ada upaya untuk menjaga fundamental perekonomian Indonesia sehingga diperlukan koordinasi antarpihak otoritas.

Dia mengakui, sejauh ini peranan asing yang notabene merupakan pemodal yang cukup besar masih diperlukan. Selain itu, mereka juga memiliki peranan dalam menggerakkan pasar sekunder. “Net buy di pasar sun, juga tinggi. Para investor saat ini cenderung hindari AS (Amerika Serikat) karena yield belum sesuai yang diharapkan sehingga dananya dialihkan ke negara berkembang.” paparnya.

Terkait menarik investor pasar modal, Analis Saham, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, permasalahan hukum menjadi salah satu kendala utama pertumbuhan pasar modal selama ini. Pada prinsipnya Indonesia merupakan negara berkembang dan memiliki potensi yang cukup tinggi bagi pertumbuhan investasi. Di dalam negeri, dari populasi Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, jumlah investor saham di pasar modal Indonesia baru ada sekitar 400 ribu rekening.

Gandeng Perbankan

Dengan terbentuknya OJK, yang merupakan payung dari peraturan industri keuangan, menurut Lucky, upaya menggandeng pihak perbankan untuk menggaet para debitur guna meramaikan pasar modal menjadi terobosan yang cukup positif. Hal tersebut dengan catatan jika pihak otoritas mampu menciptakan perubahan yang berarti dan segala bentuk peraturan terintegrasi dengan hukum yang berlaku. “Jika OJK senantiasa memberikan suatu pembaharuan dan perubahan ke depan. Ini menjadi terobosan yang positif.” ujarnya.

Di samping itu, lanjut Lucky, perlu adanya penguatan aksi korporasi oleh emiten-emiten yang tercatatkan di lantai bursa. Dengan sejumlah aksi korporasi akan dapat menambah keyakinan kepada para investor, khususnya pemodal besar untuk membeli saham atau melakukan kegiatan transaksi di pasar modal. Hal tersebut juga dapat menarik pertumbuhan aliran dana asing (capital inflow) di pasar modal. “Pertumbuhan inflow saat ini menguat namun lambat.” ujarnya

Dia menambahkan, hal yang perlu diapresiasi yaitu ekspansi yang dilakukan para emiten tersebut, yang secara tidak langsung mendorong pertumbuhan nilai kapitalisasi pasar. Dari sektor perbankan misalnya, Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang tercatat memiliki nilai kapitalisasi cukup besar disertai pengembangan usaha, yaitu dengan memperluas cabang dan sub unit bisnis, seperti BCA finance, ACA insurance mampu mendapatkan respon pasar yang cukup tinggi. Adanya pertumbuhan market size tersebut tercermin dari tingkat likuiditas dan arus transaksional yang kian tumbuh.

Hal senada juga diungkapkan analis PT Trust Securities, Reza Priyambada. Menurut dia, langkah penting yang perlu dilakukan dalam pengembangan dan pendalaman pasar modal, yaitu mematangkan sejumlah aturan main yang diperlukan dan diimplementasikan secara konkret. ”Intinya, mereka matangkan dahulu aturan mainnya lalu sosialisasikan dengan pelaku pasar. Setelah semua sepakat baru jadikan itu peraturan yang harus dijalankan dengan tegas.” ujarnya.

Sementara Direktur Utama BEI Ito Warsito pernah bilang, investor asing yang masih menempatkan dananya di pasar modal domestik menunjukan kepercayaan terhadap industri yang masih positif. “Sepanjang 2013 ini asing membukukan beli bersih di pasar saham domestik lebih dari Rp5 triliun, berarti ada kepercayaan dari asing untuk terus berinvestasi di Indonesia,”tandasnya. (lia)